Langsung ke konten utama

Israiliyyat Dalam Penafsiran Al-Qur'an

H. Habib Ziadi, S.Pd.I


  1. Definisi Israiliyyat
Israiliyyaat secara etimologis merupakan bentuk jamak dari kata Israiliyyah; nama yang di nisbatkan kepada kata Israil (bahasa Ibrani) yang artinya Abdullah (hamba Allah).
Dalam pengertian lain Israiliyyat dinisbatkan kepada Nabi Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim.
Terkadang Israiliyyat identik dengan yahudi, walaupun sebenarnya tidak demikian. Bani Israil menunjuk merujuk pada garis keturunan bangsa, sedangkan Yahudi merujuk kepada pola pikir, termasuk di dalamnya agama dan dogma.[1]
Secara terminologis, pada mulanya merujuk pada sumber-sumber dari Yahudi, namun pada akhirnya, para ulama tafsir dan hadis menggunakan istilah tersebut dalam pengertian yang lebih luas lagi. Oleh karena itu ada ulama yang mendefinisikan israiliyyat yaitu sesuatu yang menunjukkan pada setiap hal yang berhubungan dengan tafsir maupun hadis berupa cerita atau dongeng-dongeng kuno yang dinisbatkan pada asal riwayatnya dari sumber Yahudi, Nasrani, atau lainnya. Dikatakan pula bahwa israiliyyat termasuk dongeng yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadis yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam sumber lama.[2]

