Langsung ke konten utama

Pendidikan Pesantren: Harapan Bangsa Sejak Dulu, Kini, dan Akan Datang

Oleh : Habib Ziadi Thohir
A.    Pendahuluan
Bangsa Indonesia dewasa ini sedang berusaha keras untuk mengembangkan masa depannya yang lebih cerah dengan melaksanakan transformasi dirinya menjadi suatu “masyarakat belajar”. Maksudnya adalah masyarakat yang mengedepankan proses belajar sebagai suatu kewajiban dan kebutuhan. Kemajuan bangsa hanya dapat diniscayakan dengan membentuk masyarakatkan belajar dan mengutamakan pendidikan. Bangsa yang maju adalah bangsa yang warga negaranya adalah kaum terdidik dan terpelajar.
Sebagai suatu bangsa yang tengah berkembang, setiap warga negara Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, sehingga kita sebagai bangsa mampu mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa maju yang kian melesat.[1]
Pendidikan pada hakikatnya merupakan satu upaya untuk mewariskan nilai yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan. Pendidikan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban ummat manusia. Tanpa pendidikan, manusia sekarang diyakini tidak jauh beda dengan manusia masa lampau. Secara ektrim bahkan bisa dikatakan, baik buruknya atau maju mundurnya peradaban suatu masyarakat ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.[2]
Dalam Kitab Suci Al-Qur’an sebagai pedoman utama dan dasar kaum Muslimin mengandung nilai, spirit, etos kerja, bahkan muatan transformasi sosial dalam membentuk kaum terdidik dan terpelajar. Jadi sebelum kaum cerdik pandai membuat teori demi teori, resep belajar, kiat, dan motivasi belajar, Al-Qur’an sudah lebih dulu memerintahkan manusia untuk menjadi orang yang terpelajar. Ini dibuktikan dengan ayat yang pertama turun adalah iqro’ ! atau bacalah ! Allah SWT tidak memerintahkan manusia untuk langsung shalat, puasa, berzakat, apalagi berjihad, namun  Dia mensupport manusia untuk membaca terlebih dahulu. Membaca adalah pintu utama meraih ilmu.
Oleh karenanya, ummat Islam memang sedari awal dituntut untuk meningkatkan pengetahuan untuk berubah ke arah lebih baik. Juga untuk membina kehidupannya sehingga dapat memperbaiki kualitas kehidupannya. Ummat Islam tidak boleh bodoh, bangga dengan keawamannya, atau tertinggal dari orang lain.
            Allah SWT melalui kitab suci-Nya seakan memaksa agar manusia mengkaji dan memahami semua ciptaan-Nya. Melalui berbagai redaksi dalam ayat-ayat Al-Qur’an mengandung perintah secara eksplisit mengajak manusia semua fenomena langit dan bumi dengan memaksimalkan fungsi indera, akal budi, dan nurani dalam melihat, berfikir, merenung, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Jauh sebelum bangsa kita merdeka, proses pendidikan sudah menggeliat di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat pada waktu itu belajar di masjid, langgar, rumah kiyai, bahkan di bawah pepohonan di sawah. Umumnya materi yang dibahas adalah tentang ajaran agama. Hingga akhirnya penjajah Belanda mengakomodir kebutuhan masyarakat akan pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah bagi warga pribumi sebagai wujud dari pilitik “balas budi”.
Ada satu lembaga pendidikan di Republik ini yang bertahan lama (survive) dari dulu hingga kini, yaitu Pondok Pesantren. Lembaga pendidikan yang satu ini tetap berdiri tegak melintasi zaman meskipun banyak lembaga pendidikan modern lahir setelahnya. Pondok Pesantren dengan keunikan yang dimilikinya mampu bertahan di tengah gempuran arus budaya asing dan perubahan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat.   
Pada masa penjajahan, lembaga ini mengalami tekanan yang amat berat. Pesantren merupakan basis belajar mengajar masyarakat sekaligus basis perjuangan melawan kolonialisme. Pesantren mengajarkan cinta tanah air dan menanamkan jiwa patriotik pada para santrinya. Para Kiyai, santri, dan rakyat berjuang bersama-sama merebut kemerdekaan.
