Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Imam Izzuddin bin Abdussalam, Sang Sultanul Ulama

H. Habib Ziadi Thohir
 Tokoh kita kali ini adalah seorang alim yang mumpuni keilmuannya. Ia memang tidak setenar Imam mazhab empat, Imam Nawawi, Imam Ghazali, atau Imam Ibnu Taimiyah. Namun kontribusinya terhadap dakwah, ilmu, dan jihad tercatat dengan tinta emas sejarah Islam. Ia adalah Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi Al-Qasim bin Hasan bin Muhammad bin Muhadzdzab, bergelarIzzuddin(kemuliaan agama).Masyarakat pada masa itu memanggilnya dengan Abu Muhammad. Ia dilahirkan di Damaskus. Mengenai tahun kelahirannya, para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, ia dilahirkan pada tahun 577 H. Sebagian mencatat bahwa ia lahir tahun 578 H. Namun pendapat pertama lebih kuat. Imam agung ini wafat pada tahun 660 H di Kairo. Gelar Izzuddin diberikan sesuai dengan adat pada masa itu. Setiap khalifah, sultan, pejabat, terlebih lagi para ulama diberi tambahan gelar pada namanya. Gelar ini nantinya lebih melekat dalam dirinya. Sehingga ia lebih dikenal dengan nama Izzuddin bin Abdussalam ata…

Belajar dari Anak-anak Palestina

www.dakwatuna.com
“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-Ankabut: 1-3)
Kesempatan tinggal di Indonesia sudah seharusnya patut kita syukuri. Terlepas dari segala macam permasalahan bangsa yang sedang dihadapi. Bukan apa-apa, jika kita melihatnya di luar konteks permasalahan tersebut, maka masyarakat Indonesia hidup dengan aman dan tenteram dalam rumahnya masing-masing, tanpa harus khawatir tentang kemungkinan terjadinya konflik antar wilayah yang mungkin terjadi. Hal ini karena Indonesia adalah sebuah negara yang boleh dibilang dengan predikat “aman” di dunia internasional, khususnya dalam bidang perpolitikan dan sengketa internasional. Berbeda halnya dengan yang terjadi di Palestina, masyarakatnya hidup dalam kebisingan dan suara-su…

Tidak Tahu Sok Tahu, Tahu Tapi Belagu

By : Ahmad Zarkasih, Lc, sumber: www.rumahfiqih.com
Masalahnya belakangan ini –saya melihat- menjadi sangat rumit, padahal sejatinya masalah itu adalah masalah yang biasa dan ringan saja. Dalam masalah syariah tentunya, atau lebih tepatnya masalah yang masih dalam perdebatan ulama. Artinya ulama belum sepakat atau memang tidaak sepakat tentang hukum perkara tersebut. Menjadi rumit karena yang “tidak tahu” justru menjadi paling vocal dan sok tahu, dan yang “mengerti” pun bersikap sombong. Maksudnya begini, ada masalah yang kata madzhab A hukumnya A, tapi madzhab B punya fatwa B, berbeda dengan madzhab A, dan madzhab C lain lagi fatwanya. Jadi 3 suara di sini. Orang Yang Tidak Tahu, Tapi Sok Tahu Orang yang hanya tahu satu pendapat, termasuk orang yang “tidak tahu”, adanya perbedaan ini, ia hanya tahu hukum perkara tersebut A –misalnya- karena ia belajar dengan guru yang mengajarkan madzhab A. anehnya, ia hanya tahu satu itu saja tapi ia sangat vocal dan banyak “omong”-nya da…