B.     Sebab-sebab Masuknya Kisah Israiliyat dalam tafsir Al-Qur’an
Ketika ahlul kitab banyak masuk ke dalam Islam, mereka memabwa tsaqofah agama mereka berupa berita-berita, kisah-kisah agama. Mereka itu ketika mendengar kisah-kisah Al-Qur’an kadang-kadang mereka mengaitkannya dengan kisah yanga ada dalam kitab-kitab mereka sebelumnya. Para sahabat akhirnya berpegang dari apa yang mereka dengar dari mereka. Hal ini memang  ada dasar dari hadis Rasul saw sendiri:
“Janganlah kalian membenarkan dan mendustai ahli kitab, katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami...” (HR. Bukhari).  Para sahabat dan ahli kitab bergaul seputar beberapa masalah. Mereka menerima sebagian darinya selama tidak berkaitan dengan akidah dan hukum, kemudian hal itu jadi isu perbincangan.[3]
Jika kita lihat masa pra Islam, jauh sebelum Islam datang, Israiliyyat sudah mulai memasuki kebudayaan Arab (pada masa jahiliyah) karena di tengah-tengah mereka orang-orang ahli kitab yaitu Yahudi telah lama hidup berdampingan. Orang-orang Yahudi telah melakukan migrasi ke jazirah Arabiya secara besar-besaran pada tahun 70 M untuk menghindari penyiksaan dan keberutalan yang dilakukan kaisar dinasti Titus Romawi yang hendak menjajahnya dengan membakar dan menghancurkan Jerussalaem yang dikenal dengan nama Great Diaspora. Mereka datang ke jazirah Arabiya dengan membawa kebudayaan mereka yang bersendikan kitab-kitab keagamaan.
Di samping itu harus diakui bahwa masyarakat Madinah dan sekitarnya termasuk masyarakat yang heterogen dengan Yahudi dan Arab sebagai etnis yang paling dominan. Mereka yang masuk Islam dari kaum Yahudi (suku bani Qainuqa, Quraidzah, An-nazir, Khaibah, Taima, dan Fadak) dan nasrani serta Majusi masih tetap membawa kesan-kesan agama terdahulu pemahaman mereka sebelumnya.  Di samping itu, bangsa Arab sendiri tidak banyak mengetahui perihal kitab-kitab terdahulu, sehingga ketika mereka ingin mengetahui perihal kitab-kitab terdahulu, sehingga ketika mereka iingin mengetahui tentang penciptaan alam, kejadian-kejadian penting lainnya, mereka bertanya kepada ahli kitab dari golongan Yahudi dan Nasrani. Momen inilah yang mengakibatkan merembesnya faham-faham israiliyyat ke dalam Islam.[4]
Faktor yang juga menjadi sebab masuknya kisah israiliyyat adalah masuk Islamnya ulama Yahudi, seperti Abdullah bin Salam, Ka’ab bin Akhbar, dan Wahab bin Munabbih. Mereka dipandang punya andil besar terhadap masuknya kisah israiliyat di kalangan Muslim. Ini juga mengindikasikan kisah israiliyat telah muncul sejak masa sahabat dan membawa pengaruh besar terhadap kegiatan penafsiran Al-Qur’an pada masa-masa sesudahnya.[5]
Harus diakui bahwa salah satu lembaga pengkajian keagamaan memiliki andil besar tumbuyh berkembangnya Israiliyyat. Midras, sebagai lembaga kajian agama tersebut, menurut Ahmad Khalil, juga sering didatangi sahabat Nabi untuk mendengar apa yang disajikan di sana. Di dalam musnad, Imam Ahmad meriwayatkan:
Nabi saw pernah melihat Umar bin Al-Khattab keluar dari Midras, lalu nabi menegurnya, Apakah engkau ragu terhadap ajaran islam wahai Umar? Demi Allah yang berkuasa atas diriku, aku benar-benar telah datang membawa ajaran itu kepadamu dalam keadaan putih bersih. Janganlah kamu bertanya kepada mereka tentang sesuatu lalu mereka menceritakannya kepadamu dengan sebenar-benarnya lalu kamu mendustakannya, atau mereka memabawa berita bohong, tetapi kamu sekalian membenarkannya. Demi zat yang diriku berada pada kekuasaan-Nya, seandainya Nabi Musa masih hidup, tidaklah ia memberi kebebasan melainkan menyuruh mengikuti jejakku.
Ilmu-ilmu seperti dialektika dan kalam banyak dipengaruhi pula oleh israiliyyat. Ibnu Atsir dalam tarikh-nya  mengabadikan bahwa faham khalq Qur’an yang dicetuskan kaum muktazilah berasal dari Bisr Al-Marisiy. Ia mengambil faham itu dari Jahm ibnu Shafwan. Jahm mengadopsinya dari Ja’di Ibnu Dirham, Ja’di menerimanya dari Aban Ibnu Sam’an, Sam’an mengambilnya dati Thalut Ibnu Ukht lubaid Ibnu Al-As’am dsan ia menerimanya dari lubaid bin Al-As’am, seorang Yahudi yang pernah menyihir nabi saw.
Jadi, penyusupan israiliyyat ke dalam tafsir dapat dikatakan melalui periodesasi periwaayatan dan kodifikasinya. Adapun pada masa tabi’in, untuk memecahkan masalah keagamaan, informasi didapat dari para sahabat dan murid-murid sahabat. Namun, persoalannya, tidak semua yang diriwayatkan tabi’in itu berasal dari Rasul saw, melainkan ada yang mauquf sampai sahabat dan tabi’in. Di zaman tabi’in inilah muncul pemalsuan dan kebohongan terhadap hadis dan tafsir.[6]
CDampak Israiliyyat Terhadap Tafsir
Menurut DR. Muhammad Husain Al-Dzahabi  israiliyat memiliki beberapa dampak negatif terhadap khazanah tafsir Al-Qur’an.
a.       Dapat merusak akidah kaum Muslimin karena ia mengandung unsur penyerupaan keadaan Allah, peniadaan ishmah para Nabi dan Rasul dari dosa, serta mengandung tuduhan buruk yang tidak pantas bagi seorang nabi.
b.      Merusak citra islam, karena seolah-olah islam itu agama yang penuh dengan khurafat dan mitos yang tidak ada sumbernya.
c.       Menghilangkan kepercayaan kepada ulama salaf, baik di kalangan sahabat maupun tabi’in.
d.      Memalingkan manusia dari maksud dan tujuan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.[7]
D.    Hukum Periwayatan Israiliyyat
Dari segi kandungannya, secara garis besar, Israiliyyat terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, kisah Israiliyyat yang benar isinya, sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis. Kedua, kisah Israiliyyat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis. Ketiga, kisah Israiliyyat yang tidak di ketahui benar tidaknya.
Dari kategori kisah-kisah Israiliyyat itu, Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa cerita Israiliyyat yang shahih boleh diterima; cerita yang dusta harus ditolak; dan yang tidak diketahui kbenaran dan kedustaannya didiamkan; tidak disutakan dan tudak juga dibenarkan. Jangan mengimaninya dan jangan pula mebohonginya.
Secara umum, ada dua pendapat ulama yang memberikan pendapat tentang diakui atau tidaknya israiliyyat. Pendapat pertama, menagatakan keharamnya, sedangkan lainnya mengatakan kebolehannya.
Alasan ulama yang mengharamkannya mendasarkan diri pada beberapa alasan.
·         Riwayat tentang menerima berita dari ahli kitab di atas
·         Karena Yahudi dan Nasrani telah merubah kitab-kitab mereka, sehingga periwayatannya tidak tsiqot/kuat lagi. Riwayat yang tidak kuat tidak dibenarkan untuk dijadikan hujjah.
Adapun pendapat yang membolehkannya bersandar kepada Al-Qur’an surat yunus ayat 94.

