Langsung ke konten utama

TGH. ABDILLAH BERHARAP WAFAT SEBELUM GURUNYA WAFAT

Oleh : Al-Ustadz M. Syamsul Wathani, QH

Awal April 1984 Mispalah berduka. Banyak jamaah lintas desa, dusun, bahkan kabupaten kehilangan Tuan Guru atau tokoh agama terkemuka yang mereka cintai sosoknya. Beliau adalah Tgh. Abdillah Ibrahim, pendiri Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya Lombok Tengah. Tuan Guru Mispalah generasi pertama ini dipanggil ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa. Seorang figur tokoh yang pandai bergaul dan tangkas beretorika. Orasi dakwahnya handal. Bagi murid bahkan gurunya, beliau adalah jawara dalam dakwah dan teladan dalam berprilaku. Dakwahnya melintasi kabupaten se pulau Lombok. Mulai dari Kampung Mispalah hingga menyisir Bayan Lombok Utara sampai Jerowaru dan Keruak di Lombok bagian selatan. Dari Kuripan dan Gerung di Barat hingga Terara dan Sikur di Lombok Timur. Padahal, pada masa itu, alat trasnportasi tidak seperti hari ini, namun jam terbang beliau luar biasa. Beliau datangi dan penuhi undangan para jamaah yang haus akan siraman qolbu dan nutrisi bagi rohani.
Maulanasyaikh M. Zainuddin
TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid adalah figur yang banyak berjasa dalam perjalanan dakwah beliau. dalam beragam kesempatan dan majelis dakwah Hamzanwadi yang beliau bina, maulanasyaikh banyak meminta Tgh. Abdillah menjadi pengiring beliau. Beliau ditugaskan memberi pengantar pengajian. Jika berhalangan, Tgh Mispalah yang humoris inilah yang menjadi badalnya. 
Bahkan dalam sejarah pendirian pondok pesantren Darul Muhajirin Praya pimpinan Tgh. Najamuddin, Tgh. Mispalah kerap diminta memobilisasi masyarakat untuk diminta kontribusi moril dan materil mereka. Beliau punya andil yang tidak sedikit dalam merintis Ponpes Darul Muhajirin yang dulunya bernaung di bawah Organisasi NW itu.  
Takdir berkata lain. Dalam usia relatif singkat, 54 Tahun, beliau menyudahi pengabdiannya kepada ummat. Para guru, murid, dan pecintanya harus mengikhlaskan kepergian sang orator dakwah dari kampung MIspalah ini. beliau menghembuskan nafas terakhirnya malam Jumat di Rumah Sakit Islam Ibnu Hajar Mataram, 4 April 1984.
Pada saat Tgh Abdillah Ibrahim dimakamkan, jenazah beliau diangkat dan diarak menuju pemakaman. Ribuan manusia atau jamaah berebutan ingin mengambil bagian dari pengarakan jenazah beliau. Para jamaah rela berdesak desakan untuk sekedar mengusap jenazah beliau yang sudah mulai diangkat menuju pemakaman. Ada juga jamaah yang punya niatan yang lain yakni ada yang ingin mengambil sorban yang biasa ditaruh di atas keranda. Ada juga yang berebutan mengambil benang nilon atau benang sifat yang dipakai mengikat keranda mayyit. Entah apa maksudnya. Penutur pernah coba tanyakan pada salah seorang yang pernah dapatkan benang tersebut, katanya berharap dapat keberkahan dari sang tuan guru dll. Mungkin sampai saat ini masih ada yang menyimpan benang hasil rebutan tersebut.
Pada saat yang sama namun di lain tempat, tepatnya di luar arena areal pemakaman, banyak jamaah yang tidak bisa masuk karena ramainya. Mereka mengikuti prosesi pemakaman dari sawah-sawah sebelah barat masjid Nurul Iman Mispalah. Guru beliau, Maulanasyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid yang membaca talqin dan membaca doa. Isak tangis sang Maha guru tumpah ke bumi larut bersama jamaah karena haru ditinggal muridnya yang tulus ikhlas dan setia. Adapun Tgh. Afifuddin Adnan Mamben menyampaikan takziah mengenang kebaikan dan keistiqamahan almarhum.
