Langsung ke konten utama

AJARAN TAWAKKAL MAULANA SYAIKH

www.maulanasyaikh.com
By: H. Habib Ziadi 
Dalam permulaan dakwah Nabi saw di Makkah, gangguan yang dihadapi beliau sangat luar biasa. Berbagai tekanan demi tekanan datang silih berganti kepada beliau. Beruntung saat itu, Nabi saw memiliki dua tambatan hati sekaligus benteng pelindung diri, baik di luar maupun di dalam rumah.Benteng kokoh di luar rumah adalah paman beliau, Abu Thalib selaku pemuka Quraish yang perkataannya tak berani dibantah. Sedangkan benteng di dalam rumah adalah sang istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid r.a. yang selalu memotivasi beliau dalam mengemban risalah dakwah.
Namun di atas kehendak Allah SWT, kedua orang terpenting di sisi Nabi saw itu meninggal dunia pada tahun yang sama, hanya berselang dua bulan saja. Ini semata-mata kehendak Allah SWT di saat dakwah belum tersebar dan belum diterima luas. Allah SWT mengambil mereka ketika Nabi saw sangat membutuhkan dorongan moril dan sandaran jiwa. Seolah melalui peristiwa ini Allah SWT menegaskan, “Muhammad, dirimu tidak memiliki al-wakil (sandaran hidup) kecuali Aku saja.”
Berbagai musibah terjadi pada diri manusia, termasuk kekasih-Nya yang mulia, Muhammad saw. Namun, semua itu tiada lain kecuali mendatangkan kebaikan. Tidakkah kita memahami dengan seksama, bahwa selepas itu, Nabi saw semakin mendapatkan banyak simpati dari manusia, meski pada awalnya mereka menolak dengan sekuat tenaga. Akhirnya, dakwah Islam benar-benar diterima dengan hati lapang dan terbuka.
Dalam urusan dakwah, Maulanasyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid sering kali mengingatkan para kader sekaligus murid-muridnya untuk banyak mengambil ibroh dari dakwah para salaf. Hal ini sangat penting, bukan saja sebagai ilmu dan pemahaman dakwah saja, namun yang lebih penting bagaimana semangat para pendahulu itu menyelinap dalam jiwa para kader Nahdlatul Wathan. Maulanasyaikh menulis dalam bait syair wasiat renungan masa:
Ingatlah nanda dakwahnya Anbiya’ (para Nabi)
Dakwah Ulama da’wah Auliya’ (para wali)
Menentang ajaran para Asqiya’ (orang-orang celaka)
Agar Ummat Menjadi Atqiya’ (orang-orang bertaqwa) (WRM Hamzanwadi bait 194).
Maulanasyaikh menginginkan para kader NW tidak berdakwah asal-asalan, tanpa strategi dan perencanaan. Tanpa persiapan memadai, baik itu materi dakwah dan mental. Sebab, dakwah itu tidak selalu mendapat sambutan baik, sering juga mengalami penolakan. Para salaf pun mengalami hal serupa. Namun apapun dan bagaimanapun, para da’i itu hanya menyampaikan. Tujuan utama hanya ridha Ilahi rabbi.
Wajib dicontoh jejak mereka
Berjuang LILLAHI semata-mata
Membela iman membela taqwa
Menentang Iblis makelar neraka (WRM Hamzanwadi bait 195).
Keteguhan tidak dibutuhkan dalam dakwah saja. Dalam berbagai hal duniawi maupun ukhrawi, teguh iman, taqwa, dan tawakkal adalah senjata utama. Allah SWT menjanjikan, “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan memberinya jalan keluar, dan Dia akan memberi rezeki kepadanya dari jalan yang tak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya.” (QS. At-Talaq:2-3). Setelah Allah SWT menyebut takwa dan tawakkal yang di dalamnya memiliki rahasia besar dan tujuan mulia, Dia berjanji untuk memenuhi kebutuhan hamba-Nya.
Barangsiapa yang bertaqwa dan bertawakkal, maka bantuan Allah tidak akan tiba. Allah tidak akan mengecewakan mereka.
Hamba yang berbekal taqwa dan tawakkal itu tidak akan berputus asa dari rahmat-Nya, tidak lekas dirundung kecewa, melainkan selalu optimis mengharap pertolongan itu tiba. Sungguh apabila dia bertaqwa dan bertawakkal, kelapangan akan mendatanginya, dibukakan baginya pintu-pintu rezeki yang luas lagi tiada terduga.Taqwa dan tawakkal mendatangkan optimisme. Optimis bahwa Allah SWT tidak mungkin mungkir janji, tidak akan lalai pada kebutuhan makhluk-Nya, dan pasti akan memberikan yang terbaik.
Akan tetapi, segala sesuatu itu memiliki waktunya tersendiri. Sebab, segala perkara memiliki ketentuan di sisi Yang Maha Mengatur. Di sinilah dibutuhkan optimisme yang tinggi dengan taqwa dan tawakkal itu.
Tidak ada pilihan bagi manusia melainkan beramal dan berbuat yang terbaik. Untuk urusan dunia, lebih-lebih urusan akhirat. Sebab, hanya itulah ikhtiar sebenarnya yang dituntut dari manusia. Jangan sampai lisan mengatakan, “Saya sudah berusaha dan berdoa, sepertinya hanya sia-sia belaka.” Di sinilah kekuatan keyakinan pada janji Allah diuji. Apakah optimis itu akan memudar berganti apatis dan pesimistis. Apakah konsistensi beramal itu akan beralih menjadi keletihan yang dirangkai dengan keluhan dan kekecewaan.
Wahai anakku yang kucintai
Serah dirimu pada Ilahi
Jangan nakku menggantungkan diri
Kepada makhluk pemain janji (WRM Hamzanwadi bait 192)
Jika terhadap manusia, kita gampang mempercayakan banyak urusan pada mereka. Kita terima janji-janjinya. Kita iyakan syarat-syarat permintaannya demi tujuan yang hendak kita capai. Lalu bagaimana ,mungkin kita mudah ragu atau sulit meyakini bahwa Allah itu Maha Mengatur segala urusan dengan baik selepas kita serahkan sepenuhnya kepada-Nya. Percayalah, dengan optimisme, Allah tidak akana mengecewakan kita.Demikianlah guru besar kita, Maulanasyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid mengajarkan kuatnya ikhtiar itu harus selalu dibarengi dengan kuatnya tawakkal kepada Ilahi.
Pedoman hidup beliau sebagaimana para Nabi dan orang-orang shalih adalah isnad kullis syu’un ilallahi Ta’ala (menyerahkan seluruh urusan kepada Allah Ta’ala) sebagaimana doa yang diajarkan beliau dalam doa pusaka, Robbana aslih lana kullas syu’un, wa aqirro bir ridho minkal uyun (Wahai Tuhan kami, perbaiki segala urusan kami, dan bahagiakan kami dengan keridahaan-Mu)Hasbunalah wa nikmal Wakil, ni’mal Maula wa ni’man Nashir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…