“Jika kamu ragu kepada apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyalah orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelum kamu.”
Di samping itu ada hadis yang berbunyi:

“Sampaikanlah olehmu apa yang kalian dapat dariku, walaupun satu ayat. Ceritakanlah tentang bani Israil dan tidak ada dosa di dalamnya, barangsiapa yang sengaja berbohong kepadaku maka bersiaplah dirinya mendapatkan tempat di dalam neraka.” [8]

E.     Israiliyyat dalam kitab-kitab Tafsir
·         Jamiiul bayan fi Tafsir Al-Qur’an
Tafsir ini disusun oleh Ibnu Jarir Al-Thabariy (224-310), seorang yang dikenal faiq, mufassir, dan ahli dalam berbagai disiplin ilmu. Disebut-sebut sebagai Tafsir yang paling unggul dalam tafsir bil-Ma’tsur. Paling shahih dan terkumpul di dalamnya pernyataan para sahabat dan tabi’in. Tafsir ini dianggap sebagai referensi utama para mufassir. Bahkan sampai Imam An-Nawawi berkata, “Kitab Ibnu jarir dalam tafsir tidak ada duanya.”[9]
Bagi sebagian kalangan, dalam tafsir ini terdapat beberapa riwayat Israiliyyat dan ini dianggap kesalahan. Riwayat itu banyak berasal dari Ka’ab Al-Ahbar, Wahhab bin Munabbih, Ibnu Juraij, As-Sudi dan lain-lain.
Salah satu contoh beliau menafsirkan surat Al-Kahfi ayat 94:

“Mereka berkata: Hai Zulkarnain, ya’juj dan ma’juj itu perusak di muka bumi.”
Ibnu Jarir Al-Thabariy menyebutkan riwayat dengan isnad yang menyatakan: “Telah menceritakan kepada kami Humaid”; ia berkata:”telah menceritakan kepada kami salamah” ia berkata: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bi Ishaq, yang berkata, ““Telah menceritakan kepada kami salah seorang ahli kitab yang telah masuk Islam, yang suka menceritakan kisah-kisah asing:  “dari warisan-warisan cerita yang diperoleh, dikatakan bahwa Zulkarnain termasuk salah seorang penduduk Mesir. Nama lengkapnya Mirzaban bin Murdhiyah, bangsa Yunani keturunan Yunann bin Yafits bin Nuh dan seterusnya.”
Oleh para muhaqqiq seharusnya Ibnu jarir tidak menukil riwayat-riwayat yang belum jelas kesahihannya berkenaan dengan Israiliyyat. Namun, bagaimanapun juga beliau selalu menulis lengkap sanad-sanad riwayat yang dinukilnya.[10]

·         Tafsir Muqatil
Disusun oleh muqatil bin Sulaiman wafat tahun 150 H. Dikenal sebagai ahli tafsir. Beliau banyak mengambil hadis dari Mujahid, Atha bin Rabah. Dhahak, dan Atiyyah.
Tafsir karya Muqatil terkenal sebagai tafsir yang satrat dengan cerita-cerita Israiliyyat tanpa memberi sanad sama sekali. Disamping itu tidak ditemukan komentar penelitian dan penjelasannya, mana yang hak dan yang batil. Contoh yang diceritakan dalam tafsir ini hampir merupakan bagian dari khurafat.