Di alam kemerdekaan, Pondok Pesantren adalah garda terdepan dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Lembaga ini tidak henti-hentinya melahirkan insan-insan yang berdaya guna bagi kemaslahatan negeri ini. Alumni pesantren tidak kalah bersaing dan dapat mengisi berbagai posisi dalam beragam lapangan pekerjaan yang tersedia.
Tulisan ini bermaksud memaparkan peran vital pondok Pesantren sebagai aset berharga Indonesia yang sejak dahulu menjadi tulang punggung perjuangan hingga kini masih tetap setia berkiprah di tengah masyarakat. Pendidikan Pesantren adalah harapan sejak masa silam dan masih sangat pantas menjadi harapan masa depan bang
B.     Pembahasan
1.      Berdirinya Pondok Pesantren
Pondok Pesantren, menuru sejarah akar berdirinya di Indonesia, ditemukan dua versi pendapat.
Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. Pondok Pesantren mempunyai kaitan yang eratdengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai dengan dibentuknya kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan zikir dan wirid tertentu. Pemimpin tarekat itu disebut kyai, yang mewajibkan pengikutnya melakanakan pengikutnya melaksanakan suluk selama 40 hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama sesama anggota tarekat dalam sebuah masjid ntuk melakukan ibadah-ibadah dibawah bimbngan kyai. Untuk keperluan suluk ini, para kyai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat masak yang terdapat dikiri kanan masjid.
Kedua, Pondok Pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambilalihan dari sistem pondok pesantren yang diadakan orang-orng hindu di Nsantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga pondok pesantren suda ada di negeri ini. Pendirian pondok pesantren pada masa itu dimasukkan sebagai tempat megajarkan ajaran-ajaran Hindu. Fakta lain yang menunjukkan bahwa pondok pesantren bukan berasal dari tradisi Islam adalah tidak ditemukannya lembaga pondok pesantren di negara-negara Islam lainnya.[3]
Pondok pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaannya dan perkembangannya setelah abad ke-16. Karya-karya Jawa Klasik seperti Serat Cabolek dan Srat Centinimengungkapkan bahwa sejak permulaan abad ke-16 ini di Indonesia telah banyak dijumpai lembaga-lembaga yang mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fiqih, aqidah, tasawuf dan menjadi pusat-pusat penyiaran Islam yaitu Pondok Pesantren.
Namun bagaimanapun asal mula terbentuknya, Pondok Pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan dan keagamaan Islam tertua di Indonesia, yang perkembangannya berasal dari masyarakat yang melingkupinya.
Seperti yang telah diungkapkan diatas, lembaga-lembaga pondok pesantren yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Walaupun sulit diketahui kapan permulaan munculnya, namun banyak dugaan yang mengatakan bahwa lembaga pondok pesantren mulai berkembang tidak lama setelah masyarakat Islam terbentuk di Indonesia.
Pengertian atau ta’rif Pondok Pesantren tidak dapat diberikan dengan batasan yang tegas, melainkan mengandung fleksibilitas pengertian yang memenuhi ciri-ciri yang memberikan pengertian Pondok pesantren setidaknya memiliki 5 ciri yang terdapat dalam lembaga ini, yaitu : Kiyai, santri, pengajian, asrama, dan masjid.[4]
2.      Orientasi Pendidikan Pondok Pesantren
Mula-mula perkembangan pesantren adalah sederhana. Tetapi karena semangat dan sistem pembelajaran yang dikembangkan berorientasi kepada basis masyarakat (community based education) maka lama-kelamaan beberapa diantaranya menjadi besar. Jumlah santri yang belajar menjad bertambah banyak, lembaga pendidikan yang dikelola disebut pondok pesantren, dan pemegang kepemimpinan lembaga itu disebut kyai atau Tuan Guru. Lembaga pendidikan pondok pesantren selalu dilengkapi dengan masjid (mushalla) dan rumah kyai atau Tuan Guru. Oleh karena itu para pemerhati pondok pesantren mengidentifikasi peantren dengan beberapa karakteristik bahwa di dalam pesantren terdapat rumah kyai, masjid, dan pemondokan santri. Para santri belajar mengaji dan mengamalkan apa saja yang dilakukan kyai.
