Langsung ke konten utama

Profil TGH. Abdillah Ibrahim (Tuan Guru Mispalah)

Oleh: H. Habib Ziadi Thohir (Cucu Beliau)
A.      Pendidikannya
Beliau adalah pendiri madrasah Ishlahul Ikhwan sebagai embrio dari Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya. Lahir dari keluarga yang agamis di Merang Lebak Praya sekitar tahun 1930.  Sejak kecil dididik penuh disiplin dan ketelatenan oleh orang tuanya, terutama dalam masalah agama.
Semasa hidupnya pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Nurul Yakin tahun 40-an, madrasah tertua di kota Praya. Kurun 1946-1950 melanjutkan tafaqquh fiddin di Pancor dalam didikan langsung Maulanasyekh TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid.

A.      Kiprah dan Dakwahnya
Selepas itu, beliau kembali ke almamaternya di Nurul Yakin untuk menerapkan ilmu yg diperolehnya pada waktu itu madrasah Nurul Yakin Praya masih bergabung dengan organisasi NW. Waktu itu Madrasah Nurul Yakin dipimpin oleh TGH. Muadz. TGH Abdillah pernah menjadi kepala MI NW Nurul Yaqin.  Tercatat beberapa Tuan Guru asal Praya adalah didikan beliau di madrasah tua itu, di antaranya TGH. Hilmi Najamuddin, TGH. Qamarudin, TGH. Habib Thantawi, TGH. M. Thahir Azhari, dan lainnya. Nama terakhir dijadikan menantu oleh beliau.
Akibat adanya perbedaan pandangan politik dengan pendiri NW, akhirnya madrasah Nurul Yakin memisahkan diri dari NW. TGH Abdillah oleh Bapak maulanasyekh ditunjuk untuk membantu seniornya TGH. Najamuddin Makmun mendirikan Pondok Pesantren baru di Praya, yaitu Pondok Pesantren Darul Muhajirin NW pada tahun 1971. Hal ini berdasarkan penuturan salah satu menantu beliau, TGH. Muhsin Syarifudin, S.Ag.
TGH. Abdillah punya andil sangat besar dalam proses pendirian sejak awal hingga perkembangan berikutnya. Beliau mencurahkan ide, gagasan, tenaga, bahkan harta yang tidak sedikit  untuk pendirian Ponpes baru itu. Bersama TGH. Najamuddin Makmun yang keduanya pada masa itu terkenal sebagai murid Maulanasyekh yang sangat loyal dan taat pada fatwa gurunya. Segala hal beliau siap korbankan demi menjalankan intruksi sang guru yang dianggapnya sangat berjasa besar padanya.
TGH. Najamuddin sendiri adalah senior beliau. Dalam banyak hal, datok Udin (sapaan akrab TGH. Najamuddin) sering mengikutsertakan TGH. Abdillah. Datok Udin sendiri punya panggilan khusus untuknya yaitu Haji Dolah. termasuk dalam pendirian Ponpes Darul Muhajirin, TGH Abdillah yang banyak membuka pengajian di komplek Ponpes untuk menarik sumbangan masyarakat (jamaah). Di samping itu beliau dipercaya menjadi kepala PGA Darul Muhajirin yang saat itu berlokasi di kampung Srengat. Datok Udin sendiri menilai bahwa yuniornya itu adalah orang yang ikhlas, berjuang tanpa pamrih.
maulanasyekh, mudir As-Shaulatiyah, datok udin, dan TGH. Abdillah paling pojok kanan
Datok Udin lebih mempercayakan kepada yuniornya untuk memegang pengajian, terutama yang berkaitan dengan mengajak jamaah untuk menyumbang. Mengingat kemampuan orasi TGH. Abdillah yang sangat baik dan mudah diterima oleh masyarakat. Alhasil, setiap kali TGH Abdillah memberikan pengajian dalam rangka  atau penggalangan dana, uang yang terkumpul jumlahnya sangat banyak.
Organisasi NW kembali pada awal tahun 1980-an mengalami kemelut. Ini dikarenakan akibat situasi politik yang cukup memanas kala itu. Ada tarik-menarik kepentingan antara kelompok sekuler (GOLKAR) dengan kelompok islamis (PPP). NW sendiri awalnya berafiliasi kepada GOLKAR. Namun, bapak Maulanasyekh menilai keberpihakan Orde Baru (GOLKAR) terhadap agenda-agenda ummat Islam semakin memudar. Di mana-mana terjadi gesekan/insiden antara ummat Islam dengan pemerintah yang didukung penug GOLKAR. Akhirnya atas dasar itu, NW memutuskan keluar dari GOLKAR untuk bergabung dengan PPP.
Ponpes Darul Muhajirin dan mayoritas pengurusnya memilih setia pada GOLKAR. Imbasnya, inilah yang membuat Ponpes itu keluar dari organisasi NW. Namun, TGH. Abdillah pada waktu itu posisinya mendukung kebijakan sang guru, yaitu Maulanasyekh. Tetapi semua ini hanya perbedaan ijtihad politik saja. Hubungan beliau dengan seniorrnya, Datok Udin (TGH Najamudddin) tetap terjalin dengan baik. Komunikasi antar keduanya tetap berjalan.
Masjid Nurul Iman
Setelah itu, TGH. Abdillah diperintahkan oleh Maulanasyekh mendirikan madrasah di tempat relokasi warga Merang dan sekitarnya yang digusur akibat pembangunan bendungan Batujai. Wilayah relokasi itu dinamakan kampung MISPALAH oleh Maulanasyekh. Diambil dari nama sebuah wilayah di Kota suci Makkah, Misfalah. Mispalah sendiri merupakan singkatan dari beberapa kampung korban penggusuran yaitu Merang, Sebenge, Presak, dan Lebak.
Pembangunan madrasah di Mispalah dirangkaikan dengan pembangunan masjid, tepatnya pada tahun 1982. Oleh Maulanasyekh, madrasah itu diberi nama Ishlahul Ikhwan yang berarti memperbaiki saudara. Adapun masjidnya diberi nama Nurul Iman, cahaya iman. Harapan dari nama Ishlahul Ikhwan agar madrasah ini bisa menjadi wadah penggerak menuju perbaikan masyarakat, perbaikan ummat, dan mendorong menuju kemajuan. Sedangkan nama Nurul Iman, harapannya masjidnya bisa menjadi corong kebaikan, corong keimanan dan sentral ibadah atau aktifitas keagamaan masyarakat. Dalam sebuah pengajian di Mispalah, Maulanasyekh pernah menyebut, "Madrasah Mispalah madrasah barokah insya Allah. karena didirikan oleh orang yang ikhlas.”

