Langsung ke konten utama

“Hadits Shahih Madzhabku”, Ditujukan kepada Mujtahid

sumber: www.hidayatullah.com


MASYHUR dan shahih periwayatan dari Imam As Syafi’i, bahwa beliau telah menyatakan,  ”Jika kalian melihat dalam kitabku menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka tinggalkanlah perkataanku”, atau angkapan yang semakna dengannya, ”Jika telah shahih sebuah hadits, maka ia adalah madzhabku”. Para ulama mujtahid, semisal Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam As Syafi’i juga menyatakan hal yang semakna dengan apa yang telah  disampaikan oleh Imam As Syafi’i.
Namun, apakah itu bermakna bahwa siapa saja ketika mengetahui hadits shahih maka ia bisa mengatakan, ”Ini adalah madzhab As Syafi’i”, lalu ia mengamalkan makna dzahir dari hadits itu? Ternyata tidak demikian.
Para ulama mu’tabar telah menjelaskan maksud dari pernyataan para imam mujtahid tersebut serta menetapkan kriteria siapa yang memiliki kapasitas dalam menilai bahwa pendapat Imam telah bertentangan dengan hadits shahih, sehingga perlu didahulukan hadits shahih tersebut daripada pernyataan sang Imam?
Kapasitas dalam Menilai Pendapat Imam untuk Dihadapkan dengan Hadits Shahih
Dalam hal ini, Al Hafidz Ibnu Shalah menyampaikan, bahwa beberapa ulama besar As Syafi’iyah melakukan hal ini, yakni berfatwa dengan hadits ketika melihat bahwa pendapatmadzhab berselisihan dengan hadits. Semisal dari mereka adalah Imam Al Buwaithi, Abu Qasim Ad Dariki serta Abu Hasan Ath Thabari (lihat, Adab Al Mufti wa Al Mustafti, hal. 53).
Kemudian Al Hafidz Ibnu Shalah menyampaikan bahwa mereka yang melakukan hal ini tidaklah banyak dan beliau menyampaikan, ”Hal ini bukanlah perkara yang remeh, tidak setiap faqih mudah baginya independen dalam mengamalkan apa yang ia pandang sebagai hujjah dalam hadits”. (lihat, Adab Al Mufti wa Al Mustafti, hal. 54)
Dari para ulama yang disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Shalah, diketahui bahwa yang mampu melakukan hal ini adalah mujtahid madzhab.
Imam An Nawawi juga menjelaskan,”Hal ini, apa yang dikatakan As Syafi’i,  bukan bermakna bahwa siapa saja yang melihat hadits shahih dia mengatakan,’ini adalah madzhab As Syafi’i’, dan mengamalkan dzahirnya. Dan sesungguhnya hal ini bagi siapa yang sampai pada derajat ijtihad dalam madzhab”. (Al Majmu’, 1/105)
Selanjutnya, Imam An Nawawi menyampaikan,”Dan syaratnya dalam prasangkanya didominasi bahwa As Syafi’i-semoga Allah merahmatinya-belum mengetahui hadits tersebut atau belum mengetahui keshahihannya. Hal ini tidak lain setelah mentela’ah kitab-kitab As Syafi’I seluruhnya demikian juga kitab-kitab para pengikutnya yang mengambil darinya juga yang semisal dengan kitab-kitab tersebut. Dan syarat ini sulit, sedikit orang yang memiliki sifat tersebut.” (Al Majmu’, 1/105)
Perlunya syarat itu menurut Imam An Nawawi, dikarenakan Imam As Syafi’i  sengaja meninggalkan pengamalan dhahir hadits yang beliau mengatahuinya dan itu cukup banyak. Hal itu dikarenakan beliau memperoleh dalil yang menunjukkan kecacatan,  naskh, takhsis atau melakukan takwil padanya. (lihat, Al Majmu’, 1/105)
Sedangkan pengetahuan Imam As Syafi’I yang menyeluruh mengenai hadits hukum, Ibnu Huzaimah yang merupakan hafidz hadits yang juga seorang faqih yang telah mengkaji pendapat-pendapat Imam As Syafi menyatakan,”Aku tidak mengetahui Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam masalah halal dan haram yang tidak dicantumkan As Syafi’i dalam kitab-kitabnya”. (lihat Al Majmu, 1/105)
Dengan demikian, amat kecil kemungkinan ada hadits yang terlewat dari kajian Imam As Syafi’i. Namun meski demikian tetap ada upaya koreksi terhadap pendapat Imam madzhabyang telah dilakukan oleh para ulama derajat yang sampai pada mujtahid madzhab, seperti masalah tatswib, rajih dalam madzhab adalah Sunnah, dikarenakan adanya dalil shahih, meski bertentangan dengan pendapat jadid Imam As Syafi’i.
Kritik terhadap Ulama yang Tidak Tepat dalam Menerapkan Pernyataan Imam As Syafi’i
Para ulama menyebutkan sejumlah ulama yang menerapkan kaidah Imam As Syafi’i di atas, namun kurang tepat dalam pelaksaannya. Diantara adalah Ibnu Al Jarud yang menyampaikan, ”Telah shahih hadits mengenai batalnya puasa orang yang membekam dan yang dibekam. Maka aku berkata, ’As Syafi’i menyatakan, ’telah berbuka orang yang membekam dan yang dibekam’”. Para ulama pun menyanggah pendapat Ibnu Al Jarud, karena Imam As Syafi’i telah mengetahui hadits tersebut dan sengaja meninggalkannya, karena menurut beliau hadits itumansukh. (lihat, Al Majmu’, 1/105)
Hal yang sama terjadi pada Abu Al Walid An Naisaburi, ulama madzhab As Syafi’i  yang mengikuti pendapat Ibnu Al Jarud dalam masalah berbukanya orang yang dibekam dan yang membekam. Para ulama Syafi’iyah pun menyanggah beliau sebagaimana menyanggah Ibnu Al Jarud. Menurut Imam As Subki, hal itu terjadi karena keterbatasan upaya mereka dalam melakukan pengkajian (lihat, Ma’na Qauli Al Imam Al Muththalibi, Idza Shaha Al Hadits fa Huwa Madzhabi, hal. 95).
Hal serupa terjadi pada Abu Al Hasan Al Karaji, yang meninggalkan qunut Shubuh dengan argumen, ”Telah shahih hadits bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meninggalkanqunut shubuh”.  Imam As Subki sempat meninggalkan qunut shubuh karena pendapat tersebut. Namun setelah mengetahui bahwa yang ditinggalkan dari qunut waktu Shubuh dan di luarnya adalah berdoa atas qabilah Ri’l dan Dzakwan, sedangkan doa qunut Shubuh secara mutlak ada haditsnya, beliau pun kembali berqunut. As Subki pun menyampaikan, ”Tidak ada sedikitpun permasalahan hal itu dengan pernyataan As Syafi’i, dan sesungguhnya keterbatasan menimpa kita dalam sejumlah pandangan”. (lihat, Ma’na Qauli Al Imam Al Muththalibi, Idza Shaha Al Hadits fa Huwa Madzhabi, hal. 95)
Jika para ulama besar terkadang kurang tapat, karena keterbatasan dalam upaya melakukan kajian dalam menerapkan pernyataan Imam As Syafi’i, bagaimana dengan kita yang alim pun tidak, faqih pun bukan mujtahid apalagi, yang menyeru untuk mengoreksi pendapat Imam As Syafi’i dan meninggalkannya, dengan alasan bahwa madzhab As Syafi’i adalah hadits shahih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/
Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…