Langsung ke konten utama

Rasulullah Bercahaya saat Bicara dan Selalu Harum dalam Penampilan

Oleh: Mabni Darsi, MA

TIDAK ada umat Islam di dunia ini yang tidak mengenal dan mencintai Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Akhlaknya yang mulia pada istri, anak, tetangga dan pada setiap orang yang mengenalnya, seolah menjadi magnet tersendiri.
Perilakunya yang jauh dari sifat keji, tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor, tidak berbuat gaduh dan sosok yang pemaaf dan tidak pernah membalas kejelekan orang, bahkan telah membuat seorang suku Badui terpesona hingga memeluk Islam.
Apa dan bagaimana sebenarnya sosok Rasulullah Muhammad?
Inilah ciri-ciri akhlak dan fisik Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam di mata istri dan para Sahabat-Sahabat beliau.
***
Aisyah Radhiallâhu ‘anha berkata:
“Beliau (Rasulullah) adalah orang yang paling mulia akhlaknya, tidak pernah berlaku keji, tidak pula mengucapkan kata-kata kotor, tidak berbuat gaduh di pasar, dan tidak pernah membalas dengan kejelekan serupa, akan tetapi beliau pemaaf dan pengampun.” (HR Ahmad)
Anas bin Malik Radhiallâhu ‘anhu berkata:
“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang sedang berbisik dengan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kemudian beliau menjauhkan kepalanya, sehingga orang tersebut-lah yang menjauhkan sendiri kepalanya. Dan aku juga tidak pernah melihat seorang pun yang menjabat tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melepas tangannya, sehingga orang tersebut-lah yang melepaskan tangannya sendiri.” (HR Abu Daud)
”Aku belum pernah menyentuh sutra yang lebih lembut dibandingkan telapak tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.  Dan aku juga belum  pernah mencium minyak wangi (misk) atau parfume apapun yang lebih harum dibandingkan aroma  Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.” (HR Bukhari)
“Kedua telapak tangannya lebar, kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu coklat; tetapi putih kemerah-merahan. Ketika beliau meninggal dunia, di kepalanya hanya ada dua puluh lembar uban.” (HR Bukhari)
Abu Hurairah Radhiallâhu ‘anhu Berkata:
“Beliau adalah seorang yang panjang kedua lengannya, lentik alisnya, kedua matanya lebar, dan antara kedua pundaknya kekar dari depan dan belakang. Demi bapak dan ibuku, sungguh beliau tidak pernah berbuat keji dan tidak pula berkata keji, dan beliau juga tidak pernah mengeraskan suaranya di tempat tempat umum.” (HR Ahmad)
“Belum pernah aku menyaksikan orang yang lebih baik dari Rasulullah;  seakan-akan mentari berjalan  di wajah beliau. Dan belum pernah aku melihat orang yang jalannya lebih cepat dari Rasulullah; seakan-akan bumi dilipat untuk beliau.” (HR Tirmidzi)
Abu Bakar Radhiallâhu ‘anhu berkata: “Orang yang terpercaya dan pilihan, mengajakan kebaikan, dan seperti cahaya bulan purnama yang mengusir kegelapan.”
Ali Radhiallâhu ‘anhu berkata:
“….Beliau adalah pamungkas para Nabi, orang yang paling dermawan, paling lapang dada, paling benar tutur katanya, paling komitmen dengan  janjinya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, siapapun yang memandangnya dengan tiba-tiba pasti akan segan kepadanya, siapapun yang bergaul dengannya secara dekat pastilah mencintainya. Aku belum pernah melihat orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya.” (HR Tirmidzi)
Ibnu ‘Abbas Radhiallâhu ‘anhu berkata:
“Di antara gigi-gigi serinya ada celah, dan apabila berbicara terlihat seperti ada cahaya yang keluar dari celah-celah gigi serinya itu.” (HR Darimi)
Ka’b bin Malik Radhiallâhu anhu berkata:
“Apabila bergembira, wajahnya bercahaya, seakan-akan wajah beliau itu sepotong rembulan.” (HR Bukhari)
Jabir bin Samurah Radhiallâhu ‘anhu berkata, “Kedua betisnya sangat ideal,  tertawa beliau sebatas tersenyum.  Apabila aku melihatnya, aku selalu berkata, ‘Pelupuk matanya hitam seakan akan memakai celak, padahal tidak.’” (HR Tirmidzi)
“Beliau pernah mengusap pipiku, kudapati tangannya terasa dingin dan aromanya sangat harum seakan-akan beliau baru mengeluarkannya dari keranjang tempat minyak wangi.” (HR Bukhari)
Abdullah bin Salam Radhiallâhu ‘anhu berkata:
“Ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, orang-orang bergegas menyambut beliau sambil mengucapkan, ‘Rasulullah telah datang…. Rasulullah telah datang…. Rasulullah telah datang…’  aku berusaha menembus kerumunan orang untuk menyaksikan wajah beliau secara langsung. Setelah kuperhatikan wajahnya, aku langsung menyimpulkan  bahwa wajah beliau bukanlah tampang seorang  pendusta. Dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, “Hai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan laksanakan shalat ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi).*/bersambung ke tulisan kedua
Mabni Darsi adalah penulis buku “Pesona Cinta Muhammad saw:Kunci Sukses Rasulullah Merebut Hati Menuai Simpati”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…