Langsung ke konten utama

NW, Kiprah Keummatan dan Keindonesiaan

Lombok Post, Jum'at 8 Agustus 2014
H. Habib Ziadi
Nahdlatul Wathan (NW) secara hitoris resmi menjadi organisasi kemasyarakata pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H atau 1 Maret 1953 M. Embrionya dari 2 madrasah induk, Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiah (NWDI) yang lahir tahun  1356 H/1936M dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang lahir tahun 1362 H/1943 M.
NW yang didirikan oleh Maulanasyekh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid memiliki visi perjuangan yang tegas dan jelas. Itu bisa dinilai dari beberapa jargon yang kerap didengungkan oleh sang pendiri. Pertama, Li i’la’i kalimatilkah wa li izzil Islam wal muslimin, yaitu untuk meninggikan kalimat perintah Allah, dan demi kemuliaan Islam beserta kaum muslimin. Kedua, jargon NW, Pokoknya NW-Pokok NW, Iman dan Taqwa. Ketiga, trilogi perjuangan NW yaitu: yakin, ikhlas, dan itiqamah. Keempat, kalimat beliau yang menyatakan bahwa yang paling mulia di sisinya adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi perjuangan NW dan yang paling buruk adalah yang banyak merugikan perjuangan NW. (Muslihun Muslim, 2012: 25)
Maulanasyekh yang menisbatkan namanya dengan madrasah yang didirikannya menjadi  Hamzanwadi (H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah) menerangkan visi besarnya melalui jargon-jargon di atas. Landasan perjuangan NW adalah semata-mata mengejawantahkan ajaran Islam. Bila ajaran Islam dijalankan melalui proses dakwah dan pendidikan yang intensif, maka kejayaan ummat akan terniscayakan.
Medan dakwah NW adalah di Indonesia. Kiyai Hamzanwadi menyadari status ummat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia. Artinya, maju mundurnya bangsa ini adalah tanggungjawab kaum mayoritas. Jika mayoritasnya terdidik, maka Indonesia menjadi bangsa yang terdidik. Jika mayoritasnya sejahtera, maka bangsa ini otomatis sejahtera. Begitupun sebaliknya. Dan warga NW, termasuk dalam golongan mayoritas itu.
Kiyai Hamzanwadi menjelaskan bahwa sebagai warga negara yang baik, maka semua komponen masyarakat wajib berpartisifasi dalam membangun negara dan tanah air. Betapa pun lanjutnya, hal itu harus diresapi bersama-sama sekaligus mengisinya dengan gerakan-gerakan yang mampu memberikan sumbangan riil dalam membangunan dan untuk kebangkitan tanah air (Nahdlatul Wathan). Semangat membela dan membangun tanah air itulah yang selanjutnya mengilhami beliau menamaka lembaga pendidikan dan gerakan dakwahnya dengan nama “Nahdlatul Wathan” atau Kebangkitan Tanah Air.
Beliau melanjutkan bahwa kemerdekaan yang direbut dari tangan penjajah ini harus diisi dengan segla upaya demi kemaslahatan bersama, yaitu membangkitakan tanah air. Sehingga siapapun yang mengaku bagian dari bangsa ini harus rela berkorban membangun bangsanya. (Rasmiyanto, 2003 :100-101).
Kebangkitan bangsa yang dikehendaki NW adalah kebangkitan yang berdasakan iman dan taqwa. Kebangkitan apapun yang berlandaskan materialisme semata, merupakan kebangkitan semu. Kebangkitan hakiki adalah kebangkitan spiritual. Kebangkitan yang dimotori para ulama dan santri. Inilah kebangkitan hakiki, bangkit lahir dan batin.
Oleh karenanya, komitmen warga NW dalam mengaplikasikan tuntutan dari nama besar yang disandangnya sangat dinanti. Sehingga sumbangsihnya terhadap kemajuan bangsa ini sangat diharapkan, bukan saja oleh pendirinya, namun oleh masyarakat banyak. Sebisa mungkin warga NW mengambil peran signifikan dalam berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
Adapun kiprah NW dalam bermuamalah dengan masyarakat sangat bervariasi. NW yang hadir di tengah-tengah ummat berjuang mencerdaskan ummat dari keterbelakangan dan kebodohan. Dalam istilah Maulana, terbebas dari sakit jahil. NW mengajak seluruh komponen masyarakat tidak saja rajin mengajidan rajin beribadah, namun juga harus rajin bekerja. Bekerja pun harus produktif.
Sejak awal lahirnya, NW menepis anggapan inklusivisme. Hal ini bisa dinilai dari format pesantren atau madrasah yang berlabel NW. Inklusivisme pesantren atau madrasah NW muncul semata-mata pertimbangan pribadi Mulana. Strategi penting yang dikembangkan adalah menciptakan sense of belonging pada masyarakat atas keberadaan pesantren ini. Karena itu, sejak awal hingga saat ini pesantrenNW tidak dilengkapi dengan salah satu elemen pokok, yaitu pondok bagi santri. Sebagai gantinya, para santri tinggal bersama masyarakat di sekitar pondok dan menjadi satu kesatuan dengan masyarakat.
