Langsung ke konten utama

TGH. Ahmad Izzuddin Habib Rahimahullah, Tuan Guru Bajang Mispalah


Oleh: Al-ustadz Syamsul Wathoni, QH, S.Pd.I
(Pendidik di PP Darul Muhibbin NW Mispalah)

Tgh Ahmad Izzudin Habib yang nama aslinya adalah Muhammad Hasil. Beliau adalah putra kedua dari pasangan Tgh Abdillah Ibrahim dengan ummi Hajjah Azizah. Tgh Ahmad Izzudin Habib dilahirkan di sebuah dusun pelosok, pinggiran kota Praya, yakni dusun Merang Lebak. Sebuah dusun yang masuk dalam wilayah Kerisidenan Prapen tempoe doeloe, kelurahan Prapen sekarang pada tahun 1952. Kini Merang Lebak telah menjadi bendungan Batujai.
TGH. Abdillah
Ahmad Hasil tumbuh berkembang dalam asuhan keluarga yang sholeh dan sholehah. Pendidikan awal beliau langsung dari ayahanda beliau yaitu Tgh Abdillah Ibrahim, yang mendidik dan mengajarkan beliau ilmu dan ahlak. Selanjutnya setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada Madrasah Bawak Bagek, madrasah rintisan ayahandanya, beliau melanjutkan pendidikan MTs dan Aliyahnya di Madrasah Darul Muhajirin NW Praya yang diasuh Alm. Tgh. Najamuddin Makmun. Setelah lulus di sana pada tahun 1974, beliau kemudian diantar lagnsung oleh ayahanda ke Pancor Lombok Timur untuk melanjutkan studinya di Ma’had Darul Qur an wal Hadist. Selama kurang lebih empat tahun beliau mereguk nikmatnya keberkahan ilmu sang murobbi Almagfurulahu Tgkh Muh Zaenuddin Abd Madjid Al-Fanshaury Al-Ampenany Al-Mashur.
Pada tahun 1979, Ahmad Hasil  yang saat itu berusia 27 tahun berangkat ke Makkah diiringi ibunya, Ibu Hajjah Azizah sekaligus menunaikan ibadah haji. Di Kota suci Ummat Islam itu, beliau didaftarkan di Madrasah tertua di tanah suci, yakni Madrasah Asshaulatiyah. Madrasah ini termasuk madrasah legendaris, dan merupakan salah satu madrasah tertua di dunia selain universitas Al-Azhar dan madrasah Nizhomiyah di India.
Madrasah Asshaulatiyah adalah madrasah yang telah banyak melahirkan para ulama ulama besar Nusantara dan dunia. Terutama ulama-ulama nusantara. Sebut saja Hadratussyeikh KH Hasyim Asy ary pendiri NU, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Maulansyeikh Tgkh Muh Zaenuddin Abd Madjid pendiri NW. Ketiga ulama besar itu masuk dalam deretan Pahlawan Nasional.
Kemudian para ulama dunia yang lahir dari Madrasah Asshaulatiyah di antaranya Maulanasyeikh Hassan al Massyat, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Musnid ad-Dunya Syeikh Yasin bin Isa Al Padani, Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Syaikh Ismail bin Usman Zain, Syaikh Zakaria Abdullah Bila, dan banyak lagi. Dari ratusan bahkan ribuan Alumni Asshaulatiyah yang menjadi Ulama ulama besar dunia.
Tuan Guru Bajang Mispalah bersama Syaikh Zainuddin
Pada madrasah inilah gurunya mengganti nama Ahmad Hasil menjadi Ahmad Izzudin Habib. Putra Merang Lebak yang masih muda ini menutut ilmu bersama para pelajar dari berbagai negara yang selepas pulangnya rata-rata menjadi ulama atau tokoh masyarakat di negeri mereka masing-masing. Beliau ketika menuntut ilmu di Makkah mondok atau tinggal di Mispalah Makkah, tempat yang dipilih langsung oleh sang guru sekaligus ayahandanya, Tgh Abdillah Ibrahim. Menurut penuturan adiknya, H. Hukamak, S.Pd, ayahanda mengunjungi putranya di Makkah pada musim haji 1982.  Di Mispalah inilah beliau sehari-harinya berlalu dalam mereguk keberkahan air ilmu dari para ulama masyaikh madrasah Asshaulatiyah.
