Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

Acara Wisuda Huffadz Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya

MUI: Aparat Tidak Boleh Main Eksekusi Tanpa Proses Pengadilan

Hidayatullah.com– Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indoensia (MUI) Se-Indonesia Ke-5 yang digelar di Pesantren At-Tauhiddiyah Cikura, Bojong, Tegal, Jawa Tengah mulai 07 hingga 09 Juni 2015 kemarin menghasilkan beberapa rekomendasi. Salah satunya rekomendasi hasil dari pembahasan masalah radikalisme agama dan penanggulangannya. Pembahasan radikalisme masuk dalam Masail Assasiyah Wathaniyah(Masalah Strategis Kebangsaan). Setelah diplenokan dan dibahas dalam sidang Komisi A, maka disepakati dan direkomendasikan beberapa hal, di antaranya; Pertama, Umat Islam di Indonesia berfaham ahlus sunnah wal-jama’ah yang berciri moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), berpegang pada metodologi pengambilan hukum (manhajiy), dinamis (tathawwuriy), dan mengedepankan wajah Islam yang welas asih (rahmah lil-alamin). KeduaAhlus Sunnah Wal Jama’ah bukan saja menjadi panduan dalam berfikir (manhaj al-fikr) tapi juga merupakan panduan berperilaku (manhaj al-‘amal) umat Islam Indonesia, dalam kehidupa…

ACARA TASYAKKURAN PENAMATAN SANTRI PONPES DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA

“Hadits Shahih Madzhabku”, Ditujukan kepada Mujtahid

sumber: www.hidayatullah.com

MASYHUR dan shahih periwayatan dari Imam As Syafi’i, bahwa beliau telah menyatakan,  ”Jika kalian melihat dalam kitabku menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka tinggalkanlah perkataanku”, atau angkapan yang semakna dengannya, ”Jika telah shahih sebuah hadits, maka ia adalah madzhabku”. Para ulama mujtahid, semisal Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam As Syafi’i juga menyatakan hal yang semakna dengan apa yang telah  disampaikan oleh Imam As Syafi’i. Namun, apakah itu bermakna bahwa siapa saja ketika mengetahui hadits shahih maka ia bisa mengatakan, ”Ini adalah madzhab As Syafi’i”, lalu ia mengamalkan makna dzahir dari hadits itu? Ternyata tidak demikian. Para ulama mu’tabar telah menjelaskan maksud dari pernyataan para imam mujtahid tersebut serta menetapkan kriteria siapa yang memiliki kapasitas dalam menilai bahwa pendapat Imam telah bertentangan dengan hadits shahih, sehingga perlu didahulukan hadits shahih tersebut daripada…