Langsung ke konten utama

Sikap Ulama: Belajar dari Imam Malik

BY: HABIB ZIADI THOHIR

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Imam Malik bin Anas pernah menerima seseorang yang diutus oleh kaumnya untuk bertanya tentang beberapa hukum dalam masalah agama kepadanya. Namun, sang Imam tidak kunjung memberi jawaban hingga beberapa hari. Lalu orang tersebut berkata, “Wahai Abu Abdillah, aku akan pulang ke negeriku, tolong berikan jawaban atas permasalahan yang aku sampaikan?”
Imam Malik berkata, “Masya Allah saudaraku, ketahuilah, aku hanya berbicara tentang sesuatu yang kupandang baik. Sementara aku tidak menguasai masalahmu ini dengan baik.”
Salah seorang kawannya yang merupakan syaikh di Mesir pernah menegur Imam Malik dengan  mempertanyakan sikapnya yang kerap mengecewakan banyak utusan yang datang dari berbagai negeri untuk sekedar meminta fatwanya, sebab ia sering menjawab, ‘aku tidak tahu’. Imam malik menjawab, “Orang Syam datang kepadaku dari Syam, orang Iraq datang kepadaku dari Iraq, orang Mesir datang juga kepadaku. Mereka semua bertanya kepadaku tentang sesuatu yang boleh jadi pendapatku berubah setelah mereka kembali ke negerinya masing-masing. Bagaimana aku menyampaikannya lagi setelah mereka pergi?”
Kisah di atas bukan menuduh bahwa Imam Malik adalah seorang ulama yang bodoh karena banyak masalah dalam agama yang tidak dikuasainya. Namun, sikapnya di atas semata-mata menandakan kehati-hatian Imam Malik dalam berfatwa. Kehati-hatian yang luar biasa. Sebab, berfatwa bukan urusan main-main.
Bagaimana mungkin Imam Malik disebut bodoh, padahal ia dijuluki Imam Madinah, ia menjadi mufti masjid Nabawi sejak usia belia, 20 tahun. Ia menjadi mufti di kota Rasul itu selama 60 tahun lebih. Kedudukan ini tidak mungkin diperoleh melainkan oleh orang yang memiliki keutamaan ilmu di atas orang lain.
Dengan sikapnya yang banyak berhati-hati dalam berfatwa, Imam Malik mengajarkan setiap orang yang dititipkan ilmu untuk berfikir mendalam sebelum berbicara. Apalagi dalam masalah hukum. Orang yang terburu-buru menjawab soal yang ditujukan kepadanya, berarti dia itu sok pintar atau orang ceroboh.
Adapun hari ini, di saat ilmu agama dipelajari hanya kulitnya saja, ahli agama yang faqih semakin langka, betapa mudahnya kita menjawab pertanyaan menyangkut agama. Semudah kita membalikkan telapak tangan. Padahal, sering kali masalah itu adalah masalah pelik yang butuh referensi mendalam dari ulama yang berkompeten.
Tidak sedikit oknum yang memiliki keahlian retorika, punya banyak jamaah, masyhur di khalayak ramai, sudah merasa diri alim dalam agama. Akhirnya merasa diri pantas jadi rujukan. Jika demikian, tentu merasa gengsi mengatakan tidak tahu jika ditanya ini dan itu.
Imam Madinah yaitu Malik sendiri pernah diajukan 48 pertanyaan, lalu hanya 16 saja yang dijawabnya. Sisanya ia mengatakan ‘aku tidak tahu’. Bahkan ia berkata, “Seyogyanya seorang ulama mewariskan ucapan aku tidak tahu.”

Mengapa ia sampai sedemikian hati-hatinya?Ppengarang Al-Muwatta' ini menjawab, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku dibanding saat aku ditanya tentang perkara halam dan haram. Karena itu berarti memberi kepastian akan hukum Allah. Dan kita menjumpai ulama di negeri kita yang apabila ia ditanya tentang masalah agama seolah-olah ia berada di ambang kematian.”

Kehati-hatian dalam masalah fatwa atau agama sangat penting. Fatwa tidak boleh dipermainkan, menjadi komoditas politik, apalagi demi keuntungan “receh” duniawi lain. Kita dilarang berbicara panjang lebar sesuatu yang tidak kita kuasai. Karena sudah pasti akan lebih banyak salahnya dari pada benarnya. Itulah pelajaran berharga yang diwariskan Imam Malik kepada kita semua. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…