Menurut kakak beliau, Drs. Tgh. M. Natsir Abdullah, MA yang sejak lama menjadi dosen agama di UNRAM, Ayahanda Tgh. Abdillah sangat pandai mebaca potensi anak didiknya dan anak kandungnya. sang Adik, yaitu Ahmad Hasil dinilai sangat cocok menjadi tokoh agama atau Tuan Guru yang langsung terjun membimbing masyarakat, sehingga ia dikirim belajar ke Makkah, pusatnya dunia Islam dan tempat lahirnya Nabi Muhammad Saw. "Adapun saya, ayah itu mengarahkan menjadi akademisi, mengajar di universitas, membimbing mahasiswa. beliau faham potensi kami." ujarnya.
Tgh.  Ahmad Izzudin Habib tinggal di Makkah kurang lebih 6 tahun. Saat ayahanda beliau wafat di Mispalah tahun 1984, beliau masih berada di tanah suci. Beliau tidak sempat menatap dan menjumpai jasad ayahadanya sebelum dikebumikan, karena tidak memungkinkan bagi beliau pulang masa itu. Beliau kembali ke tanah air sekitar tahun 1985. Untuk melanjutkan perjuangan sang ayahanda.
Beliau bersama tamu dari Arab Saudi
Selanjutnya Tgh Ahmad Izzudin Habib di tengah tengah masyarakat dan jamaah serta murid murid ayahanda beliau, diberi gelar Tuan Guru Bajang. Gelar nama inilah yang paling populer di sebut-sebut oleh keluarga, jamaah, masyarakat dan para murid murid beliau,. Gelar Tuan Guru Bajang adalah gelar bagi seseorang yang pulang menuntut ilmu dari Makkah, kemudian ditahbiskan atau ditetapkan oleh masyarakat sebagai pemimpin agama, dengan gelar tuan guru. Sedangkan Bajang karena masih muda dan belum menikah sudah menjadi seorang tuan guru,,atau bisa juga panggilan kehormatan yang biasa dipakai dalam tata bahasa halus Sasaq, yang biasa dipakai oleh kaum bangsawan Sasak.
Ijazah Madrasah As-Shaulatiyah
Tuan Guru bajang atau Tuan Guru Hashil Atau Tuan Guru Ahmad Izzudin Habib, berjuang melanjutkan perjuangan sang ayahandanya, dengan meneruskan memajukan pendidikan masyarakat lewat, madradah yang dulunya bernama madrasah Ishlahul Ikhwan Nahdlatul Wathan.  Beliau mendirikan Madrasah Aliyah tahun 1986 untuk melengkapi Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah yang didirikan ayahadanya. Setelah beberapa tahun memimpin madrasah berdirilah Yayasan Pendidikan Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya. Nama yayasan diberikan langsung oleh Maulanasyeikh Tgkh Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid. Peletakan batu pertama Yayasan ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya saat itu al faqir penutur masih belajar di Ma’had Darul Quran wal Hadist, namun ikut menyaksikan pemberian nama dan peletakan batu pertama YPPDM NW MISPALAH PRAYA.
 Selanjutnya perjalanan ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah dalam bimbingan beliau terus berkembang dan semakin dirasakan manfaat, kemudian keberadaannya manjadi kebanggaan masyarakat terbukti dengan semakin banyak masyarakat yang menitipkan putra putrinya untuk diasuh oleh sang murobbi tuan guru Haji Ahmad Izzudin Habib. Bukan hanya masyarakat sekitar Praya namun juga masyarakat dari sejenak penjuru pulau Lombok, bahkan dari pulau sumbawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi bahkan yang penutur jumpai ada juga santri dari Jakarta.
Moment Bersama Istri di makam Selaparang
TGH.  Ahmad Izzudin Habib pada 1987 menikah dengan seorang gadis cantik dari kampung Pesantek Aik Bukak yaitu Sholatiah ( ummi Hajjah Sholatiyah sekarang). Jamaah berguyon “pulang dari Sholatiyah mendapatkan Sholatiyah.” Dari pernikahan beliau dengan ummi Hajjah sholatiyah, beliau dikaruniai anak anak.