Si saat saat jenazah beliau mulai dimasukkan ke liang lahadnya, keanehan terjadi, banyak jamaah yang melihat kubah masjid Mispalah naik terangkat melambung ke angkasa. Para jamaah yang melihat hal tersebut banyak yang takjub dan bengong keheranan melihat suatu hal yang langka terjadi (kisah ini penutur dapatkan langsung dari yang melihatnya).
Setelah selesai pemakaman kubah masjid Mispalah sudah ada lagi seperti biasa. Menurut hemat penutur, kemungkinan kubah yang naik itu sebenarnya bukan kubah masjid, namun para malaikat yang datang berbondong-bondong menjemput ruh kekasih Alloh swt, sebagai takzim dan kemuliaan dari Alloh swt kepada hamba-hamba-Nya yang alim sholeh. Hamba yang telah berjuang demi agama Alloh swt.
Dalam sebuah hadits Rasululloh saw menceritakan bahwa jika seseorang meninggal dunia akan ada para malaikat yang datang mengelilingi mereka dengan membawa baki atau tempat ruh si yang akan mati, ada malaikat yang berwajah putih bersih indah dan bercahaya yang membawa baki dari surga sebagai tempat ruhnya orang orang yang berjuang membela agama Alloh swt dan orang-orang alim sholeh. Ada pula malaikat yang berwajah hitam legam, beringas,  dan bengis yang membawa baki yang di dalam baki tersebut kain yang sangat kasar.  Apabila ruh orang yang meninggal dunia itu adalah orang yang berdosa, dia ditaruh pada kain tersebut. Rasanya  seperti besi yang dipanaskan lalu di taruh di atas kain, maka kain itu kain lengket pada besi itu. Kalau ditarik maka akan terkelupas. Seperti itulah ruhnya orang orang yang banyak dosanya. Kuang lebih demikian makna riwayat hadits Rasululloh Saw yang pernah kami terima.
Tgh Abdillah Ibrahim ruhnya telah dijemput oleh para malaikat Alloh swt yang membawa rahmah dan mengiringi beliau kehadirat sang Maha Pencipta, sehingga saat itu banyak jamaah yang melihat seperti kubah masjid yang naik melambung ke angkasa. Firman Alloh, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154).
Menurut kisah putra sulung beliau, TGH. M. Natsir Abdullah, MA, almarhum beberapa waktu menjelang wafatnya berujar semoga beliau bisa meninggal mendahului guru beliau, Maulanasyaikh Zainuddin Abdul Madjid, atau rekan-rekan beliau yang alim soleh lainnya seperti Tgh. lalu M. Faishal (pimpinan Nu NTB) dan Tgh. Najamuddin (datok Muhajirin). "Supaya beliau-beliau yang masih hidup itu bisa mendoakan saya kelak. Saya mengharap syafaat doa mereka semua."
Beliau juga berpesan jika madrasah yang beliau dirikan harus menerima semua anak yang mendaftar tanpa melihat latar belakang ekonomi atau kedudukan wali murid itu. "Bersyukur jika banyak orang miskin yang bisa menuntut ilmu di sini." kata beliau suatu ketika.    

Sumber : TGH. M. Natsir Abdullah dan TGH. Muhsin Syarifudin
Editor: Habib Ziadi Thohir


Komentar

  1. Satu lagi yang terlupakan, saat maulansyeikh membaca talqin, bapak maulansyeikh berkata selaku doa, ke tuan haji nengke syurge taok de jemak te bedait lek syurge,,( Yg dengar H Zaenul Hasan, alias papuk tuan hasan)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…