Langsung ke konten utama

Filosofi Hijrah Versi TGB



Kamis lalu penulis hadir di pengajian silaturrahim 1 Muharram 1434 H Yayasan Pondok Pesantren Darun Nahlatain (YPD) NW Pancor. Acara rutin tahunan ini digelar di aula YPD NW Pancor dihadiri oleh ribuan santri, thullab Ma’had, dan mahasiswa se-YPD NW Pancor beserta jamaah NW lainnya. Dalam menyambut hari raya Islam, sejak masa hayat Maulana Syekh, PBNW selalu mengadakan acara sejenis. Sunnah Hasanah atau tradisi baik itupun berlangsung hingga kini, baik di Pancor maupun Anjani.
Di Pancor sendiri, pengajian Muharram ini diisi langsung oleh DR. TGH. M. Zainul Majdi, MA. Ulama yang juga umara yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) ini memang selalu menjadi keynote speaker dalam setiap pengajian silaturahim apapun yang diadakan PBNW Pancor. Beliau adalah aktor utama tanpa pemeran pengganti dan seolah tidak tergantikan dalam hal ini. Memang begitu kenyataannya terhitung sejak tahun 1999 silam. Jadi, menurut keterangan jamaah, menghadiri pengajian akbar di Pancor tanpa diisi tausyiah oleh TGB, ibarat sayur tanpa garam.
Dalam kesempatan 1 Muharram lalu, TGB mengupas sisi historis Hijrah Nabi saw dari Makkah ke Madinah. Yang menjadi pertanyaan, mengapa Muharram dijadikan momen hijrah padahal menurut Tarikh Ibnu Hisyam, Nabi saw dan Abu Bakar berangkat dari Makkah di akhir Safar dan sampai di Yatsrib di awal Rabiul Awwal!. TGB memaparkan bahwa menurut para ulama, Nabi saw sendiri sejak bulan Muharram sudah berniat hijrah, terutama pasca peristiwa Baiat  Aqabah kedua yaitu sumpah setia 73 orang  penduduk Yatsrib kepada Nabi saw.
            Muharram sendiri adalah satu di antara bulan-bulan  haram. Pada masa jahiliyah, bulan Muharram tidak dikenal. Cucu Syaikh Zainuddin ini mengutip pendapat Al-Imam As-Syuyuti bahwa awalnya orang jahiliyah dulu menyebut bulan sebelum safar sebagai safar awal. Kemudian oleh Nabi saw diubah menjadi Muharram. Disebut Muharram, menurut Qadhi Abu Ya’la memiliki dua spirit sekaligus. Pertama, di bulan ini amal shalih sangat dianjurkan. Kedua, sebisa mungkin orang mukmin menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah, terutama larangan keras untuk melakukan pertumpahan darah.
TGB di awal tausyiahnya memaparkan cuplikan sejarah pra dan pasca hijrah. Namun tidak berhenti sampai sini, beliau menyampaikan nilai filosofi dari peristiwa hijrah dan spirit dari Muharram. Di sinilah letak kepiawaian retorika TGB.  Sebagai dai, beliau tidak hanya fasih menyampaikan ajaran Islam secara normatif, namun piawai juga menyampaikan substansi dan filosofi dari ajaran tersebut untuk diterjemahkan ke dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Dalam istilah sekarang, TGB mengedepankan dakwah yang mensinergikan kesalihan individual dan kesalihan sosial.
Setidaknya ada enam filosofi hijrah yang disampaikan TGB yang berhasil penulis rangkum pada pengajian Kamis lalu:
Pertama, Nabi saw merencanakan hijrah pada bulan Muharram dan mencari momen yang tepat untuk melaksanakannya, yaitu di akhir bulan Safar. TGB menerjemahkan hal ini dengan ungkapan, “Apapun yang kita lakukan, seharusnya terencana dan sistematis, untuk urusan kecil apalagi urusan besar”. Sesuatu yang terencana akan sangat besar kemungkinan suksesnya. Adapun berbuat tanpa perencanaan, kemungkinan gagalnya tentu lebih besar. Peristiwa hijrah mengajarkan kita bahwa ini bukan inisiatif mendadak, namun sudah tersusun matang. Bagaimana Nabi saw. Memenej sahabatnya untuk berhijrah kelompok demi kelompok ke Yatsrib. Terakhir, beliau berangkat bersama Abu Bakar melalui jalan yang tidak biasa dilalui bila menuju Yatsrib.
Kedua, setiap peradaban selalu diawali Hijrah. Karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan berkembangnya dakwah Islam di Makkah, Nabi saw. Menginisiasi hijrah ke Yatsrib. Nama Yatsrib pun diubah beliau menjadi Madinah yang berarti Tempat lahirnya peradaban. Bila kita ingin membangun peradaban sejati, kita harus siap berhijrah. Berhijrah dari kebodohan menuju intelektualitas, dari kemalasan menuju kerja keras, dari kebiasaan buruk menjadi terbiasa berbuat baik, dan dari keterpurukan menuju kebangkitan. Nabi saw mengajak kita menatap masa depan dan meninggalkan kelamnya masa lalu. Kita jangan puas dengan satu keadaan, upayakan untuk merubah keadaan itu seoptimal mungkin. Allah menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu bangsa, sehingga bangsa itu merubah keadaan mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’du: 11)
Ketiga, di bulan Muharram kita dianjurkan memperbanyak istigfar. Gubernur termuda ini mengutip Az-Zikroyat wa Munasabat karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Hasani, bahwa pada Muharram Allah menerima taubatnya Nabi Adam dan Nabi Yunus serta menyelamatkan Nabi Nuh dari banjir bandang. Esensi taubat kata TGB adalah meminta ampun dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Istigfar itu menuntut adanya perubahan positif. Pada kesempatan yang sama TGB mengajak para jamaah dan masyarakat Lombok serta warga NTB untuk meninggalkan kebiasaan gerasak. Kebiasaan beringas seperti itu mencoreng keislaman dan kemanusiaan. TGB menyebutnya sebagai bazrah jahiliyah atau benih sifat jahiliyah yang harus dikubur hidup-hidup. Jangan sampai akibat masalah sepele, jatuh korban jiwa. TGB mengutip hadits bahwa orang muslim satu sama lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.
Keempat, berbagi tugas dan profesi. Hijrah Nabi saw didesain sendiri oleh beliau. Beliau membagi tugas beberapa sahabatnya demi suksesnya misi tersebut. Profesi bagi Islam itu kata TGB, memiliki spirit anfa’uhum linnas atau paling bermanfaat bagi sesama. Dalam hidup ini, kaum muslimin harus berbagi peran satu sama lain. Dalam hal pemilihan profesi misalnya, jangan sampai terjadi ketimpangan besar antara profesi satu dengan profesi lainnya. Misalnya, dalam sebuah keluarga, jangan sampai anak laki-laki semuanya diarahkan menjadi ulama atau tuan guru, tidak ada yang diarahkan menjadi pengusaha, dokter, dan lain-lain. TGB meminjam istilah Al-Imam Al-Ghazali, Furudhul Kifayah. Kita harus berbagi peran dan tugas, sehingga dalam setiap bidang ada sebagian dari pada orang Islam yang menjadi ahli di sana. Jadi, apabila di satu desa tidak ada seorang muslim pun menjadi dokter, maka berdosalah semua warga desa tersebut. Kurang lebih seperti itulah substansi pemikiran Al-Ghazali dalam Al-Ihya-nya.

