Langsung ke konten utama

ACARA SERAH TERIMA SANTRI BARU



Pada Jum’at (11/7) lalu, Pondok Pesantren Darul Muhibbin NW Mispalah Prapen Praya menggelar acara serah terima santri baru. Acara merupakan tradisi setiap kali penerimaan santri baru. Para wali murid menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik kepada pihak pondok pesantren.
Dalam acara ini mewakili santri baru adalah ust. Abdur Rasyid, S.Pd.I. Jumlah anak yang diserahterimakan adalah 155 anak, yaitu masing-masing 15 anak untuk tingakt PAUD, 20 anak untuk MI, 65 anak untuk MTS, dan 55 anak untuk MA.

 Mewakili pihak ponpes, Ketua Pembina yaitu TGH. M. Shobri Azhari. Dalam pemaparannya ia menyebutkan istilah “serah mayung sebungkul”. Istilah ini digunakan oleh Bapak TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid sebagai pendiri NW. “Maknanya simbolik, yaitu orang tua menyerahkan sepenuhnya anak mereka untuk dididik menjadi anak yang berilmu, taat, dan berakhak.”
Menurutnya, dalam pendidikan ada 3 unsur pokok yang terlibat secara langsung, yaitu orang tua, peserta didik, dan pendidik. “Semuanya harus bersinergi dan saling dukung.jika salah satu dari ketiga unsur itu tidak ada, pendidikan tidak bisa jalan sesuai harapan.”
Sebagai rangkaian dari acara serah terima santri baru ini, diadakan pula cukuran massal santri baru putra MTS dan MA. Maksudnya sebagai pertanda dimulainya lembaran, dunia  dan semangat baru bagi mereka semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/
Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…