1. Ustadz H. M. Sirrul Wathan Izzy. Kini sedang menuntut ilmu di Madrasah Assaulatiyah Makkah menjalankan cita-cita sang ayahandanya, dan insya Alloh sekembalinya nanti menjadi Tuan Guru Bajang seperti ayahandanya dan melanjutkan kembali perjuangan datuk, dan ayahandanya, bersama Drs. Tgh. M. Natsir Abdullah, MA (Ketua yayasan sekaligus putra sulung Tgh. Abdillah) dan murid-murid ayahanda beliau, seperti Tgh. Muh. Shobri Azhari, QH,  S.Pd.I (Ketua Pembina Ponpes Sekarang), Tgh. Damanhuri Abdulloh, QH, S.PdI, dan para asatiz lainnya.
2. Hj. Nurlaela Wahidah, S.Pd. Ia menikah dengan Ustadz H. Habib Ziadi, Lq, S.Pd.I bin Tgh. M. Thahir Azhari. Nurlaela wafat tahun 2014 akibat sakit.
3.Zahratul Laili, S.Pd menikah dengan saudara Iswan Jazuri, S.Pd bin Bapak H. Busairi dari Juring Leneng. .
4. Hauliya Sittina Zikro. Kini Telah menikah dengan Tgh, Khotibuddin bin Tgh. Atharudin dari Repok Oak Pengadang
Putra-putri Beliau
5. Muhammad Syakirun Niam. Kini sedang menutut ilmu di MDQH Anjani Lotim, tempat Tgh Ahmad Izzudin Habib menjadi masyaikh atau Dosen.
Pada tahun 2005 kesehatan beliau mulai terganggu. Beliau memang mengidap penyakit diabetes. Hal ini mulai mengganggu rutinitas dakwah dan pendidikan beliau. Akibatnya beliau beberapa kali keluar masuk Rumah sakit. Namun jika kondisi beliau rasakan membaik, beliau kembali masuk mengajar dan membimbing baik di madrasah, di masyarakat, atau mengajar di MDQH NW Anjani.
Istri beliau, ummi Sholatiyah menceritakan saat sakit, lisan beliau tidak pernah berhenti berzikir, di jemari beliau selalu memegang tasbih, putra putri bahkan para santri selalu berada di sekeliling beliau. "Bahkan kalimat talqin selalu dilafazkan berulang-ulang oleh beliau.", kenangnya.
Sampai pada akhirnya pada hari Jumat, sayyidul ayyam tanggal 27  November 2008 dalam usia 56 tahun beliau menutup mata di rumah adiknya Hj. Latifah (samping Toko Grand Hero Mispalah Praya).Sebab,  waktu itu atas saran iparnya, TGH. M. Thahir Azhari meminta agar beliau istirahat di sana saja supaya bisa istirahat lebih nyaman. Beliau dimakamkan di dekat pusara ayahandanya di depan masjid Nurul Iman Mispalah, komplek PP Darul  Muhibbin NW Mispalah. Ribuan masyarakat, alumni, jamaah, dan murid-murid MDQH Anjani, mengantar beliau ke peristirahatan terakhir  dengan lantunan doa, zikir, disertai banjir air mata. Beliau disholatkan puluhan kali dengan gelombang jamaah berbeda. Bahkan sempat pula disholat ghaibkan di madrasah As-Shaulatiyah. Sebab, beliau tatkala masih belahjar di sana, adalah muazzin kesayangan direktur madrasah As-Shaolatiyah dan terkenang hingga hari ini.
Kondisi Beliau Saat Sakit
Beliau banyak meninggalkan karya dan kenangan, termasuk ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah, karya nyatanya para murid murid atau alumni yang telah berkiprah baik dalam masyarakat maupun dalam pemerintahan. Banyak yang menjadi Tuan Guru, dosen, ustadz ustazah, pengusaha, anggota dewan. Tidak sedikit alumni Mispalah mendirikan madrasah atau yayasan pendidikan dan sosial, bukan saja di pulau seribu masjid ini saja, melainkan sampai ke luar daerah. 
Semoga keberkahan ilmu dan keikhlasan beliau mengalir kepada kita para keluarga, murid, dan pecintanya. Insya Allah amal jariyah beliau terus mengalir deras dengan perkembangan pesat Ponpes Darul Muhibbin NW, kiprah murid-muridnya dan doa-doa dari lisan keluarga dan pecintanya. Amin Ya Rabbal Alamin

Editor : H. Habib Ziadi
Narasumber : Drs. TGH. Natsir Abdullah, MA, H. Hukamak, Ummi Hj Sholatiyah, dan Haulia Sittina Zikro.

Komentar

  1. semoga Allah terangi kubur beliau dan masukkan beliau ke surga firdaus bersama nabi Muhammad saw

    BalasHapus
  2. Lahul Fatihah, Syukron jazakallah ust syamsul Wathon atas biografi Ayahanda, insya Alloh akan menjadi lembaran sejarah yang tdk lekang oleh waktu dan zaman.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…