Langsung ke konten utama

Naik Haji Berkat Doa Sang Guru



 By: H. Habib Ziadi

Masjidil Haram
Jika seorang hamba sudah menanamkan tekad kuat dan bulat dalam hatinya untuk meraih sesuatu, maka segalanya bisa menjadi mungkin. Bisa menjadi nyata. Meskipun menurut banyak orang mustahil bakal terwujud. Namun, bila Allah Yang Maha Kuasa merestui, maka ia akan terjadi. Pepatah Arab mengatakan, idza qowiyal azmu wadhohas sabil yaitu jika tekad sudah kuat maka jalan akan terbentang jelas.
Banyak terbukti. Ketika orang-orang yang di mata manusia dinilai tidak akan mampu mewujudkan mimpi dan cita-citanya, ternyata pada suatu masa, mereka yang ragu itu menjadi terheran-heran, kok bisa ! Apa rahasianya?
Para pemimpi dan pemilik cita-cita itu sudah mengerahkan seluruh kemampuan dan doanya, sehingga harapannya itu menjadi nyata. Orang miskin banyak yang menjadi sukses. Anak yatim banyak yang kaya raya. Putra-putri dari orang tua yang pas-pasan berhasil menjadi pemuka masyarakat. Mereka semua sadar, kesuksesan itu tidak gratis. Harus dijemput. Harus dipancing terus. Dengan kerja keras. Dengan ikhtiar yang maksimal. Dilengkapi dengan solat, sabar, dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
H.M. Sukiman Azmi
Kira-kira seperti itulah yang dialami oleh Bapak H. Sukiman Azmi, mantan Bupati Lombok Timur. Ia menceritakan dalam acara Reuni Alumni madrasah Muallimin pancor tahun 2012 lalu. Saaat itu ia masih menjabat Bupati. Ia menyatakan bahwa dirinya bukan anak orang kaya. Bukan dari keluarga ternama, apalagi bangsawan atau ningrat. Ia hanya anak seorang pedagang ikan di Desa Rumbuk.
Selepas sekolah dasar dikirim belajar ke Madrasah Muallimin NW Pancor oleh orang tuanya. Harapannya kelak bisa menjadi ahli agama, atau paling tidak dengan belajar agama nanti  bisa menjaga diri dari derasnya godaan zaman.
Di tempat itu, Sukiman muda hilir mudik membawa kitab-kitabnya mendatangi rumah para ustadz. Biasanya Selepas subuh dan Magrib hingga larut malam. Adapun di pagi hari, ia mengikuti pendidikan formal di Madrasah Muallimin. Hingga 6 tahun lamanya, ia menghabiskan masa-masa produktifnya untuk menjelajahi kota santri guna memuaskan dahaganya akan ilmu sekaligus mengisi relung hatinya dengan petuah-petuah keagamaan dari para uastadz dan tuan guru.
Singkat cerita ketika usia sudah cukup dewasa, Pak Sukiman memperoleh peluang kerja di Ibu Kota Jakarta. Sesuai dengan tradisi santri NW, ketika akan hendak bersafar atau hijrah ke luar daerah, sesempat-sempatnya harus sowan kepada Bapak maulanasyaikh, TGKH. M. Zainudddin Abdul Madjid di gedeng beliau di Pancor Bermi. Demikian pula dengan Pak Sukiman. Tujuannya minta doa dari sang guru besar.
Santri Membawa Kitab
Setibanya di gedeng Maulanasyaikh, ia ditanya, “Sai ante?” (siapa kamu). Setelah menjelaskan dirinya dan asalnya, ia ditanya kembali, “Ape mele mek?” (kau mau apa). Pria asal desa Rumbuk Lombok Timur itu mengutarakan tujuannya datang ke rumah beliau. Pendiri NW kemudian menandatanganinya dengan jari telunjuknya dan mengetuk kepala pak Sukiman. Ia kembali ditanya apa memiliki harapan yang lain. Dengan jujur ia menjawab, “Saya berharap bisa naik haji, Syaikh.”
Bapak Maulanasyaikh lalu mengajarkan beberapa amalan kepadanya agar harapannya itu kelak terkabul. Selepas itu, ia didoakan semoga semua urusannya di Ibu Kota menjadi lancar. Tentu ia sangat bersuka cita disambut hangat oleh guru besanya, guru yang dikaguminya. Terlebih lagi ia didoakan dan diberi amalan yang mau tidak mau harus diistiqomahkan bila ia ingin cita-citanya tercapai.
