Langsung ke konten utama

BUKAN BID'AH

Resensi Buku
Oleh. H. Habib Ziadi Thohir

Menepis Tuduhan Kaum Ekstrimis
Dewasa ini, ada sebagian kelompok dari kaum Muslimin menyibukkan diri mereka dengan urusan “mempelototi” amaliah kaum Muslimin lain. Selanjutnya mereka menilai apakah sudah sesuai dengan sunnah Nabi saw atau bertentangan. Bila dipandangnya sesuai sunnah, maka akan diapresiasi dengan sebutan ahlus sunnah. Bila bertentangan akan dicap dengan sebutan ahlul bid’ah (pengikut bid’ah) atau ahlu ahwa’(pengikut bid’ah).
Slogan utama mereka adalah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Gerakan mereka dinamakan Salafiyah. Sebuah syiar yang sangat baik. Namun pada kenyataannya timbul masalah besar di tengah-tengah kaum Muslimin. Vonis saling membid’ahkan, saling menfasikkan, bahkan saling mengkafirkan tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Ukhuwah islamiah jadi merenggang, bahkan terancam keberadaannya oleh badai tuduh-menuduh semacam itu.
Buku “Bukan Bid’ah” yang berjudul asli Al-Mutasyaddidun: Manhajuhum wa Munaqasat Aham Qadayahum (Para ektrimis: manhaj mereka dan dialog terhadap isu-isu utama mereka) karya ulama kharismatik Mesir, Prof. Dr. Ali Jum’ah lahir karena kegelisahan melihat kondisi kaum muslimin di berbagai negeri. Ketika ummat Muhammad saw dikepung oleh ekspansi beragam ideologi ekternal, mereka harus dibuat pusing lagi oleh serangan internal dalam tubuh mereka sendiri.
Pemikiran keras kaum ektrimis (salafiyah) hari ini menurut pemetaan beliau memiliki beberapa ciri khas. Di mana mereka hanya berpegah teguh kepada sejumlah masalah yang sebenarnya tidak mewakili karkater ummat, tetapi sekedar masalah-masalah cabang atau far’iyyah. Mereka lalu menjadikannya sebagai standarisasi dalam pengelompokan kaum Muslimin. Sudah menjadi opini umum di antara mereka bahwa masalah-masalah itu adalah qat’i (pasti tanpa perdebatan) di kalangan mereka. Kebenaran versi mereka itu dipaksakan kepada orang lain. Bagi yang tidak mengikutinya disebur ahli bid’ah atau fasiq, minimal tidak ittiba’ kepada Rasul saw.
Di antara perkara-perkara itu adalah: masalah ayat-ayat sifat, mazhab Asy’ari bukan ahlus sunnah, menolak taklid dan mazhab, mempersempit pengertian bid’ah, mengharamkan tawassul, melarang bepergian ke Madinah dengan niat ziarah ke kubur Nabi saw, mengharamkan ngalap berkah, melarang maulid atau acara keagamaan, melarang terbentuknya kelompok/organisasi agama, dan lain-lain.
Kelompok ektrimis ini biasanya sangat fanatik terhadap pendapat mereka dan guru-guru mereka, sehingga memandang sebelah mata pendapat orang lain pada masalah di atas. Baginya, perkara zhanni (dugaan) bisa berubah menjadi qath’iy (pasti), dan objek pembahasan berubah menjadi aksioma yang tidak bisa diperdebatkan lagi. Dari sini skala prioritas menjadi berantakan. Perkara remeh diutamakan dari yang penting, maslahat pribadi dari pada kepentingan umum, dan pendapat sebagian dipandang kesepakatan ulama. Tentu saja semua ini akan berakibat buruk bagi seluruh lapisan masyarakat.
Buku “Bukan Bid’ah” ini ditulis untuk menepis semua isu-isu dagangan kaum ektrimis. Sang penulis yang juga mantan Mufti Republik Mesir ini menghadirkan argumen-argumen kuat berdasarkan referensi dari karya para ulama. Mencap seseorang menyimpang atau ahli bid’ah harus dengan ilmu. Bukan semudah membalikkan telapak tangan. Menuduh seenaknya bisa dihukumi tuduhan tanpa bukti. Alhasil, bukannya memberi solusi, malah menghadirkan masalah baru di tengah ummat. Oleh karena itu, seyogyanya kaum Muslimin satu sama lain harus saling mengayomi dan saling memahami.

Buku : Bukan Bid’ah
Judul Asli : Al-Mutasyaddidun: Manhajuhum wa Munaqasat Aham Qadayahum (Para ektrimis: manhaj mereka dan dialog terhadap isu-isu utama mereka
Penulis : Prof. Dr. Ali Jum’ah
Tebal halaman : 297 halaman
Penerbit : Pusat Studi Al-Qur’an
ISBN : 978-602-18476-2-6

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…