Pada awalnya strategi ini tidak dirasakan oleh sebagian kominitas pesantren, termasuk masyarakat. Namun lambat laun setelah muncul impact ekonomi dari pola ini, masyarakat menganggapnya menjadi sangat strategis, dan akhirnya jadilah inklusivisme ini menjadi nilai kolektif (Khirjan Nahdi, 2012: 74).
Dampak positif dalam bidang ekonomi sangat terasa sekali. Ekonomi masyarakat menggeliat. Mereka berlomba-lomba membangun pemondokan yang disewakan kepada para santri itu. Warung-warung nasi bermunculan. Ada pula yang sekedar menjual lauk pauk. Dampak dalam bidang dakwah pun kental terasa. Mushalla-mushalla di kampung-kampung ramai dengan para santri. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) banyak dibentuk yang diasuh langsung oleh santri yang pandai mengaji. Para santri hilir mudik mendatangi rumah ustadz yang membuka pengajian kitab kuning. Pergaulan sosial pun terkena dampak positif. masyarakat cenderung lebih islami dan relijius. Kenakalan remaja berkurang. Alhasil, predikat kota atau desa santri disematkan di beberapa tempat. Strategi semacam ini melahirkan simbiosis mutualisme antara pesantren, santri, dan masyarakat sekitar. Seperti pemaparan di atas, pesantren seperti format ini mengandung dampak positif yang signifikan.
Pendidikan dalam NW mengedepankan egalitarianisme Islam, persamaan hak untuk memperoleh akses pendidikan (Khirjan Nahdi, 2012: 160). Pendidikan tidak saja monopoli kaum bangsawan dan hartawan, namun rakuat miskin pun berhak memperolehnya. Sehingga tidak ada istilah menolak atau membatasi orang yang mau belajar dalam NW. Kiyai Hamzanwadi sendiri yang meletakkan fondasi ini bagi seluruh lembaga pendidikan NW.
Hari ini NW di usia yang tidak muda lagi dituntut meningkatkan kiprah keummatan dan keindonesiaannya dalam berbagai bidang. Dalam bidang sosial, sudah masanya NW memiliki Rumah Sakit, minimal menginisiasi pendirian klinik-klinik kesehatan di berbagai tempat. Mengingat kesehatan adalah kebutuhan pokok manusia. Semakin tinggi tingkat kesehatan masyarakat, semakin meningkat pula produktifitasnya. Di bidang yang sama, NW sebaiknya memiliki badan sosial yang menghimpun dana  zakat, sedekah, dan wakaf dari masyarakat. Semua itu demi kemaslahatan ummat. Saat ini tidak sulit menjumpai Abiturien NW yang kaya raya. Entah pengusaha sukses, politisi, pegawai, peternak, dan petani kaya. Di samping itu, jamaah grass root yang masih membutuhkan uluran tangan juga masih banyak. Oleh karenanya, tidak ada alasan lain untuk tidak membentuk LAZIS yang amanah, profesional, dan akuntabel.
Dalam bidang ekonomi, NW sejatinya adalah mitra strategis bagi pemerintah atau lembaga swasta untuk pemberdayaan ummat. NW harus mengisi bidang tersebut. Entah itu dengan menghidupkan semangat wirausaha melalui madrasah atau majelis taklim NW atau menggiatkan seminar bertemakan wirausaha. Baitul Mal wat Tamwil (BMT) perlu diinisiasi. Dan, bila LAZIS NW sudah berjalan, NW bisa menfasilitasi wirausahawan baru plus modal awal usaha. Dengan itu, NW membantu program pemerintah mengurangi angka pengangguran.
Dalam bidang dakwah, NW harus melakukan terobosan dan akselerasi. Materi-materi dakwah perlu disederhanakan. Bila perlu dalam bentuk kurikulum yang rapi, berjenjang, dan komprehenship. Pemahaman ummat terhadap Islam semakin menipis. Ditambah dengan semangat mengaji yang semakin mengendor. Mayoritas jamaah pengajian umumnya para lansia. Sedangkan para pemuda-pemudi belum tersentuh dakwah sangat banyak. Mau tidak mau perlu revitalisasi metode dan materi dakwah agar menyentuh setiap lapisan. Dakwah NW pun harus memanfaatkan kemajuan teknologi dan berbagai ragam media yang ada saat ini.
Semua ini adalah tugas bersama. Bukan semata-mata tugas Pengurus Besar NW atau para pejabat fungsionalnya. Ini adalah tugas para akademisi, para Tuan Guru, para abituen, dan kaum cerdik pandai lainnya yang bilangannya kini tidak terhitung. Ummat menunggu kiprah NW untuk mengisi semua sisi kebaikan yang masih banyak tersisa. NW harus sejajar dengan ormas Islam lain, bahkan bila perlu melampauinya. Untuk itu, marilah kita berfikir, bertutur, dan bekerja yang produktif. Banyak hal yang NW sudah berikan. Namun yang belum diupayakan lebih banyak lagi. Tugas yang berat akan berat dipikul seorang diri, tetapi akan lebih ringan bila bersinergi. Wallohul muwaffiqu wal hadi ila sabilirrasyad.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/
Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…