Tafsir Al-Quranul Adzim
Kitab tafsir buah karya Al-Hafizh Imaduddin Ismail bin Amr bin Katsir  (700-774 H) ini adalah kitab yang paling masyhur dalam bidangnya. Kedudukannya berada pada posisi kedua setelah Tafsir Ibnu Jarir At-Thobari. Nama aslinya adalah Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim. Tafsir yang diterima di khalayak ramai umat Islam.
Beliau menempuh metode tafsir bil ma’tsur dan benar-benar berpegang padanya. Ini diungkapkan sendiri oleh beliau dalam muqaddimah tafsirnya,: “Bila ada yang bertanya, apa metode penafsiran yang terbaik? Jawabannya, metode terbaik ialah dengan menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Sesuatu yang global di sebuah ayat diperjelas di ayat lain. Bila engkau tidak menemukan penafsiran ayat itu, carilah di As-Sunnah karena ia berfungsi menjelaskan Al-Qur’an. Bahkan Imam Syafi’I menegaskan bahwa semua yang ditetapkan oleh Rasulullah saw, itulah hasil pemahaman beliau terhadap Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan kebenaran, agar engkau memutuskan perkara di antara manusia dengan apa yang Allah ajarkan kepadamu. (QS. An-Nisa’ 105) dan Rasul saw bersabda: sesungguhnya aku diberikan Al-Qur’an dan bersamanya yang semisal (As-sunnah).
Murid Imam Ibnu Taimiyah ini menafsirkan dengan menyertakan ilmu al-Jarh wa at-ta’dil. Hadis-hadis mungkar dan dhoif beliau tolak. Terlebih dahulu beliau menyebutkan ayat lalu ditafsirkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan ringkas. Kemudian disertakan pula ayat-ayat lainnya sebagai syahidnya. Beberapa ulama setelah beliau telah mengambil inisiatif menulisnya dalam bentuk mukhtasar (ringkasan). Bahkan hingga saat ini.[11]
Di dalam tafsir ini juga menurut DR. Al-Zhahabi, tafsir ini populer dengan israiliyyat dan disertai penjelasan dan komentar, hanya sedikit saja yang tidak dikomentari. Berbeda dengan Ibnu jarir, Ibnu Katsir selalu mengingatkan para pembaca agar mewaspadai keganjilan dan kemungkaran kisah-kisah Israiliyyat dalam tafsir bil-Ma’tsur[12]
Contoh saat menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 67
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyembelih sapi betina...”
Dalam tafsirnya, Ibnu katsir menceritakannya panjang lebar sampai hal aneh dengan menceritakan bahwa mereka mencari sapi betina khusus dan berada pada seorang Bani Israil yang paling berbakti..” setelah menceritakan hal tersebut beserta asal-usul riwayatnya, ia menjelaskan bahwa semua itu berasal dari kmitab-kitab bani Israil yang boleh diriwayatkan tapi tidak boleh dibenarkan atau didustakan. Maka cerita-cerita ini gtidak boleh dipercaya kecuali yang sesuai dengan haq menurut kami.[13]