Mengikuti perkembangan zaman akhir-akhir ini pesantren telah membuka diri. Jika dahulu pesanten hanyalah sebagai tempat mengaji ilmu agama melalui sistem sorongan, wetonan, dan bandongan, maka saat ini telah membuka pendidikan sistem klasikal dan bahkan program baru yang berwajah modern dan formal se[erti madrasah, sekolah, dan bahkan universitas. Sekalipun pendidikan modern telah masuk ke pesantren, akan tetapi tidak boleh menggeser tradisinya, yakni gaya kepesantrenan. Sebaliknya, kehadiran lembaga pendidikan formal ke dalam pesantren dimasudkan untuk memperkokoh tradisi yang sudah ada, yaitu pendidikan modern pesantren. Adaptasi adalah sebentuk keniscayaan tanpa menghilangkan ciri khas yang dimiliki pesantren (al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wa al-akhdzubi al-jadid al-ashlah).
Tradisi yang dimaksud untuk selalu dipertahankan oleh pesantren adalah pengajaran agama secara utuh. Pendidikan pesantren sejak awal memang bukan dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga kerja terampil pada sektor-sektor modern sebagaimana diangankan sekolah adan universitas pada umumnya. Melainkan diorientasikan kepada bagaimana para santri dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam secara baik. Pendidikan pesantren adalah pendidikan Islam yang berusaha menghantarkan para santri menjadi alim dan shalih, bukan menjadi pegawai atau pejabat. Oleh karena itu, beberapa santren yang masih “murni” tidak mengutamakan ijazah atau sertifkat, melainkan pada pengasaan ilmu sebagai bekal tuntutan hidup.[5]
Sampai disini,  kira-kira amatlah naif bila ada seorang atau sekelompok orang yang mengecilkan arti pesantren. Bisa dibayangkan bahwa pesantren yang dikonotasikan sebagai pendidikan tradisional tetap kokoh ditengah pergulatan sistem dan model pendidikan yang kian menaik. Tidak saja itu, pesantren adalah satu-satunya institusi yang berhasil melakukan transmisi Islam dan bahkan bagi kemajuan bangsa Indonesia ini.

3.      Cara Kyai atau Tuan Guru Mendidik Santri

Akhir-akhir ini perdebatan tentang pendidikan sedemikian banyak dilakukan di tengah masyarakat. Mereka mendiskusikan tentang perlu tidaknya Ujia Negara, biaya pendidikan yang belum mencukupi, peminat masuk perguruan tinggi swsta semakin menurun, kualitas pendidikan rendah, hingga persoalan bagaimana mengembalikan ruh pendidikan yang dirasa semakin hilang. Diskusi lainnya berbica, pendidikan sudah terseret jauh ke alam kapitalis. Pendidikan yang seharusnya dijalankan atas dasar kesadaran membangun manusia berkualitas dimasa depan, ternyata dalam praktek pendidikan diwarnai oleh suasana transaksional, persis sama yang terjadi di pasar yaitu suasana juala beli, transaksi terjadi manakala ada kesepakatan harga.
Sesungguhnya mencari jalan keluar dari persoalan pendidikan, tidaklah terlalu sulit. Setidaknya itu menurut penilaian tokoh pendidikan, Prof. Dr. Imam Suprayogo. Baginya, bangsa ini sudah kaya pengalaman penyelenggaraan pendididkan. Pondok Pesantren yang dikelola oleh para kyai atau tuan Guru, yang jumlahnya sedemikian banyak dan merata di tanah air ini adalah merupakan pengalaman berharga yang perlu ditengok. Para pemuka agama ini dengan biaya murah, sederhana, terjangkau oleh siapapun bisa melangsungkan pendidikan. Hasilnya, banyak dilihat tidak sedikit tokoh diberbagai bidang dan berbagai level, telah menduduki posisi-posisi penting kepemmpinan masyarakat. Salah satu saja dari apa yang dilakukan kyai yang ternyata hasilnya bagus adalah pendekatan yang dilakukan dalam mendidik para santrinya.[6]
Para pengasuh Pesantren itu hidup di tengah-tengah santrinya. Interaksi antara pengasuh dan santri itu berlangsung setiap saat. Ini menjadikan hubungan antara mereka sangat erat dan dekat. Kehidupan sehari-hari dunia pondok pesantren ibarat satu keluarga besar yang dikepalai oleh Kiyai atau Tuan Guru. Para santri bisa menilai langsung kepribadian para kiyai atau tuan gurunya. Dari sana mereka bisa mengambil keteladanan. 
