Langsung ke konten utama

Pekan Bersejarah Ponpes NW Mispalah

Alhamdulillah, Pondok Pesantren Darul Muhibbin NW Mispalah Praya selama ini tidak pernah sepi dari kunjungan tamu penting. Pekan kemarin, terdapat dua kunjungan spesial bagi segenap keluarga besar Pondok Pesantren. Tidak heran bila ketua Pembina Ponpes, Drs. H. M. Natsir Abdillah, MA menyatakan bahwa ini adalah pekan bersejarah.
Kunjungan pertama adalah silaturrahim ulama besar Makkah Al-Mukarramah, Fadhilatu Syaikh Dr. Muhammad bin Ismail Zain pada Jumat (8/3). Kedatangan beliau ini adalah yang ketiga kalinya. Beliau hampir selalu mampir ke Ponpes NW Mispalah dalam setiap kunjungannya ke Pulau Lombok.
Dalam tausyiahnya, beliau menekankan pentingnya pendidikan islami sejak dini. Ulama muda ini menyebut kondisi internal masyarakat muslim. “Hari ini kita melihat dengan mata kepala kita kerusakan di mana-mana, solusinya adalah dakwah dan pendidikan.” Menurut beliau, kita harus mengulang kembali keberhasilan dakwah dan pendidikan Rasul SAW.
Peran madrasah dan pondok pesantren sangat startegis dalam memperbaiki moral masyarakat. “Oleh karena itu, kita harus selalu meningkatkan kualitas pendidikan kita agar bisa menjadi solusi bagi permasalahan ummat.”
Pada hari Ahad (30/3), Gubernur provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, MA melakukan silaturrahim ke Ponpes NW Mispalah. Dalam tausyiahnya beliau menekankan pada 3 hal. Pertama, banyak-banyak bersyukur seraya selalu optimis dalam menatap hidup. Kedua, banyak berdoa untyk membuka pintu langit. Ketiga, banyak menebar kebaikan dan jangan cepat lupa pada kebaikan orang lain.
Tuan Guru Bajang tidak lupa berpesan agar masyarakat menjaga kondisifitas menjelang Pemilu 9 April 2014. “Kita boleh saja berbeda pilihan politik, tetapi al-ukhuwah fauqo kulli syai’ yaitu ukhuwah itu paling penting.” Di akhir tausyiahnya beliau juga memompa semangat para santri untuk selalu optimis dan percaya diri. “Jangan minder jadi anak pesantren, jika bersungguh-sungguh, tidak ada cita-cita yang mustahil untuk kalian raih.” pungkas Gubernur dua periode ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…