Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

KISAH SEBUTIR TELUR DAN SEPOTONG DENDENG

KISAH SEBUTIR TELUR DAN SEPOTONG DENDENGMaret 27, 2014·by · in Renungan. · Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut. “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih.” Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun. Lalu mereka menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya. Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan membayar ia berkata dengan pelan: “Dapatkah Bapak menyiram sedikit kuah sayur di atas nasi saya?” Istri pemilik restoran berkata sambil tersenyum: “Silahkan, ambil kuah sayur mana saja yang engkau suka, tidak…

Wahai Orang Muslim Berharta, Jadilah Engkau Ustman Ustman Baru !

Oleh : Dr. Aidh Abdullah  Al Qarni (www.eramuslim.com)
Malaikat merasa malu dihadapannya, kaum Mu’min mencintainya dan para pembangkang membencinya. Utsman sama dengan kebajikan dan kebaikan, sedekah dan Al Qur’an, kesabaraan dan keimanan. Beliau mendermakan hartanya tanpa hitungan, menghimpun Al Qur’an dan Sunnah dan menemani Sang Kekasih di dalam surga. Ketika bahaya musuh mengancam, lalu beliau membayar belanja hartanya untuk  jaysul usrah (Pasukan di Masa susah). Dahaga datang lalu beliau  membeli Bi’rur Raumah-sumur yang berair tawar dan enak rasanya, milik seorang yahudi yang menjualnya. , hinga airnya dapat diambil oleh para sahabat dengan gratis. Ketika kelaparan menghadang lalu beliau memberi makanan kepada manusia di masjid. Mata tak kunjung terpejam lalu beliau mengkhatamkan Al Qur’an dalam semalam. Penuh toleransi dan maaf dan tidak suka membalas dendam , sehingga beliau pun dilukai oleh pedang-pedang para pembangkang. Beliau dinikahkan oleh Rasulullah dengan 2 anaknya ya…

BEDA IJTIHAD, UTAMAKAN UKHUWAH

www.hidayatullah.comBahwasannya perbedaan dalam hal ini bukan hal baru, akan tetapi telah ada pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Menurut Imam al-Ghazali, selama seorang mujtahid itu menggunakan dalil-dalil, maka tidak boleh dikafirkan
Oleh: Kholili Hasib SALAH satu persoalan yang masih menjadi sebab sulitnya umat Ahlus Sunnah bersatu atau mudah terjatuh pada pemikiran sesat adalah belum dipahaminya antara perkara furu dan ushul dengan baik. Ketika perkaraushul diyakini sebagai furu’, maka yang terjadi adalah kesesatan. Seperti yang terjadi dalam Islam Liberal. Sebaliknya, jika perkara furu’ dianggapushul, maka yang terjadi adalah penghakiman takfir, dan tadhlil  kepada saudara sesama Ahlus Sunnah. Harus dipahami bahwa ijtihad ulama tidak berada pada wilayah ushul tapi furu’. Dalam persoalan ijtihad dilarang menghukumi kafir atau sesat pendapat lain di luar jama’atul muslimin. Jika berdebat, maka perdebatan itu haruslah atas dasar penjagaan terhadap persatuan Islam d…

"SANAD" AKHLAK

IMAM QAHDI IYADHL AL MALIKI menyebutkan bahwa Abu Ali Ats Tsaqafi mengambil akhlak dari prilaku Muhammad bin Nashr Al Marwazi hingga perlu bermukim di Samarkand selama 4 tahun. Sedangkan Muhammad bin Nashr mengambil dari Yahya bin Yahya, kemudian Yahya mengambil dari Imam Malik hingga bermukim bersama Imam Malik selama setahun setelah beliau mengambil periwayatan hadits. Tatkala ada yang bertanya mengenai hal itu, maka Yahya bin Yahya menjawab,”Sesungguhnya aku bermukim dalam rangka mempelajari akhlaknya, sesungguhnya akhlaknya mencerminkan ahklak sahabat dan tabi’in.” (Tartib Al Madarik, 1/117) Dengan demikian, tidak hanya ilmu fiqih atau periwatan hadits yang “bersanad”, mempelajari akhlak pun demikian, sehingga tidak cukup teori tapi perlu belajar melalaui “model hidup” dan ini perlu lama berinteraksi dengan ulama untuk mempelajari akhlak mereka.

KEKUATAN FIRASAT MUKMIN

www.hidayatullah.com KHAIR AN NASAJ mengisahkan, bahwa suatu hari beliau duduk di dalam rumah. Lalu timbul firasat dalam hatinya bahwa guru beliau Abu Qasim Al Junaid melakukan kunjungan. Namun Khair berusaha untuk menghilangkan firasat itu, dan menyatakan dalam hati bahwa itu adalah bentuk waswas. Kemudian firasat itu datang kembali, bahwa Imam Junaid mengunjungi beliau. Khair kembali berusaha menafikannya. Akhirnya firasat itu datang kembali untuk ke tiga kalinya, sampai Khair merasa yakin bahwa firasat itu benar, hingga beliau pun melangkah untuk membuka pintu. Benar, di saat Khair membuka pintu, Imam Junaid ternyata sedang berdiri di hadapannya. Kemudian sang guru pun mengucapksan salam dan menyampaikan,”Wahai Khair, kenapa engkau tidak keluar sejak firasat yang pertama?” (Shifat Ash Shafwah, 2/419)

Ahlul Hadits “Ahlul Madzhab”

ANTARA fiqih madzhab empat danhuffadz serta muhadditsin tidak bisa dipisahkan satu sama lain, lebih-lebih dipertentangkan, karena keduanya saling menguatkan. Di mana parahufadz hadits juga merupakan pengikut dari madzhab fiqih yang ada. Musnad Imam Madzhab Empat Para Imamnya madzabnya sendiri baik Imam Ibnu Hanifah, Imam Malik, Imam As Syafi’i serta Imam Ahmad sama-sama memiliki periwayatan hadits musnad. Imam Abu Hanifah memiliki musnad Abu Hanifah yang dikumpulkan oleh Al Hafidz Abu Muhammad Al Haritsi. Imam Malik memiliki Al Muwaththa’. Sedangkan Imam As Syafi’i memiliki Al Umm yang disamping merupakan kitab fiqih juga kitab hadits yang beliau riwayatkan, juga Musnad As Syafi’i yang dikumpulkan oleh Imam Al Muhaddits Abu Al Abbas Al Asham. Sedangkan Imam Ahmad juga memiliki musnadnya yang masyhur. Madzhab Fiqih Penulis Kutub As Sittah Para penulis kitab hadits yang masyhur, yakni Kutub as Sittah (kitab 6) pun diidentifikasi oleh para ulama mengenai madzhab fiqih yang dianut. Imam Al …