Pendidikan yang diselenggarakan oleh para kyai memang sederhana. Kyai tidak pernah mengait-ngaitkan antara peyelenggaraan pendidikannya dengan besarnya anggaran. Kapan dan dengan biaya berapapun pendidikan, menurut kyai bisa dijalankan, sebaliknya tidak ada danapun pendidikan tidak boleh berhenti. Pendidikan yang dijalankan oleh para kyai seperti ini sudah berlangsung lama. Hasilnya, tidak sedikit tamatan pesanten berani hidup di tengah masyarakat dan bahkan berhasil melakukan peran-peran kepemimpinan strategis diberbagai level. Tidak sedikit tokoh nasional yang berlatar belakang pendidikan pesantren. Mereka hasil didikan para kyai atau Tuan Guru.
Menurut Zamakhsari Dhofier dalam Tradisi Pesantren[7] bahwa pendidikan di Pesantren itu semata-mata tidak sekedar memperkaya pikiran murid dengan penjelasan-penjelasan, tetapi untuk meningkatkan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarjkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, serta menyiapkan para murid diajar mengenai etika agama di atas etika-etika yang lain. Pendidikan agama bukan semata mengejar kebahagiaan duniawi berupa jabatan politis atau pekerjaan, tetapi menanamkan bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah SWT.
Oleh karen itu, berbicara tentang pendidikan di Indonesia ini, rasanya tidak lengkap jila masih mengabaikan pendidikan yang dijalankan oleh para kyai. Bahkan tatkala bangsa ini sedang berfikir untuk mengembangkan pendidikan, maka kekayaan berupa konsep pendidikan Pesantren, patut ditengok. Hanya sayangnya, karena arus modernisasi yang begitu keras, tidak sedikit kyai yang terpengaruh terhadap pendidikan modern dan meninggalkan pendekatan lama. Memang, tidak ada salahnya mengikuti perubahan dan kemajuan zaman, tetapi mestinya tidak harus yang lama yang masih lebih baik ditinggalkan.
4.      Pesantren dan Format Pendidikan Islam Masa Depan
Pondok  pesantren awal mulanya diidentifikasi sebagai “gejala desa”. Gejala desa artinya pondok pesantren merupakan institusi pendidikan Islam tradisional yang kehadirannya bukan untuk menyiapkan pemenuhan tenaga kerja trampil (skilled) atau profesional sebagaimana tuntutan masyarakat modern sekarang ini. Pondok pesantren didirikan oleh perorangan, yakni kyai. Lembaga pendidikan ini dimaksudkan untuk mengajari para santri belajar agam mulai tingkat dasar hingga tingkat lanjut.[8]
Kyai adalah sentra utama berdirinya pondok pesantren. Tidak pernah ada pesantren tanpa kyai. Otoritas kepemimpinan pesantren sepenuhnya berada pada kyai. Oleh karena itu, keberadaan dan perkembangan pesantren ditentukan oleh kekuatan kyai yang bersangkutan. Jika kyai wafat, maka secara otomatis akan diteruskan oleh para keturunan atau keluarga dekat kyai yang bersangkutan.
Popularitas pesantren juga dibarengi oleh terbitnya buku-buku yang membahas tentang pondok pesantren. Tidak saja ditulis oleh para ahli Indonesia, melainkan juga para penulis dan peneliti asing. Tidak keliru bila pesantren diidentifikasi sebagai institusi pendidikan Islam yang memiliki kekuatan yang tangguh. Melewati sejarahnya yang panjang, institusi ini masih tetap dapat bertahan dan bahkan menunjukkan kekuatannya yang sejatinya. Tulisan singkat ini ingin mengemukakan beberapa kekuatan dan potensi yang sekiranya dapat dikembangkan sebagai upaya untuk merespon tuntutan penyiapan SDM mendatang, baik pesantren sebagai institusi yang bersifat mandiri maupun pesantren sebagai pagar budaya, ataupun juga sebagai penyempurna terhadap lembaga baru yang bakal hadir kemudian.