Setelah hari itu, ia semakin memantapkan hatinya untuk menatap masa depan. Berkat doa restu dari orang tua, terlebih lagi dari gurunya, ia memupuk rasa optimisme yang tinggi dalam dadanya. Ia bekerja dengan profesional di ibu kota. Tidak lupa, ia istiqomahkan amalan dari guru besarnya.
Amalan yang dihadiahkan oleh Bapak Maulanasyaikh itu adalah mengerjakan solat tahajjud empat rakaat 2 salam. Masing-masing rakaat setelah Al-Fatihah membaca suart At-Tin, Al-Fil, Al-Quraish, dan An-Nasr. Setelah itu berdoa lalu mengerjakan solat witir.
Pertanyaannya mengapa harus surat-suart itu? Ternyata bila diperhatikan dengan seksama semua surat itu berbicara tentang Kota Makkah dan Ka’bah. Maulanasyaikh membahasakannya, “Surat-surat itu yang akan memanggilmu datang ke Makkah.”
Dalam surat At-Tin ada kalimat wa hadza baladil amin yaitu inilah negeri yang aman. Kalimat ini merujuk pada Kota Makkah. Sedangkan surat Al-Fil mengisahkan peristiwa diluluhlantakkannya Abrahah dan balatentara gajahnya karena ambisi mereka yang ingin menghancurkan Ka’bah. Peristiwa yang terjadi sebelum lahirnya rasulullah saw. Surat Al-Quraish mengisahkan profesi suku Quraish yaitu berniaga. Terdapat kalimat fal ya’budu Robba hadzal bait atau maka sembahlah Tuhan Pemilik rumah ini. Terakhir surat An-Nasr mengabadikan peristiwa besar yaitu Fathu Makkah atau penaklukan kota Makkah.
Pak Sukiman dengan yakinnya mengistiqomahkan amalan tersebut setelah menerima ijazah dari sang guru. Terhitung setelah sepuluh tahun mengamalkannya rutin setiap malam, berusaha sekuat tenaga tanpa putus. Alhasil, mimpi besarnya tercapai. Ia berhasil menginjakkan kakinya di tanah Suci. Bukan satu kali, dua kali, atau tiga kali. Akan tetapi sampai sepuluh kali berturut-turut. Lebih hebatnya lagi, semuanya dibiayai pemerintah. Sebab, ia bekerja di Departemen Agama. Kedatangannya selama 10 tahun sebagai petugas haji resmi Depag RI. Subhanalloh.
“Banyak orang terheran-heran. Di Jakarta kami masih ngekos. Penghasilan tidak seberapa. Motor yang ada hanya Honda butut tahun 70-an.” Terangnya.
Petugas haji
“Seandainya saya tidak sowan menghadap Maulanasyaikh, mungkin saya tidak memperoleh nikmat sebesar itu. Namun sebagai murid beliau, abituren NW, tidak afdol, jika bertugas keluar daerah tidak pamitan dan minta doa kepada beliau,” Menurut pria yang pernah menjabat Dandim Lotim ini, semua itu berkat doa ikhlas sang guru dan keyakinan yang kuat bahwa Allah pasti membuka jalan.
Benarlah firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 79, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan kami, maka kami akan bukakan baginya jalan-jalan Kami.”
Ada hal lucu yang disampaikan oleh Pak Sukiman. “Terus-terang selepas menjabat Bupati, saya jarang Tahajjud. Alhasil, sejak itu saya tidak lagi naik haji. Saya hampir selalu pulang malam, jadi sering kelolosan gak dapat tahajjud” kata Bupati Lombok Timur periode 2008-2013 itu jujur.
Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua bahwa Allah SWT Maha Kuasa membuka banyak jalan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam memuluskan cita-citanya. Bahkan kerap sekali dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Ada banyak kejutan Allah di dunia ini.  Semua itu adalah bukti tidak ada yang mustahil bila bersandar pada kehendak-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…