Langsung ke konten utama

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH



PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH
(PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

 
Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tidak boleh beranggapan dan bersu’zhon dengan banyaknya air di dalam kuburan itu sebagai tanda si mayyit orang yg tidak baik atau tidak diterima oleh tanah. Jika yang kita makamkan itu adalah orang sholeh maka kemungkinan air itu hanya pandangan mata zhohir kita saja. Walaupun jenazah yang kita makamkan kita letakkan di dalam genangan air di kuburannya itu, tidak akan mengurangi kemuliaanya di sisi Alloh swt. Bisa juga air itu menghilang seiring dengan ditimbunnya liang lahat tersebut.  Bisa juga terkadang air itu akan surut dan kering manakala jenazah orang yg sholeh itu datang utk dimakamkan.
Itulah sekelumit isi pengajian terakhir menjelang wafat beliau sang murobbi. Setelah beberapa minggu dalam sakitnya akhirnya beliaupun berpulang menghadap Sang Maha Pencipta kehidupan. Ajaibnya apa yang menjadi tema dalam pengajian terakhir beliau tersebut benar- benar terjadi pada kewafatan beliau. Dari saat penggalian makam beliau air di makam tidak pernah surut, terus menerus muncrat dari dalam tanah. Alfaqir yang melihat saat itu sempat heran karena adanya lubang air yang seperti ledeng yang keluar dari dalam tanah pekuburan beliau. Banyak jamaah yang bergotong Royong untuk menguras air, namun air tak kunjung habis bahkan semakin banyak. Karena jamaah kelelahan maka didatangkan dua genset untuk menyedot air, namun gensetpun menyerah dan kelelahan. Keluarga beliau banyak yang sedih saat itu bahkan menangis melihat genangan air di liang lahad pemakaman. Salah seorang adik beliau H Thoyyibah bergumam, “Kaye semethon aik aran taokn yang tekubur jasad.” sambil menangis beliau tak tega melihat kubur kakandanya Tgh.  Ahmad Izzudin Habib yang banyak airnya. Pada saat yang sama,  alfaqir saat itu tengah melihat pengurasan air, tiba-tiba tanpa saya ketahui dari mana datangnya seorang tua berkata, “Bareh lamun wah dateng epen kubur ni jak tais noh aiqn,” Artinya nanti kalau yang empunya makam datang maka keringlah airnya. Saat itu saya menoleh kearah orang tua tersebut, namun betapa saya terheran orangnya sudah hilang.
Pada saat itu ribuan jamaah memadati kampung Mispalah, ribuan tullab dan tholibat ma'had berjubelan datang menghantarkan sang murobbi ke pemakaman. Keajaiban pun terjadi atas kehendak Alloh swt, begitu jenazah beliau diangkat diringi dengan pembacaan Sholatun Nahdataen dari ribuan jamaah, dalam pengelihatan mata zhohir alfaqir,  tiba-tiba air yang sedang menggenangi liang lahad pemakaman berangsur-angsur surut dan mengering seiring tibanya jasad Tgh Ahmad Izzudin Habib.
Setelah jasad sang guru diangkat oleh tangan para murid yang berebutan walau hanya sekedar bisa mengusap, mereka merasa lega sebagai salam perpisahan kepada guru tercinta. Seiring dengan semakin mendekatnya jasad beliau seiring itu pula air di lahad pemakaman ikut surut seolah olah merasa malu atas kehadiran jasad beliau. Kemudian setelah jasad sampai di atas lahadnya akhirnya airpun betul betul pergi entah kemana. Lahad yang semula tergenang air akhirnya kering, barulah para tuan guru yang hadir menurunkan jenazah beliau. Tgh Shobri saat itu langsung turun dan mengumandangkan azan di atas telinga jasad beliau. Ala kulli hal saat itu kemungkinan hanya beberapa orang saja yang menyadari akan keadaan keajaiban tersebut tentang keringnya air tersebut. Salah satu yang melihat dan menyaksikannya adalah H Masri, ipar beliau yang juga merasa heran akan keringnya air tersebut. Maka proses pemakaman pun berlansung khidmat dan khusuk. Apalagi saat takziyah disampaikan oleh sang guru tercinta Tgh Mahmud Yasin, QH. Jamaah semakin terharu mendengarkan paparan akan riwayat kesolehan dari sang guru tercinta, tgh Ahmad Izzudin Habib.
Kisah ini tidak berhenti sampai disini, insya Alloh akan saya ungkapkan kisah saya alfaqir berziarah kemakam beliau pada malam pertama beliau di pembaringan peristirahatan raudah min riadil jannahnya, tepatnya kira-kira jam 3 pagi alfaqir ziarah ke pusara beliau,,
Pada malam harinya setelah selesai pemakaman dari Tgh Ahmad Izzudin Habib kira kira pukul 3 malam, alfaqir sendirian berjalan berziarah kemakam beliau setelah sampai di atas pusara sang guru yang tanahnya masih basah dan disekitarnya masih becek. Maklum saat itu musim hujan baru tiba, Alafqir duduk sendiri sembari memulai menghadiahkan bacaan fatihah yang dilanjutkan dengan pembacaan surat yasin.
Dalam suasana keheningan malam yang sunyi alfaqir merasakan kekhusukan yang luar biasa saat membaca surat Yasin, dengan harapan semoga Alloh merestui dan menerima bacaan alfaqir dan disampaikan pahalanya kepada guru kita Almagfurulahu Tgh Ahmad Izzudin Habib, pada saat bacaan Yasin baru sampai setengah, tiba-tiba alfaqir dikejutkan oleh suara yang menyapa. Suara dari seorang tua yang tiba tiba muncul di depan alfaqir.  “Assalamualaikum mesakm te baink, piranm dateng?” Dengan tergagap Alfaqir menjawab, “Gih mesak tiang dateng baruk jam telu.”