Jika membandingkan pesantren dengan sekolah umum pada saat sekarang ini, Imam Suprayogo  menulis bahwa lembaga pendidikan yang dikelola para kyai ini justru memiliki berbagai kelebihan yang justru terkait dengan esensi pendidikan itu sendiri.[9] Kelebihan pendidikan pesantren di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Pesantren memiliki kemandirian dan otonomi secara penuh.
b.       Memiliki semangat juang dan berkorban yang tinggi dari semua yang terlibat di dalamnya. Komersialisasi pendidikan yang berujung terjadi runtuhnya nilai-nilai pendidikan tidak terjadi di lingkungan pesantren. Pesantren dibangun dam dikelola atas dasar keikhlasan dan diniatkan sebagai ibadah.
c.       Pendidikan pesantren dijalankan secara lebih komprehensif atau utuh, meliputi pendidikan akhlak, spiritual, ilmu pengetahuan, dan juga keterampilan.
d.      Pendidikan di pesantren dijalankan tidak saja sebatas mentransfer ilmu pengetahuan, apalagi hanya sebatas informasi, lebih dari itu adalah mentransfer kepribadian. Para kyai secara langsung memberikan tauladan dan juga membiasakan hal-hal yang baik, sehingga ditiru oleh para santrinya.
e.       Pendidikan pesantren tidak mengejar simbul-simbul, seperti sertifikat atau ijazah, melainkan untuk membangun watak atau akhlak yang mulia.

5.      Mengelola Negara Ala Pesantren[10]
Sejarah emas Indonesia pada hakikatnya adalah sejarah umat Islam. Bukan  bermaksud menafikan kiprah umat lainnya, tetapi realitas sejarahnya memang demikian. Lebih spesifik lagi, sejarah umat Islam Indonesia lebih didominasi oleh perjuangan pesantren dengan para kiyai dan kaum santri sebagai aktor utama di dalamnya.
Pada masa pra kemerdekaan, oleh para kiyai, kaum santri dididik menjadi pejuang melawan segala bentuk kolonialisme. Di dalam dada mereka ditanamkan kecintaan membela tanah air dan mempertahankannya. Jangan harap menemukan kata kompromi dan kooperatif dalam kamus mereka, yang ada adalah jihad dan resistensi terhadap Kolonialis.
Untuk menghindari pantauan musuh sekaligus melanggengkan kegiatan tafaqquh fiddin (menuntut ilmu agama), banyak pesantren berdiri di desa-desa. Tujuannya. menjadikan desa sebagai basis kekuatan dengan pesantren sebagai sentral pergerakan.
Perjuangan kalangan pesantren yang pada awalnya berdiri sendiri-sendiri mulai terkoordinir melalui peristiwa 10 November 1945. Peristiwa yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Itupun tidak lepas dari resolusi Jihad yang difatwakan oleh para ulama se-Jawa dan Madura pada tanggal 23 Oktober 1945. Resolusi yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari ini merupakan bukti komitmen dunia pesantren dalam membela negeri. Atas dasar itulah, Bung Tomo membakar semangat warga Surabaya dan sekitarnya dengan pekikan takbir untuk mengusir tentara NICA yang dibonceng oleh Belanda.
Pasca kemerdekaan, TGKH M. Zainuddin Abdul Majid menjadikan madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan. Kedua tempat tersebut digunakan untuk menggembleng patriot-patriot bangsa yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah. Bahkan, secara khusus beliau bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk suatu gerakan yang diberi nama Gerakan Al-Mujahidin.
Bersama masyarakat setempat dan wilayah NTB, Gerakan Al-Mujahidin bahu-membahu untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia. Pada 7 Juli 1946, adik kandung Bapak Maulana, yakni TGH Muhammad Faizal Abdul Majid, memimpin penyerbuan tank militer NICA di Selong. Dalam penyerbuan ini, sang adik gugur sebagai syuhada bersama dengan dua santri NWDI.
