Langsung ke konten utama

PERKARA PERUSAK AMAL


Oleh : Muhammad Lobis, S.Pd
Guru di MA Ishlahul Ikhwan NW


Dalam Islam, semua amal ibadah semata-mata harus diniatkan untuk meraih keridhaan Allah SWT. Selain dari pada itu, amalan apapun terancam tidak memperoleh imbalan apapun di akhirat. Jika salah niat, maka akan berujung kesia-siaan. Tentu alangkah meruginya.
Perkara yang kerap menggerogoti keikhlasan seseorang dalam beramal adalah riya atau pamer. Riya adalah hama penyakit yang paling ganas merusak amal, bahkan Nabi Muhammad SAW. Menyatakan bahwa riya ialah suatu perbuatan yang mengarah sampai kepada kesyirikan kecil, sebagaimana dinyatakan dalam hadist, beliau bersabda:
“Riya yang ringan ialah syirik, barangsiapa yang memusuhi wali Allah, maka berarti ia menyatakan perang dengan Allah, Allah mencintai orang-orang yang baik yang bertaqwa serta menyembunyikan ketaqwaannya, yang apabila mereka tidak ada, tidak berat kehilangan. Apabila mereka ada bersama kita, mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu-lampu petunjuk yang menyinari, menghilangkan kegelapan dari setiap tempat yang gelap” (HR. Alhakim).
Dari Ibnu Abbas ra. Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah, saya ingin mempunyai pendirian, dan saya diridhoi Allah dan saya ingin tanah tumpah darahku dilindungi Allah”. Rasulullah saw. Berdiam sejenak, tidak menjawab, tiba-tiba turunlah ayat sebagai berikut:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi: 110).
Riya’ merupakan hama penyakit yang paling merusak amal. Apabila proses riya’ sudah matang di dalam jiwa manusia, maKa riya’ bisa jadi semacam faham watsani (berhalaisme) yang bisa melemparkan penganutnya kedalam kancah neraka.
Adapun yang dimaksud dengan riya’ ialah: “Memperlihatkan amal kebajikan supaya dilihat orang”. Yakni beramal dengan tidak ikhlas karena suatu penilaian atau perhatian yang lain dari Allah.
Orang riya’ itu ada lima:
Pertama: riya dalam soal tauhid, memperlihatkan bahwa imannya yang benar, yang dipegang oleh umat islam, padahal I’tiqodnya tidak demikian. Orang ini tidak ragu-ragu ditetapkan sebagai golongan orang-orang munafik haqiqi. Pendeknya lahirnya beriman, tetapi hatinya berbeda dengan lahirnya, seperti banyak orang yang tidak percaya kepada sesuatu penetapan Nabi, tetapi karena takut kepada masyarakat, ia mengaku percaya juga.
Kedua: Riya’ dalam melaksanakan amal ibadah. Misalnya seorang yang shalat, yang shalatnya ingin dilihat orang. Mereka lakukan demikian karena bermaksud menarik minat orang banyak; berpuasa supaya dicintai rakyat dan disayangi masyarakat serta  supaya diakui oleh orang muslim, tetapi kalau tidak ada orang lain, maka shalatnya dan puasanya tidak ada nilainya. Orang yang semacam ini menurut janji Allah, akan dibalas dengan azab yang sepedih-pedihnya.
Ketiga: riya’ dalam amalan sunnah, misalnya kalau di muka orang banyak, ia bersungguh-sungguh mengerjakan sunnah berzikir, berwirid, shalat tahajjud, shalat-shalat sunnat yang yang lain tetapi kalau tidak ada orang lagi, sunnah-sunnah yang semacam itutidak ada yang ia kerjakan. Riya’ semacam itu kalau maksudnyauntuk memperoleh nafsu yang jahat, niscaya diazab Allah dengan azab yang keras. Tetapi kalau ia bermaksud memperoleh sesuatu yang dibolehkan, niscaya azab Allah kepadanya, tidak seberat adzab yang pertama.
Keempat: riya karena menyebutkan sesuatu amal kebajiannya. Bila duduk ramai-ramai iapun mulai menceritakan apa yang ia telah kerjakan. Misalnya saya sudah mendermakan sekian rupiah; saya sudah berjuang untuk masyarakat dan umat begini besar dan beratnya. Ucapan riya semacam ini haram hukumnya.
Kelima: orang yang memperlihatkan sikap dan kesungguhannya dalam beribadah. Ia melahirkan kekhusu’annya dalam shalat; merendahkan dan melemahkan suara agar kelihatan alimnya; ia melahirkan kezuhudannya dihadapan orang banyak, agar kelihatan sebagai orang yang shaleh. Riya semacam ini menghilangkan kebagusan amalnya, dan menghapus pahala amal yang ia kerjakan. Riya semacam ini sangat buruk dan hanya dikerjakan oleh orang yang berjiwa lemah dan berakal kurang.
Dengan demikian, islam tetap keras menentang riya dalam segala bentuknya, juga penyakit-penyakit rohani (mental) lainnya yang timbul dari tidak adanya keikhlasan hati. Penyakit-penyakit rohani itu membawa kerusakan yang kompleks dan sukar dihilangkan dan untuk menindak mennghilangkan keinginan hawa nafsu yang hina. Oleh karena itu, penyakit tersebut harus dikikis habis dari ruang lingkup amal saleh.

Riya yang tidak terselubung (dilakukan terang-terangan) suka melahirkan dosa yang terus menjalar di masyarakat sebagi dosa yang dibenci dan dihinakan. Tetapi mudah diketahui dan dirasakan bahaya keburukannya, sehingga pelakunya menyadari kekeliruannya, lalu dia bertaubat. Tapi riya yang terselubung oleh ibadah bahayanya lebih besar, karena pelakunya mengira perbuatan riya’nya itu mendapat rida Allah, sehingga mereka tidak merasa berbuat dosa, karena memang sukar dapat diketahui dan dirasakan oleh si pelaku maupun oleh masyarakat. Akibatnya mereka jauh dari taubat dan terus juga melakukan riya yang merusak amal ibadahnya.
Dan musibah yang melanda masyarakat umumya datangnya dari orang-orang besar (pemimpin) yang munafiq. Bahayanya lebih parah dibandingkan dengan musibah yang dilakukan oleh orang berandal yang melanggar hukum. Dan jika keihlasan yang dimiliki orang pandai amat lemah, Negara dan masyarakat bisa binasa karena akibat akal dan pembawaan mereka menimbulkan kerusakan.
Pelanggaran lainnya yang timbul akibat tidak adanya keihlasan adalah menodai akhlaq yang utama dengan hawa nafsu yang keji dan rendah, yang bisa mengancam kedudukan akhlaq hingga jatuh nilainya. Hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang amalnya untuk mencari kerelaan manusia, bukan mencari kerelaan Allah. Itulah orang yang tidak tahu program kerja akibat kebodohan, sehingga masyarakat dan Negara dirugikan oleh kebodohan. Karena mereka berpaling dari Dzat Yang Maha Kaya, yang memiliki ke-Agungan dan kemuliaan, menuju kepada manusia yang sesungguhnya lemah dan miskin, tidak mempunyai 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…