·         Tafsir Al-Baghawi
Pengarang tafsir ini adalah Imam Husain bin Mas’ud Al-Farra’ Al-Baghawi. Beliau juga seorang faqih lagi muhaddist, bergelar Muhyi As-sunnah (yang menghidupkan sunnah). Beliau wafat tahun 510 H. Beliau memberi nama tafsirnya dengan Ma’alim At-Tanzil.
Dalam menafsirkan Al-Qur’an beliau mengutip atsar para salaf dengan meringkas sanad-sanadnya. Beliau juga membahas kaedah-kaedah tata bahasa dan hukum-hukum fiqh secara panjang lebar. Tafsir ini juga banyak memuat kisah-kisah dan cerita sehingga kita juga bisa menemukan diantaranya kisah-kisah Israiliat yang ternyata batil (menyelisihi syariat dan tak rasional). Namun secara umum, tafsir ini lebih baik dan lebih selamat dibanding sebagian kitab-kitab tafsir bil ma’tsur lain.
Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah diantara Al-kassyaf, Al-Qurtubi atau Al-Baghawi. Beliau menjawab: ”Adapun diantara tiga tafsir yang ditanyakan, tafsir yang paling selamat dari bid’ah dan hadis dhaif adalah Tafsir Al-Baghawi, bahkan ia adalah ringkasan tafsir Atsa’labi dimana beliau menghapus hadis palsu dan bid’ah di dalamnya.[14]
            Al-Baghawi membahas tentang qira’at sekalipun tidak panjang lebar. Sesekali membahas ilmu nahwu dalam rangka mengungkap makna. Adapun berkenaan dengan kisah israiliyyat, ia menulisnya tanpa memberi komentar. Ia juga mengutip selisih pandangan di antara para salaf dalam tafsir dan menyebutkan riwayat-riwayat mereka tanpa mentarjih, yakni tanpa mensahihkan atau mendaifkan.[15]
·         Madarik At-Tanzil wa Haqaiq At-Ta'wil
Kitab tafsir ini dikarang oleh Abul Barakat Abdullah bin Ahmad bin Mahmud An- Nasafi Al-Hanafi (Imam \Nasafi). Salah seorang ahli zuhud dari kalangan mutaakhirin. Ahli fiqih dan ushul fiqh, ahli hadits dan beragam sisi-sisi makna, sangat tahu tentang kitabullah. Memiliki banyak karangan dalam berbagai disiplin ilmu.
Tafsir ini termasuk di antara tafsir ilmiyah yang tidak terlalu panjang dan tidak menjemukan. Tidak pendek dan tak bermakna. Dalam mukaddimah kitabnya ia menjelaskan, "Saya telah diminta oleh seseorang yang harus dipenuhi permintaannya agar menulis kitab tafsir yang menghimpun berbagai i'rob dan qira'at, ilmu badi, isyarat yang detail yang sarat dengan pandangan ahlusunnah dan terbebas dari kebatilan ahli bid'ah dan kesesatan..."[16]
Imam Nasafi banyak menggambil faedah dari tafsir Al-Baidhawi dan Al-Kassyaf. Dari Tafsir pertama ia ia banyak mengambil makana-makna mendalam, pemahamannya, wejangan-wejangannya, dan pembahasannya yang fokus. Adapun dari Al-Kassyaf, ia banyak mengutip tentang bahasa dan dialognya terhadap berbagai pendapat, ia pun memilih pendapatnya sendiri. Namun, ia tidak jatuh dalam fanatisme terhadap \muktazilah seperti Zamakhsari.[17]
Dalam masalah israiliyyat, ia sangat sedikit menyebutkan cerita-cerita israiliyyat. Dalam menyebutkannya pun terkadang tidak memberi komentar dan adakalanya menyatakan ketidaksetujuannya. Beberapa contoh penafsiran di antaranya:
"Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (QS. Shadd: 21-22)
DR. Muhammad Husain Az-Zahabi menulis bahwa setelah menyebutkan riwayat yang tidak bertentangan dengan kemaksuman Nabi Dawud, An-Nasafi berkata,"Hikayat bahwa ia mengutus Auria kedua kalinya ke peperangan Balqa agar ia terbunuh supaya istrinya dinikahi olehnya, sangat kontradiksi dengan orang yang memiliki sifat kesalihan, terlebih lagi para Nabi."
Ali bin Abi Thalib berkata,"Barangsiapa bercerita kepadamu satu hadits tentang Dawud seperti yang diceritakan oleh para ahli kisah dan tukang cerita, hendaklah kamu mencambuknya 160 kali. Karena ia melakukan kebohongan tentang Nabi..."
Ketika menafsirkan QS. Saad ayat 34