Pesantren dengan keterbatasan dan kekurangannya telah memberikan apa yang ia miliki. Para kiyai, Tuan guru, dan kaum santri dengan sigap berada di garda terdepan dalam memperjuangkan eksistensi Negeri ini. Heroisme dan patriotisme para kiyai dan kaum santri sungguh telah menciutkan nyali kaum kolonial, walaupun hanya berbekal senjata seadanya.
Mengingat kontribusi pesantren yang amat besar, lewat tulisan ini penulis mencoba memberikan korelasi antara mengelola pesantren dan negara lalu menganalogikan keduanya secara sederhana. Nantinya akan lahir pertanyaan, apakah kita bisa mengelola negara ala pesantren? Diharapkan setidaknya kita bisa mengadopsi beberapa hal positif  yang terdapat di dunia pesantren untuk dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan bernegara.
Pertama, pesantren yang tujuan asasi pendiriannya adalah tarbiyah (pendidikan), menurut DR. Hamid Fahmi Zarkasi, hakikat pendidikan pesantren tidak lepas dari Islam, dan pendidikan pesantren bermula tidak lama setelah Islam masuk ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana, Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transmisi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia telah berlangsung sejak ratusan tahun melalui dunia pesantren.
Pendidikan yang diajarkan pesantren adalah pendidikan universal, tidak dibatasi belajar secara periodik saja tetapi at-tarbiyah mada al-hayat  (pendidikan seumur hidup). Juga belajar dari alam, peristiwa, dan pengalaman. Dari sana para santri dituntut melakukan perbaikan terus-menerus. Motivasi utamanya “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.”
Pendidikan dengan konsep inilah yang amat perlu diadopsi oleh negara. Para pemimpin harus memberi sugesti kepada rakyat untuk terus belajar. Tidak ada kata “tamat” dalam belajar. Toh, bila terpaksa putus sekolah, tidak boleh menjadi alasan berhenti menuntut ilmu. Alam yang luas adalah sekolah yang sesungguhnya. Yang terpenting bagaimana segenap warga negara selalu melakukan hal yang terbaik hari demi hari.
Kedua, kiyai atau tuan guru adalah tokoh sentral dalam pesantren. Kiyai/tuan guru bukan saja pemimpin pesantren, tetapi qudwah (teladan) bagi jamaah dan masyarakatnya. Dalam mengurus pesantren, ia mengedepankan keteladanan berupa amal nyata sebelum memerintahkan sesuatu. “Izh an-naas bi fi’lika wala ta’izhhum bi qaulika!” (nasihati manusia dengan amalmu bukan dengan perkataanmu), kata Imam Al-Hasan Al-Basri. Pantang bagi tokoh agama meengatakan apa yang tidak dikerjakannya karena mendatangkan kemurkaan dari Allah. (Qs As-Shaff 3)
Seharusnya para pemimpin dan pemegang kekuasaan menjadikan diri mereka layaknya kiyai. Artinya sebelum mengintruksikan sesuatu, mereka terlebih dahulu menjalankannya. Mereka adalah teladan bagi rakyatnya layaknya kiyai bagi santri dan jamaahnya. Takutnya mereka kepada murka Allah seperti takutnya kiyai, bahkan lebih. Sebab, otoritas mereka lebih besar. Tentu tanggung jawab mereka di akhirat lebih berat. 
Ketiga, kiyai, tuan guru atau ulama adalah ulul amri fi at-tabligh wa al-bayan
(bertanggungjawab dalam penyampaian dan penjelasan) sebagaimana pemimpin atau umara adalah ulul amri fi at-tanfizh wa as-sulthan (pelaksana dan penguasa). Demikian penuturan syaikh Utsaimin dalam Sarh Riyadh As-Shalihin. Masing-masing memiki tugas dan peran yang signifikan bagi rakyat. Sehingga antara kiyai dan pemimpin harus bersinergi dalam visi dan misi. Tidak boleh ada garis demarkasi antara keduanya. Kiyai bertugas mengayomi rakyat dengan tausiyahnya. Pemimpin menjamin ketentraman rakyat dengan kekuasaannya. Sebaik-baik umara adalah yang dekat dengan ulama dan sejelek-jelek umara yang jauh dari ulama.
