Langsung ke konten utama

PACU GAMA' NA



Oleh: H. Habib Ziadi Thohir 


Kini kita tengah berada di akhir zaman, yang oleh Maulana TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid rahimahullah disebut dalam mukaddimah Hizib sebagai sa’atul fitan wassyurur (masa penuh fitnah dan kejahatan). Beliau menambahkan, “Sekarang adalah masa yang penuh kegilaan dan kebohongan. masa yang destruktif dengan fenomena taklid padaa tradisi Eropa dan kekafiran.” Alhasil  di mana-mana berbagai macam dosa, maksiat, dan fitnah merajalela, sehingga bagi orang yang rapuh aqidahnya akan sangat mudah terbawa arus tersebut. Arus yang tak ayal lagi akan membawa siapa saja menuju jurang kehancuran.

Seorang muslim akan mudah terpengaruh fitnah syahwat dan syubhat manakala ia enggan mempelajari dan mengamalkan agamanya. Padahal ilmu agama sangatlah penting bagi seorang muslim. Tidak mengherankan jika para ulama banyak menulis dalam pembahasan awal kitab mereka tentang urgensi ilmu.

Ya, hal itu yang kini banyak ditinggalkan kaum muslimin. Tidak sedikit dari kaum muslimin mencukupkan diri dengan apa yang telah dipelajari dari orang tuanya atau dari sekolahnya dulu tanpa mau mempelajarinya lagi dengan menghadiri pengajian atau membaca buku islami. Tidak heran kalau ilmu agama kita jalan di tempat alias tidak bertambah.Malah semakin lama semakin berkurang dimakan lupa.

Di era serba modern ini, akses memperoleh ilmu semakin mudah saja, termasuk ilmu agama. Sistem klasik dan tradisional seperti ceramah live dan direct dihadapan jamaah masih eksis. Ditambah lagi dakwah kini telah merambah media televisi, radio, bahkan internet. Dakwah kian makin mudah dijangkau oleh siapa saja, di mana saja dan oleh segala usia, baik melalui dunia nyata dan dunia maya. Artinya, tidak ada alasan untuk tidak melek ilmu agama.

Jangan sampai kita berpikiran agama itu shalat saja, puasa Ramadhan cukup, berhaji cukup, tanpa sedikit pun kita mau memperdalam ilmu agama. Sebab, semua ibadah bila didasari atas keawaman atau kebodohan, kemungkinan besar akan tertolak. Istilahnya ”al-ilmu qobla al-amal” yaitu berilmu dulu baru beramal.

Dalam sebuah lagu berbahasa Sasak berjudul PACU GAMA’NA (hendaklah kita giat) yang digubah oleh TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid disebutkan:

Ina’ ama’ku (Ibu bapakku)/Semeton jaringku pada (Saudaraku semua)/Ndek’na ara’ita (tidak ada kita)/Gen kekel le’ dunia (yang kekal di dunia)/Daka’ ta sugi (meskipun kita kaya)/Daka’ ta bangsa mulia (meskipun kita bangsa mulia)/Ndek na ara’ guna (tidak berguna sama sekali)/Mun de’ na ara’ agama (jika tidak ada agama)


Lagu di atas bila dibaca terkesan simpel sekali. Akan tetapi, kandungannya sangat mendalam. Ada pesan sekaligus peringatan akan kesementaraan kita di dunia. Siapapun dia, bagaimanapun keadaannya, dari golongan manapun dia berasal, tetap saja kematian itu adalah terminal kehidupan di dunia. Sangat merugi sekali orang yang pernah hidup bertahun-tahun di atasnya, namun sangat jauh dari nilai-nilai agama.

Pacu gama’ na (hendaklah kita giat)/Ngaji sembahyang puasa (mengaji, shalat, dan berpuasa)/Mudahan gama’ (semoga saja)/Ta pada tama surge (kita semua masuk surga)

Pacu gama’na sangat layak menjadi seruan kebangkitan. Semangat pacu gama’na bisa dimaknai berpacu untuk mencapai cita-cita. Mengingat keterpurukan bangsa ada di berbagai lini kehidupan, terutama akhlak dan moralitas anak bangsa sudah jauh dari nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Awalnya kalimat pacu gama’na adalah kalimat sugesti orang tua Sasak kepada anak-anaknya untuk giat belajar, rajin bekerja, dan istiqomah beribadah. Kalimat sederhana ini diucapkan bila orang tua atau yang dituakan mengiringi kepergian anaknya. Tetapi sebenarnya kalimat ini bisa menjadi sugesti yang lebih luas.

Agama Islam menuntut pemeluknya untuk tekun ( sasak: pacu). Istilah Arabnya Itqan. Nabi saw pernah berpesan bahwa Allah sangat mencintai seorang hamba yang bila mengerjakan sesuatu dengan tekun (pacu). Ketekunan itu bukan dalam beribadah saja, namun dalam segala aktifitas positif. bahkan para pakar sosiologi menyakini bahwa semakin tinggi kesadaran beragama masyarakat, semakin tinggi pula produktifitas kerjanya.

Oleh karena itu, para pelajar harus pacu gama’na menuntut ilmu setinggi-tingginya demi hari depan yang lebih cerah. Para pengajar harus pacu gama’na dalam mendidik anak bangsa ini. Para pegawai harus pacu gama’na bekerja sesuai tupoksinya. Para petani harus pacu gama’na menanam untuk kebutuhan diri dian keluarganya. Para pejabat harus pacu gama’na bekerja yang amanah dan jujur. Para pemimpin negeri ini harus pacu gama’na mengikhtiarkan kesejahteraan lahir batin rakyatnya.
Semangat pacu gama’na adalah semangat yang didasari atas dasar ilmu pengetahuan. Generasi yang unggul adalah generasi yang berilmu. Kebangkitan sebuah peradaban lahir dari kebangkitan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, antara ibadah ukhrawiah dan amalian duniawiyah, kunci suksesnya ada pada penguasaan ilmu.

Di akhirat nanti, tempat berpulang manusia hanya surga atau neraka. Bagi yang telah membekali dirinya dengan rajin menuntut ilmu syar’i (mengaji), tidak pernah meninggalkan shalat dan berpuasa tatkala hidup di dunia, mereka itu akan masuk surga yang seperti janji Allah SWT. Allah SWT hanya meminta kita untuk pacu (giat/rajin/tekun/profesional) dalam beramal kebaikan. Sebab, itulah adalah kunci sukses di dunia dan akhirat.

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semuanya, semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berusaha dan bersemangat untuk mempelajari dan mengamalkan agama Islam ini. Wallaahu a’lam bish Shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/
Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…