"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat", ia menyebutkan sejumlah riwayat yang tidak kontradiksi dengan kemaksuman \sulaiman as. Kemudian ia berkata, "Adapun tentang riwayat tentang cincin dan setan serta penyembahan setan di rumah \sulaiman as, merupakan riwayat batil dari orang-orang Yahudi."[18]
F.      Kaedah mengecam Israiliyyaat
Bukanlah sesuatu perkara yang mudah untuk mengatakan sesuatuh riwayat itu Israiliyyaat atau tidak. Ilmu yang amat penting bagi mereka yang ingin menguasai bidang ini ialah Ilmu Tafsir al-Quran, khususnya yang melibatkan kisah-kisah al-Quran, Ilmu Mustholah Hadis, Ilmu Rijaal Hadis, di samping pengetahuan mendalam tentang hadis-hadis yang sohih dan tidak sohih berkenaan kisah para Nabi dan kisah-kisah lmasa lalu.
    Di sini kami coba menyebutkanbeberapa kaedah atau cara yang dapat membantu mengenal riwayat Israiliyyaat.
    
·         Pertama: Pengamatan sanad
·         Rijaal perawi terkenal dengan meriwayatkan Israiliyyat seperti Abdullah Bin ‘Amar Bin al-‘Ash dan Abdullah Bin Salam dari kalangan sahabat. Dari kalangan tabi’in pula seperti Ka’ab Bin al-Ahbar, Wahab Bin Munabbbih, as-Saiyyidul al-Kabir, Qatadah, al-Hasan al-Basri dan Mujahid. Adapun dari kalangan golongan tabi’ tabi’in pula seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Zaid dan Ibnu Juraih.
·         Terdapat kenyataan jelas dari perawi menyebut bahawa riwayat yang disampaikan adalah bersumberkan sumber Israiliyyaat.
·         Sanad riwayat Israiliyyaat kebiasaannya bersifat terhenti “mauquf” kepada sahabat, bukan “marfu’” kepada Nabi S.A.W.
     Kedua: Pengamatan matan
    • Persoalan yang disentuh Israiliyyaat biasanya mengenai asal usul kejadian alam serta rahasianya seperti asal usul kejadian langit dan bumi
    • Matan mengandungi kisah para Nabi dan kisah-kisah lampau.
    • Perincian ayat-ayat samar (mubhamat)yaitu perkara yang tidak dijelaskan al-Quran seperti menentukan jenis pohon  larangan dalam surga yang dilarang Allah kepada Nabi Adam dan isterinya Hawa dan menentukan bagian anggota lembu yang digunakan untuk memukul si mati dalam kisah bani Israil.
    • Matan memperlihatkan hal yang tidak masuk akal  seperti cerita  salah seorang anak Nabi Adam a.s yang memikul saudaranya yang dibunuh selama seratus tahun. Janazah itu dibawanya kesana- kemari sehingga Allah mengirim burung gagak untuk mengajarnya cara menguburn jenazah saudaranya itu.
    • Matan mengandungi perkara-perkara yang berlawananh dengan al-Quran dan as-Sunnah as-Sohihah seperti matan yang menyebut bahawa isteri Nabi Nuh a.s adalah yang mereka yang selamat dari azab banjir besar.
    • Matan mengandungi perkara-perkara yang menyalahi  kesucian “`ishmah” para Nabi dan malaikat seperti dalam cerita keinginan nabi Yusuf terhadap isteri pembesar Mesir yang sampai keperingkat paling kritikal iaitu menangggalkan seluar serta kisah tentang malaikat  Harut dan Marut.
    • Matan menyebut cerita-cerita khurafat
    • Matan menceritakan sesuatu yang pelik “gharib” seperti yang menyebut bahwa bilangan alam sebanyak delapan belas ribu atau empat belas ribu.
    • Adanya pertentangan fakta pada matan seperti penentuan anggota lembu bani Israil di mana ada yang mengatakan paha, lidah, ekor dan sebagainya.
    • Terdapatindikasi di dalam matanyang  menyebutkan bahwa ia diambil dari sumber Israiliyyaat dari Ahli Kitab atau kitab Bani Israil.
    • Disebut pada matan lafaz-lafaz “tadh’if” atau tamridh yang menjelaskan bahawa ia dianggap lemah.
Ketiga: merujuk kepada ulamak
Ulama yang banyak mengupasn isu Israiliyyaat seperti:
    • Ibnu Hazam dalam kitab al-Faslu Fil Milaali Wal Ahwa’i Wan Nihal.
    • At-Thobari dalam kitab Jami’ul Bayan Fi Ta’wili Aayil Quran dan Tarikhul Umami Wal Muluk.
    • Al-Qodhi ‘Iadh dalam Kitabus Syifaa’ Bita’rifi Huquqil Mustafa.
    • Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab An-Nubuwwah dan Al-Jawabus Sahihu Li Man Baddala Diinul Masih.
    • Ibnul Qayyim dalam kitab Hidayatul Hiyari Fi Ajwibatil Yahudi Wan Nashora.
    • Al Hafiz Ibnu Katsir dalan kitab tafsirnya dan juga Al-Bidayatu Wan Nihayah.
    • Rahimahullah Al-Hindi dalam Izharul Haq.
    • Jamaluddin al-Qosimi dalam Mahasinut Ta’wil.
  • 9.   Doktor Muhammad Husin az-Zahabi dalam   Al-Israiliyyaat Fit Tafsir Wal Hadits   dan Kitabut Tafsir Wal Mufassirun.                                      
    • Al-‘Allamah Abu Syahbah dalam Al-Israiliyyaat Wal Maudhu’at Fi Kutubit. Tafsir.
  • 12.   Syeikh Abdul Wahab an-Najjar dalam Qishoshul Anbiya’.
Keempat: Merujuk sumber-sumber Yahudi
           Tujuan merujuk kepada sumber-sumber Yahudi tidak bermaksudagar kita  mengiyakan atau membenarkan apa yang termaktub dalam kitab-kitab mereka, tetapi sekadar untuk melakukan perbandingan dengan kitab-kitab warisannya ulama mu’tabar kita dalam soal-soal yang berkaitan dengan Israiliyyaat. Sekiranya ia disebut dalam sumber-sumber yang itu,  maka itu dapat  meyakinkan kita bahwa ia memang benar  riwayat Israiliyyaat.
Sumber-sumber Yahudi seperti berikut :
    • Kitab Taurat.
    • Talmud.
    • Kitab-kitab Yahudi yang lain.
Selain daripada sumber Yahudi terdapat juga sumber Nasrani yang termuat dalam Kitab Injil tetapi Israiliyyaat di dalam sumber Nasrani amat sedikit berbanding sumber Yahudi sendiri.[19]