Keempat, kata santri berasal dari bahasa sanskerta, yaitu san artinya orang baik; tra berarti suka menolong. Lembaga tempat belajar itupun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Kaum santri dididik tidak hanya agar mereka berpendidikan saja, tetapi berbudi pekerti dan gemar menolong. Mereka dituntut harus bisa berkontribusi di mana pun mereka berada. Orientasi mereka adaah bermamfaat bagi sesama tanpa memelas upah atau pamrih.
Para penyelenggara negara wajib mengadopsi hal positif ini. Jadikanlah jiwa anda jiwa santri yang banyak memberi dan sedikit meminta. Layaknya santri yang dituntut berkontribusi, para pemimpin pun harus demikian. Mereka harus berjuang menyejahterakan rakyat bukan menyengsarakannya. Mereka bekerja keras untuk rakyat bukan mempekerjakannya. Mereka memberi rakyat makan bukan malah memerasnya.
Kelima, sebagian besar pesantren mewajibkan para santrinya tinggal di asrama. Ini dalam rangka tarbiyah full day. Para santri dikenai berbagai peraturan yang wajib ditaati. Bila mereka melanggar, akan dikenai sanksi. Pesantren ingin membentuk mereka tidak saja menjadi generasi unggul intlektual, tapi juga berakhlakul karimah. Bisa juga diistilahkan, pesantren mensinergikan antara ilmu dan amal.
Sebuah negara akan tetap tegak bila memiliki aturan yang ketat. Imam Ali pernah berkata, “Kebenaran dengan menejerial buruk akan kalah oleh kebatilan yang memiliki manajerial baik.” sebagai negara hukum, penyimpangan dalam bidang apapun terutama menyangkut agama, sosial, dan moral tidak boleh ditoleransi. Semua sama di mata hukum. Jangan sampai tidak adil alias tebang pilih. Hukum kebal bagi para elit, tapi tegas bagi yang tak berada. 
Keenam, pesantren hingga kini bisa tetap eksis mengingat kiprahnya hampir ratusan tahun, jauh sebelum republik ini berdiri. Rahasianya adalah karena pesantren dibangun atas dasar keikhlasan yang berbuah keringat. Para kiyai mendidik santrinya dengan nilai-nilai tadhiah (pengorbanan) dan khidmah (pelayanan). Orientasi utamanya adalah menyelamatkan umat dari penghambaan kepada manusia dan materi menuju penghambaan yang tulus kepada Allah SWT saja (Tauhid). Kiyai juga berhasil memobilisasi masyarakat sehingga mereka turut andil dalam memajukan pesantren.
Seandainya para pemimpin kita menganut nilai-nilai positif di atas, niscaya mereka akan tahu diri. Amanah kekuasaan itu adalah sarana untuk bertadhiah dan berkhidmah kepada rakyat, sehingga tidak pantas mereka menilep uang rakyat lalu memperkaya diri. Tidak layak mereka menyembah materi dan kursi. Tidak patut mereka menuntut gaji lebih sebelum kinerjanya terbukti.
Bila pemimpin dan jajarannya menjalankan amanah dengan baik, otomatis masyarakat akan bahu membahu membangun bangsa ini. sayang pemimpin sekarang hanya bisa menggiring rakyat ikut pemilu saja. Selepas itu mereka kembali dikhianati. Wajar saja bila rakyat sudah muak dan tak mau tahu dengan kondisi bangsanya.
Terakhir, pesantren mengajarkan kemandirian. Sampai saat ini mayoritas pesantren bisa hidup atas hasil keringat mereka sendiri. Mengingat bantuan dari pemerintah amat terbatas, hal itu bukan problem akut. Pesantren semakin giat mendirikan badan-badan usaha untuk melanjutkan eksistensi mereka. Meminta bantuan pemerintah bisa jadi dianggap opsi terakhir, itu pun harus melalui pemotongan dana di sana-sini.