C.       Metode Dakwah dan Pendidikannya
Dalam keluarga, beliau terkesan tegas pada anak-anaknya. Beliau membangunkan anak-anaknya suntuk menunaikan olat tahajud sekitar jam 4 pagi. Selanjutnya berwirid sampai subuh. Semua anaknya harus pandai mengaji, rajin belajar, berprestasi, dan istiqamah beribadah. Untuk urusan belajar dan menuntut ilmu, beliau tidak mengenal istilah kompromi, termasuk kepada keturunannya sekalipun.  Hal inilah yang selalu melekat dan terus menerus diamalkan oleh anak-anaknya hingga kini. Seperti itulah mereka kembali menerapkannya kepada cucu-cucu beliau.
Menurut penuturan beberapa muridnya, Tuan Guru Mispalah, sapaan akrabnya waktu itu sangat ketat dan disiplin juga mendidik santrinya. Tidak sedikit yang merasakan pukulan  dan dilempar ke kolam olehnya. Beliau tidak akan berhenti mengajar atau keluar kelas sebelum murid-muridnya faham betul apa yang diajarinya. Bagi siapapun yang malas, maka akan dihukum dengan sangat berat. Alhasil, banyak muridnya yang berhasil.
Dalam dakwah, beliau sangat jago. Masyarakat tertarik dari metode dakwah beliau yang aplikatif, humoris, penuh ibarat, dan berisi. Jika ada pengajian yang diisi beberapa tuan guru dalam satu majelis, biasanya beliau ditaruh di giliran terakhir, itu karena orasinya yang atraktif dan menarik perhatian. Ceramahnya tidak menjemukan, malah selalu dinanti. Hal itu barangkali yang membuat guru besarnya, Maulanasyekh sering mengutusnya untuk mewakilinya mengisi majelis taklim, terutama di wilayah Lombok Tengah.
Ada beberapa keunikan metode dakwah dan pendidikan beliau. Dalam pengajarannya, beliau selalu sisipi sya’ir-sya’ir Arab, baik yang dinukil dari matan zubad atau mahfuzhat lainnya. Bahkan konon, beliau terkenal dengan sebutan Tuan Guru Zubad, lantaran hobinya mengulas karya Imam Ibnu Ruslan itu. Beliaupun tidak segan-segan menfasilitasi hobbi para pemuda seperti sepakbola. Beliau membelikan para pemuda kampung Merang waktu itu bola, maksudnya agar mereka mudah diajak mengaji. Demikian penuturan putra sulung beliau, TGH. M. Natsir Abdillah, MA.
Berdasakan cerita putra beliau yang juga dosen tetap Universitas Mataram itu, TGH. Abdillah adalah motivator handal. Beliau selalu memotivasi santrinya yang dipandangnya memiliki kecerdasan IQ yang lumayan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa di antara muridnya yang sukses dalam karir seperti Dr. H. Asnawi, dosen tetap IAIN Mataram dan mantan rektor di sana. Termasuk juga Drs. H. L. Suhaimy Ismi,  mantan Kakanwil Kemenag NTB, kini anggota DPD RI terpilih dapil NTB. Banyak pula di antara santrinya menjadi Tuan Guru, pejabat, pegawai, ustad, dan pengajar.
Cakupan dakwah almarhum cukup luas. Majlis taklim beliau tidak saja di Loteng sendiri, Lobar, Lotim, bahkan KLU. Majelis taklim di Lombok Tengah seperti di Puyung, Bonjeruk, Kangkek lepang, Prine Utara Bonjeruk, Bare Julat, Sintung, Penujak, Sengkol, Kute, Pengawisan, Dasan Reban, Kopang, Montong Gamang Janapria. Di Lombok Timur seperti di  Prian, Pringge Jurang, Otak kokoq, dan Pengasing Jerowaru. Adapun di Lombok Barat mencakup Tempos, Gerung, Sekotong. Sebagian besar dari pengajian tersebut hingga kini masih berlanjut diganti oleh para beberapa Tuan guru.
Medan yang dilalui untuk sampai ke lokasi majelis taklimnya tentu tidak seperti sekarang. Infrastruktur saat itu sangat jauh dari memadai. Beliau sering turun naik kuda. Naik dokar ke lokasi. Melewati sungai. Bahkan turun naik bukit sekalipun, telah dilaluinya. Semua itu demi memenuhi hajat jamaah yang menanti siraman ruhani dari tausiah yang beliau sampaikan. 
Maulanasyekh bersama TGH. A. Izzuddin Habib (penerus TGH. Abdillah)