BAB III
PENUTUP
Ada beberapa kisah Israiliyyat yang kemudian menyebabkan kekeliruan dan mengganggu kemurnian ajaran Islam. Kisah-kisah tersebut biasanya yang berbumbu dongeng dan khurafat, yang bertentangan dengan akal sehat dan Syara’. Implikasi dari kisah-kisah macam ini sangat dalam, misalnya:
1. Dalam Riwayat Israiliyyat terdapat unsur-unsur penafikkan terhadap sifat maksum para Nabiyullah dan Rasulullah, serta menggambarkan mereka dengan imaji kekejian dan aib yang tidak layak bagi manusia yang dimuliakan oleh wahyu Allah. Sebagai contoh misalnya kisah bahwa Nabi Nuh as. minum anggur sampai mabuk dan telanjang, kisah bahwa Nabi Luth as. berzina dengan dua orang putri kandungnya, kisah bahwa Nabi Daud as. menzinahi istri panglimanya -Aurya, kisah bahwa Nabi Sulaiman as. menyembah patung-patung dan membangun kuil-kuil pemujaan untuk menyenangkan istri-istrinya,
2. Riwayat-Riwayat Israiliyyat berpotensi menyimpangkan kepercayaan umat Islam terhadap sebagian ulama salaf dari kalangan sahabat dan Tabi’in. Ada banyak dongeng Israiliyyat yang riwayatnya dinisbatkan kepada kalangan salafus salih yang terkenal karena keadilannya dan reputasinya yang dapat dipercaya. Sebagian dari mereka bahkan terkenal di kalangan orang-orang Islam dengan tafsir dan Hadits yang diriwayatkannya. Mereka yang namyanya dicatut antara lain Abu Hurairah ra., Abdullah bin Salam ra., Ka’ab Al Ahbar, dan Wahab bin Munabih.
3. Riwayat Israiliyyat memiliki potensi untuk memalingkan manusia dari tujuan Al Quran yang sesungguhnya dan dapat melalaikan umat dari pelajaran dan pemahaman maksud ayat-ayat Al-Quran, melalaikan umat dari pengambilan manfaat dan iktibar, serta nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya atau pemahaman tentang hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Riwayat Israiliyyat memiliki potensi memalingkan umat kepada perkara sia-sia. Misalnya membahas warna anjing Ashabul Kahfi dan namanya, membahas kayu bahan tongkat Nabi Musa as., membahas tentang nama anak kecil yang dibunuh oleh Khidir dan sebagainya.
Inilah akibat Riwayat Israiliyyat terhadap aqidah umat Islam dan juga terhadap kesucian ajaran Islam. Kaum Yahudi selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikis aqidah dan melemahkan kepercayaan umat Islam terhadap Al-Quran dan Al-Hadits. Mereka juga berusaha menggoyang kepercayaan umat Islam terhadap golongan salafussalih yang memiliki peran dalam memikul risalah umat Islam dan menyebarkannya ke segala penjuru dunia. Karena itu, umat Islam perlu mencermati dan memperhatikan serta mempertimbangkan penyerapan Riwayat Israiliyyat dalam tafsir-tafsir dan menyaringnya (Al-Zahabi 1990: 29-34).


