Langsung ke konten utama

Melawan Inkonsistensi Berfikir


By: Habib Ziadi Thohir


Banyak orang membuat statemen terkait dengan isu hangat saat ini, bahwa kaum muslimin tidak perlu terlalu over acting dengan protes berlebihan  menanggapi pelecehan terhadap Al-Quran dan ulama-ulama Islam. Sebab, protes itu tidak menyelesaikan masalah. Malah menggambarkan kaum muslimin yang reaktif dan emosional.
Statemen tersebut bertolak belakang dengan akal sehat. Bersebarangan juga dengan petuah agama. Rasul saw bersabda,
“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka tolaklah dengan hati. (penolakan dengan hati) itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Penistaan terhadap agama dan simbol-simbolnya adalah kemungkaran yang tidak bisa dibiarkan. Sesuai dengan hadits di atas, wajib bagi aparat pemerintah menegakkan hukum terhadap pelaku penistaan itu. Kaum muslimin wajib pula bersuara lantang dengan menyampaikan aspirasi menuntut penegakan hukum seadil-adilnya. Sisanya, membenci prilaku penistaan agama dalam hatinya jika tidak memiliki kapasitas untuk melaksanakan protes.
Bukankah untuk urusan hak milik kita sendiri, kita sangat preventif dan proaktif menjaga serta merawatnya. Apabila tanah hak milik kita dicaplok orang, kita pasti mati-matian membelanya. Jika kehormatan keluarga kita dilecehkan orang lain, kita akan melawan dan tidak akan main-main dengan hal itu.
Dalam berorganisasi atau berpartai, jika ketua umumnya dihina perkumpulan lain, anggotanya tidak akan terima. Ini sangat wajar. ini loyalis sejati. Dalam bernegara, jika bendera merah putih diinjak, apalagi dibakar, kita pasti marah.  Dada kita sesak. Emosi meletup.  Aparat pasti bergerak. Semua sepakat bahwa inilah sikap nasionalis sejati.
Kemudian mengapa dalam beragama, jika AlQuran dan Ulama dinistakan, kita dilarang marah, kita tersinggung pun dicibir. Katanya “boleh protes asal biasa-biasa saja.” Padahal marahnya kita itu adalah bukti iman. Di sini mereka menunjukkan cacat pola fikir dan mengidap penyakit irasional dan inkonsistensi berfikir yang parah.
Rasulullah saw mengajarkan kita tegas dan berani menolak kemungkaran. Apalagi jika kemungkaran atau maksiat itu dilakukan hanya satu, dua, atau segelintir orang saja.  Beliau bersabda seraya mengancam,

“Tidaklah suatu kaum yang di dalamnya terdapat kemaksiatan, yang mana (yang tidak melakukannya) lebih kuat dan lebih banyak, tetapi tidak dirubahnya, kecuali Allah akan meratakan azab-Nya.” (HR. Ahmad)
Jika dalam urusan pribadi, keluarga, kelompok, dan berbangsa ketegasan dan keberanian seseorang dalam membela haknya sangat diapresiasi, lalu mengapa saat menyangkut urusan keislaman serta keimanan, mereka tidak pantas berlaku tegas, bahkan saat melayangkan protes pun masih dituduh bermuatan politis dan dicurigai akan anarkis. Padahal melayangkan protes merupakan hal lumrah di manapun. Sekali lagi, Inilah fenomena inkonsistensi dan kerancuan berfikir.
Ada pula statemen yang konon diutarakan oleh seorang tokoh agama, “Yang menghina agamamu, tidak merusak agamamu. Yang merusak agamamu, justru prilakumu.” Pernyataan ini benar, namun tidak bisa membenarkan “aksi cuek” atau “tutup mulut” saat agama kita dihina.
Memang agama kita tidak akan jadi hina dengan hinaan. Tapi, justru kita yang jadi hina ketika diam saja melihat agama kita dinistakan. Islam itu agama mulia, pemeluknya juga mesti mulia. Islam itu agama agung, maka pemeluknya harus punya harga diri. Di mana harga diri kaum Muslimin ketika agamanya dicabik-cabik tapi dia diam saja? Ada saatnya Kaum Muslimin ramah. Dan ada momennya kaum muslimin marah. Inilah yang disebut izzah.
Indonesia merdeka berkat izzah para pendahulu. Izzah lah yang membuat kita terlepas dari cengkeraman penjajah. Andai kita tidak punya izzah, lalu diam saja diinjak-injak oleh penjajah, maka kita tidak akan pernah merdeka. Kita merdeka karena kita sadar bahwa kita ini orang-orang yang mulia dan bukan hamba sahaya.
Rasulullah saw sendiri sangat mentoleransi upaya pembelaan diri terhadap hak-hak yang dilindungi syara’. Bahkan beliau mengapresiasi orang yang terbunuh dalam upaya tersebut sebagai mati syahid.
“Barang siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka dia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka dia syahid.” (HR. Abu Daud)
Melawan inkonsistensi berfikir seperti di atas adalah dengan konsisten menampakkan ketegasan dan keberanian. Keberanian yang diajarkan Rasulullah saw semata-mata demi kebenaran, bukan bermaksud untuk bermegah-megahan atau takabur. Bagi beliau ketegasan dan keberanian tidak ada hubungannya dengan kebesaran, mencari jabatan, atau pun kekuasaan.
Ketegasan dan keberanian Rasullan saw adalah untuk menegakkan kalimatullah, membela tauhid yang murni, melindungi Islam dari musuh-musuh, membebaskan manusia dari belenggu kemusyrikan, menghilangkan perbudakan, memperjuangkan keadilan, dan menegakkan supremasi hukum.

Dalam alam demokrasi, saat kebebasan berpendapat dan berfikir telah diberi ruang oleh negara, sudah sewajarnya kaum Muslimin menyuarakan aspirasinya menuntut penuntasan kasus penghinaan agama. Tidak perlu takut atau merasa terancam, jika aparat benar-benar bekerja objektif dan profesional menjawab tuntutan kaum Muslimin.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/
Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…