D. Wafatnya
Beliau wafat tahun 1984 dalam usia 54 tahun. Usia yang masih terbilang belum uzur. Beliau menderita sakit diabetes. Menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Islam Ibnu hajar Mataram. Dikisahkan bahwa ribuan pelayat membanjiri pemakaman beliau, hingga mobil-mobil dari luar Praya hanya bisa diparkir 2 KM dari kampung Mispalah. Pemakaman beliau dipimpin langsung oleh maha guru yang sangat dicintainya, Bapak Maulanasyekh dan baanyak Tuan Guru beserta ribuan pelayat.
Semuanya menangisi kepergiannya. Menangisi sosok guru yang energik dan inspiratif. Menangisi seseorang yang mampu menghadirkan ketentraman dalam jiwa dengan untaian kalimatnya. Menangisi seorang yang ahli melantunkan syair-syair emas dari matan Zubad. Menangisi sosok Tuan Guru yang masih muda yang tidak sempat memasuki usia senja. Menagisi sosok pejuang kebaikan tiada kenal lelah. Bahkan Bapak Maulanasyekh sendiri tak kuasa menahan derasnya air mata sedih penuh haru mengantar kepergian salah satu murid setianya.
Selepas beliau wafat, putra keduanya, TGH. Ahmad Izzuddin Habib yang baru pulang dari madrasah As-Shaulatiyah Makkah untuk menggantikan kedudukan beliau sebagai pengasuh Ponpes. Putranya inilah yang mendirikan MTs dan MA Ishlahul Ikhwan NW. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi  Allah SWT.
Semoga bermanfaat..




Komentar

  1. i miss you my beloved teacher,,,,,we will do everything to continue your struggle...
    i remember,,,when i was in mispalah, than i never forget it until the end of time, i was here when our beloved teacher "TG.izzuddin habib" passed way, some one who has change my bad habit has gone from my life.he has given me lot of knowledge, he always call me " ayo majuu...maju ..! i will always remember all of my memories in mispalah barokah.....may our God bless them amin( datok abdilah,abah izzudin and our sister nur laela wadidah)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/
Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…