Langsung ke konten utama

Ponpes NW Mispalah Terima Kunjungan Tamu Internasional




Jumat kemarin, Pondok Pesantren Darul Muhibbin NW Mispalah Praya kembali kedatangan tamu-tamu istimewa. Kali ini empat orang Guru Besar dari Universitas Ummu Darman Republik Sudan datang bersilaturrahim. Mereka adalah Prof. Dr. Hasan Abbas Hasan, selaku rektor Universitas Ummu Darman, Prof. Dr. At-Tayyib Muhammad, Prof. Dr. Abdul karim Makki, dan Prof. Dr. Muhammad Al-Warraq. Tamu-tamu internasional tersebut tiba di lokasi selepas shalat Jum’at. Turut mengiringi mereka Bapak H. M. Yusuf Shaleh, ketua DPRD Kabupaten Lombok Tengah dan Dr. TGH. Burhanuddin, Ketua forum rektor-ketua perguruan tinggi se-NTB. Mereka disambut langsung oleh para santri dan masyarakat Mispalah yang menunggu kedatangan mereka.
Kalimat selamat datang disampaikan oleh TGH. M. Thahir Azhari atas nama Pengasuh Ponpes NW Mispalah. Beliau mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan waktu para masyaikh. “Semoga kunjungan ini membawa kesan yang tidak terlupakan bagi para tamu kita,” sambutnya.Dr. TGH. Burhanuddin selaku pihak yang menfasilitasi kunjungan tersebut memaparkan kepada para tamu sekelumit tentang pendidikan keagamaan di Indonesia. “Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia dan paling eksis hingga kini. Kekuatan pesantren ada pada tafaqquh fiddin termasuk tahfidzul Qur’annya, termasuk di Darul Muhibbin NW ini,” paparnya. Menurutnya pondok pesantren berhasil menyediakan pendidikan murah namun berkualitas.
Rektor Universitas Ummu Darman Sudan,  Prof. Dr. Hasan Abbas Hasan dalam tausyiah singkatnya meyatakan bahwa ukhuwah Islamiyah itu tidak memandang batas teritorial, perbedaan bangsa, bahasa, budaya, dan warna kulit. “Kami sangat bersyukur berjumpa dengan saudara dan anak-anak kami di tempat ini.” Beliau pun menawarkan beasiswa bagi para santri yang berminat kuliah di Sudan, baik fakultas agama maupun umum.
Kedatangan tamu-tamu internasional adalah kegiatan rutin Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah. Beberapa masyaikh dari Saudi Arabiya, Mesir, dan Yaman kerap bersilaturrahim. Dua pekan sebelumnya telah berkunjung beberapa mahasiswa asal Tasmania University Australia untuk belajar budaya dan bahasa Indonesia.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…