Pemerintah kita seharusnya bisa belajar dari kemandirian pesantren. Sehingga bangsa kita bisa berdiri tegak dengan kaki kita sendiri tanpa perlu menengadahkan tangan mengemis hutang luar negeri. Pemerintah seharusnya malu pada pesantren yang hingga kini masih tetap eksis dan survive dalam berkiprah. Bila Pesantren pada masa lalu memilih non kooperatif terhadap kepentingan colonial, Pemerintah pun kini harus bersikap sama terhadap monopoli asing. Bila pesantren menyerukan berjihad menentang kolonialisme, kini pemerintah harus berani berjihad menentang neoliberalismejuh poin di atas adalah potret pesantren dengan kesederhanannnya. Kesederhanaan yangmelahirkan para pembesar negeri ini. Agus Salim sebagai diplomat ulung. Muhammad Natsir sebagai perdana menteri. Jendral Sudirman sebagai panglima TNI. Wahid Hasyim sebagai menteri, dan masih banyak lagi. Mereka adalah pemimpin sederhana berjiwa santri. Melalui rahimnya, pesantren tidak akan lelah melahirkan calon pemimpin yang dibutuhkan negeri ini.

  
nutup
   
Akhir-akhir ini pendidikan pesantren semkin diminati. Banyak orang yang menyebut pendidikan pesantren memiliki kelebihan tertentu. Pendekatan pendidikan yang tidak mengedepankan peraturan, dan sebaliknya lebih memberi warna kulturalnya ( dalam hal-hal tertentu), justru menunjukkan hasilnya yang lebih baik. Kelebihan pendidikan pesantren terutama dalam mengembangkan karakter, perilaku, atau akhlaknya. Sedangkan aspek yng selama ini masih dianggap kurang, hanyalah terkait dengan pendidikan sains dan tekhnologi. Jika kelemahan itu bisa dilengkapi, insya Allah pesantren berhasil menampakkan diri sebagai lembaga pendidikan yang lebih sempurna.
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki akar budaya yang kuat di masyarakat.  Pendidikan itu sendiri tidak bisa terlepas dengan unsur agama dan budaya. Pendidikan yang nihil nilai agama akan mencetak insan terdidik yang sekuler. Pendidikan tanpa budaya terasa kurang lengkap, bagai sayur tanpa garam. Agama tanpa pendidikan adalah kemustahilan. Budaya tanpa nilai pendidikan cenderung menyimpang dari hakikat kebenaran. Jadi Pendidikan adalah alat untuk meningkatkan kualitas keimanan akan pengamalan agama, penghayatan kebudayaan dan memajukan peradaban. Pendidikan berbasis agama dan budaya inilah yang merupakan wujud dari pendidikan Pondok Pesantren, yang menyelaraskan dan menyeimbangkan pengembangan kuantitatif dan pengembangan kualitatif antara aspek lahiriah dan aspek rohaniah.
Dalam Islam, pendidikan itu bukan hanya tugas orang per orang atau tanggung jawab pribadi semata, namun pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Islam memandang pendidikan dalam kerangka yang utuh dan global. Pendidikan bukan urusan dunia saja, tetapi perkara penting demi keselamatan di alam akhirat nanti. Sehingga tepatlah jika kita simpulkan bahwa pendidikan pesantren adalah harapan bagi dunia pendidikan sejak masa silam hingga masa yang akan datang. Wallohu a’lam bis shawab.







[1]Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren, (Jakarta:DEPAG, 2003) , h. 56.
[2] Muhammad Fathurrahman dan Sulistyorini, Meretas Pendidikan Berkualitas Dalam Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), h. 2.
[3] Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren,... h. 10.
[4] Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren,... h. 40.
[5] Imam Suprayogo, Spirit Islam Menuju Perubahan dan Kemajuan, (Malang: UIN Maliki,2012), h. 253.
[6]Imam Suprayogo, Spirit Islam Menuju Perubahan dan Kemajuan, ... h. 262.
[7] Zamakhsari Dhofier,  Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia (Jakarta: LP3ES, 2011), h. 45.
[8] Imam Suprayogo, Spirit Islam Menuju Perubahan dan Kemajuan, ... h. 252.
[9] Imam Suprayogo, Membangun Peradaban dari Pojok Tradisi, (Malang, UIN MALIKI, 2012), h. 248.
[10] Habib Ziadi, Mengelola Negara Ala Pesantren, www.darulmuhibbin-nw.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…