Langsung ke konten utama

TAFSIR HADAIQ AR-RAUHI WA AR-RAIHANI


Karya Syaikh Al-Allamah Muhammad Amin Bin Abdullah Al-Urami Al-Alawi Al-Harari As-Syafi’i
By: Habib Ziadi Thohir (Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya)

Kebutuhan kaum muslimin akan tafsir Al-Qur’an tidak terbantahkan lagi. Tafsir Al-Qur’an berguna untuk menggali dan mengungkap rahasia, kandungan, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan kalam Allah swt. Tanpa tafsir, manusia akan kesulitan memahami Al-Qur’an. Untuk itulah, para ulama yang mumpuni dan dalam ilmunya, baik dari generasi salaf maupun khalaf menulis kitab tafsir sebagai bentuk kecintaan mereka kepada Allah, rasul-Nya, dan kaum Muslimin.
Penulisan kitab-kitab tafsir memiliki periodesasi. Mulai dari pembahasan beberapa ayat yang garib yang belum dipahami manusia, seperti tafsir karya Al-Kasa’i (wafat 189 H) dan Al-Farra’ (207 H). Selanjutnya, penafsiran keseluruhan Al-Qur’an mulai dari Al-fatihah hingga An-Nas, seperti karya Ibnu Jarir At-Thabari (310 H), Ibnu Munzir (318 H), Ibnu Abi Hatim (327 H), dan lain-lain. Kitab-kitab pada periode kedua ini menghimpun ayat-ayat garib, asbabun nuzul, nasikh mansukh, yang dinukil dari riwayat-riwayat yang berasal dari hadits nabi saw, pendapat para sahabat dan tabi’in. Karya semacam ini yang disebut Tafsir bil Ma’tsur.
Periode ketiga adalah masa penulisan tafsir berdasarkan spesialisasi ilmu. Para penafsir menekankan penafsirannya pada beberapa ilmu yang terkandung dalam Al-Qur’an dan lebih fokus pada hal tersebut. Tafsir dari sudut bahasa, baik sisi balagah, nahwu, i’rob, atau mantiqnya seperti Al-Basith karya Al-Wahidi dan Al-Bahrul Muhith karya Ibnu Hayyan. Tafsir yang menekankan pada filsafat, psikologi, kedokteran atau ilmu eksak lain terdapat dalam Mafatihul Gaib karya Fakhrurrazi. Tafsir yang memperdalam kajiannya pada ayat-ayat hukum dan perbedaan mazhab seperti dalam Ahkamul Qur’an karya Al-Jasshosh dan Al-Qurthuby dalam Al-jami’ li Ahkamil Qur’an.
Karya tafsir yang cenderung memperkuat akidah mpenulisnya seperti Al-Kassyaf oleh Zamakhsyari. Tafsir sejarah dan kisah ummat-ummat terdahulu seperti tafsir As-Sa’labi dan tafsir Al-Khozin.
Para ulama dari masa lampau hingga era modern saat ini terus-menerus menelurkan karya-karya mereka dalam bidang tafsir. Untuk era modern, kitab tafsir masih terhitung sebagai masterpiece atau karya fonumental seorang ulama. Beberapa ulama terkemuka berhasil mencatatkan namanya dalam khazanah penulisan tafsir Al-Qur’an. Syaikh Thantawi Jauhari menulis tafsir yang familiar dengan namanya sendiri, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Syaikh Muhammad Mutawalli Sya’rowi, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, Tafsir Al-Munir karya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhayli, Sofwatut Tafasir karya Dr. Muhammad Ali As-Shobuni, Tafsir Ayatul Ahkam karya Dr. Sayis, dan lain-lain.
Salah satu karya tafsir kontemporer, termasuk paling komprehensif cakupannya, dan paling baik pembahasannya adalah Tafsir HADAIQ AR-RAUHI WA AR-RAIHANI karya Syaikh Al-Allamah Muhammad Amin bin Abdullah Al-Urami Al-Alawi Al-Harari As-Syafi’i. Beliau lahir tahun 1348 H di wilayah Harar Ethiopia Afrika. Syaikh Amin Al-Harari saat ini masih hayat dan menetap di kota Makkah. Beliau aktif mengajar di Darul Hadits Al-Khairiyah Makkah Al-Mukarramah dan di rumah beliau sendiri.
Tafsir Hadaiq Ar-Rauhi Wa Ar-Raihani terdiri dari 32 jilid. Membahas kalamullah secara komprehensif dari hampir semua sudut pandang keilmuan. Kitab tafsir yang mengandung keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Menurut Prof. Dr. Hasyim Muhammad Ali Mahdi dalam kata pengantarnya, “Ulama manapun dari beragam spesialisasi ilmu, mereka akan menemukan dalam tafsir ini spesialisasi mereka.” Bahkan menurutnya, kitab tafsir ini sudah lebih dari cukup untuk memahami Al-Qur’an. “Kita tidak perlu merujuk kepada kitab tafsir lainnya, karena membutuhkan waktu yang lama untuk mengotak-atik kitab-kitab itu. Alangkah sempitnya waktu terasa di zaman modern ini.”
Kelebihan tafsir ini adalah di dalamnya terdapat riwayat-riwayat yang berasal dari hadits nabi saw, pendapat para sahabat dan tabi’in, kajian kebahasaan (nahwu, balaghah dan i’rob Al-Qur’an), ilmu qira’at, hukum-hukum fiqih, psikologi Islam, dan lain-lain.
Semoga jihad sang penulis diterima oleh Allah swt, sehingga karya monumental ini benar-benar bermanfaat lahir batin bagi kaum Muslimin secara keseluruhan sebagai amal jariyah bagi beliau di akhirat nanti. Amin Ya Rabbal Alamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/ Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan Rasulullah SAW , rindu pada kepemimpinanmu Cinta dan kasih sayang mu tiada tara Rahmatan Lil Alamin , memang itulah

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw. [1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa

Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani

Biografi Singkat Kelahiran Beliau Al 'Allamah Al Muhaddits Al Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid 'Alawi ibn Sayyid 'Abbas ibn Sayyid 'Abdul 'Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy'ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki yang tempatnya sangat masyhur dekat Bab As-salam. Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Makkah terkemuka lainnya, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa'id Yamani, dan lain-lain.Sayyid Muhammad memperoleh gelar Ph.D-nya dalam Studi Hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami' al-Azhar di Mesir, pada saat baru berusia dua puluh lima tahun. Beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi Hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan ju