Daftar Pustaka
1.       Ahmad Izzan, Ulumul Quran; Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Quran, Ttafakur, Bandung2009.
2.      Imam Al-Jurjani, Kitab  Al-Ta’rifat,  Darul Baz, Makkah 1403 H.
3.      Manna Al-Khattan, Mabahis fi Ulumil Qur’an, Mansurat Al-Ashril hadits , Riyadh, 1393 H.
4.      Muhammad husain Az-Zahabi, Al-Tafsir Wal-Mufassirun, Terjemahan Ensiklopedia Tafsir, Kalam Mulia, Jakarta2010.
5.      Mani’ Abdul  Halim Mahmud,, Manahijulmufassirin,  Darul Kutubul Misr,i Kairo, 1978.
6.      Muhammad Ali As-Shobuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Darul Kutubul Islamiyah, Jakarta,, 2003.
7.      Supiana dan M. Karman, Ulumul Quran, Pustaka Islamika, Jakarta, 2009
8.      www. Almadanii.multyply.com





[1] Supiana dan M. Karman, Ulumul Quran, (Jakarta:Pustaka Islamika) hal. 197.
[2] Ahmad Izzan, Ulumul Quran; Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Quran, (Bandung: tafakur:2009) hal. 232.
[3] Manna Al-Khattan, Mabahis fi Ulumil Qur’an, (Mansurat Al-Ashril hadits ,1393) hal. 354
[4] Supiana dan M. Karman, Op.cit, hal. 198-199.
[5] Ahmad Izzan, Op.Cit, hal. 233.
[6] Idem hal.199.
[7] Muhammad husain Az-Zahabi, Al-Tafsir Wal-Mufassirun, Terjemahan Ensiklopedia Tafsir,( jakarta:Kalam Mulia, 2010) hal. 165
[8] Supiana dan M. Karman. Op.Cit. hal. 202-204
[9] Muhammad Ali As-shobuni, Op.cit, hal190
[10] Supiana dan M. Karman, Op.Cit, hal. 206
[11] Muhammad Ali As-shobuni, Op.cit, hal. 192
[12] Muhammad Husein Al-Zahabi, Op.cit, hal 223
[13] Idem, hal. 232.
[14] Idem, hal. 223
[15] Muhammad husain Az-Zahabi, Op.Cit. hal. 165
[16] Mani' Abdul  Halim Mahmud,, Manahijul \mufassirin, (Kairo:Darul Kutubul Misri,1978) hal. 217.

[17] Idem, hal. 217
[18] Muhammad husain Az-Zahabi, Op.Cit. hal.285
[19] www. Almadanii.multyply.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…