Setelah alfaqir melihat secara jelas ternyata yang datang tersebut adalah Bapak H. Hisbillah, bapak dari ustadz H. Ahmad Saikhu. Selanjutnya tanpa berkata kata beliau yang sering saya panggil papuk tuan, menunduk sambil berjalan mengelilingi makam dan melihat lihat tanah di sekitar makam. Beliau terus meneliti keadaan tanah dari pusara makam sampai keluar. Setelah sekian lama memeriksa dan melihat tanah. Beliau kembali lagi menemui saya, kemudian bertanya lagi, “Ton siapa temanmu kesini, kamu betul sendirian dari tadi?” Dengan penuh heran saya jawab beliau, “Gih puk tuan tiang betul betul sendiri, tak ada seorangpun yang menemani tiang dari tadi.” Kemudian setelah mendengar jawaban saya, beliau manggut manggut seolah olah sedang heran dan takjub. Melihat ekspresi keheranan sang papuk tuan, saya pun bertanya sama beliau, “Ampure puk tuan, ada apa, dan mengapa papuk tuan menanyakan siapa teman saya kesini?” Beliaupun menjawab, “Begini Ton, barusan setelah selesai sholat tahjjud saya keluar dari rumah, dan jalan menuju sawah tanpa disengaja saya menoleh kearah makan kak tuanm ni, tiba-tiba saya terkejut luar biasa. Dengan jelas saya melihat barisan banyak orang orang yang berjubah putih bersih datang dan berdiri memenuhi areal pemakaman. Mereka semua banyak sekali. Saya terus memandangi mereka dari sawah. Sambil terheran heran, darimana orang orang itu datang dan siapakah mereka itu. Karena penasaran dan ingin mengetahui siapa yang datang ziarah malam malam begini, maka sayapun memberanikan diri untuk datang melihat. Namun tanpa saya ketahui dan sadari, setelah saya sampai disini saya tidak melihat mereka orang orang yang berjubah putih tersebut, “ kata beliau.
“Kemudian tadi saya lihat ada kamu di pusara, maka saya tanya mungkin kamu melihat mereka, dan tadi saya keliling melihat lihat tanah di sekitar pemakaman. Kemungkinan ada bekas jejak-jejak kaki mereka, ternyata tak satupun yang saya lihat dari bekas jejak kaki-kaki mereka. Siapa mereka dan kemana perginya,” ujar papuk tuan dengan penuh heran dan manggut manggut. Alfaqir setelah mendengar cerita papuk tuan pun merasa sangat heran dan terkejut. Tanpa saya sadari ternyata saya bukan sendirian yang berziarah di pusara makam guru kita, Allohu Akbar, ada rasa gentar dan rasa merinding saat itu. Apalagi papuk tuan pergi pulang meninggalkan saya yang terbengong sendirian. Ada rasa takut untuk terus sendirian melanjutkan bacaan yasin zikir dan doa. Awalnya saya akan pergi pulang, namun saya coba mengalahkan sara takut dan gentar di hati, sambil terus duduk membaca Yasin, zikir dan doa. Sesekali menoleh ke kanan kiri muka belakang. Jangan-jangan sang para penziarah berjubah putih bersih itu muncul lagi. Tanpa terasa subuh hampir tiba. Terdengar dari kejauhan suara murottal Al-Qur’an dari masjid Agung Praya. Seiring dengan dekatnya waktu subuh sayapun mengakhiri ziarah saya di malam pertama meninggalnya guru kita tercinta. Kejadian ini saya simpan rapi dalam benak dan ingatan saya. Yang menjadi teka taki alfaqir sampai detik ini adalah, siapakah mereka orang orang yang berjubah putih yang berziarah pula malam itu, yang tanpa alfaqir sadari kehadiran mereka. Justru dilihat oleh papuk tuan Hisbillah dari kejauhan. Mungkin mereka adalah para malaikat, atau mungkin adalah para waliyulloh.
TGH. IZZUDDIN DAN TGH. MAHMUD YASIN
Alfaqir pernah mendengar pengajian dari Maulana Syeikh TGKH. MUH. ZAINUDDIN ABD MADJID. Kata beliau, “Kadang seseorang itu diangkat menjadi waliyulloh kalau bukan di masa hidupnya, maka Alloh mengangkat seseorang menjadi wali-Nya setelah meninggal dunia, untuk menjaga kemurnian dan kemuliaan hatinya.” Mungkin para penziarah berjubah putih tersebut adalah para waliyulloh yang datang untuk menyambut salah seorang wali Alloh yang baru datang. Allohu a’lam. Kejadian ini sudah lama alfaqir pendam hampir lima belas tahun. kini alfaqir baranikan diri untuk menceritakan kepada para alumni dan semua murid beliau. Agar kita mengetahui dan menyadari siapakah guru kita sebenarnya adalah orang yang mulia dan dekat dengan Alloh swt. Semoga manfaat.
Sampai jumpai dalam kisah dan kejadian lainnya yang insya Alloh akan saya ungkapkan dan kisahkan. Ila hadrati syaikhina Almagfurulahu Tgh Ahmad Izzudin Habib alfatihah.

EDITOR : Habib Ziadi Thohir

Komentar


  1. Klo tdak salh yg bcakn ta'ziah Bliau dlu TGH.HILMI NAJAMUDDIN...

    BalasHapus
  2. Saya meneteskan air mata ketika melihat foto TGB. Mahmud yasin. Beliau guru tiang sebelum merantau tiang sempat memapah beliau ketika selesai pengajian karena beliau kurang sehat..semoga allah meridhai amal ibadahmu..guruku.

    BalasHapus
  3. Gafarallahulahu di kobrih...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…