Kelima, sombong itu penghancur amal. Perjuangan itu membutuhkan jundi atau kader yang kokoh namun tidak besar kepala saat berbuat kebaikan. Apapun tugas kita, kata TGB harus bersih dari kesan kesombongan. Sombong itu penyakit hati yang menular ke seluruh organ tubuh. Seorang muslim yang berjuang dilandasi kesombongan, amal baktinya sia-sia. Beliau mengutip kutipan lagu “jangan tinggi karena puji” dalam Mars NW dan mengajak jamaah menyanyikannya bersama. TGB juga menegaskan niatannya maju kembali bertarung di PILKADA GUBERNUR 2013 bukan untuk gagah-gagahan, seperti bahasa beliau. Namun untuk merampungkan ikhtiar dan melaksanakan amanah dewan mustasyar NW yang merekomendasikan beliau maju kembali. “Jika niat memegang amanah Gubernur sudah salah, yang capek saya sendiri, dunia akhirat merugi”, demikian ungkapnya. Menurut beliau keputusan ini diambilnya saat wukuf di padang Arafah ketika menunaikan ibadah haji tahun ini. Diakuinya bahwa masa-masa menjabat Gubernur NTB inilah periode tersulit dan terberat dalam hidupnya.
Keenam, warga NW harus menjadi pelopor pemersatu ukhuwah Islamiyah. Ketika hijrah, Nabi saw membangun komunikasi dan kebersamaan dengan komunitas Madinah lainnya saat itu. Selaku Ketua PBNW sekaligus gubernur, TGB  mengajak warga NW bersinergi dengan ormas Islam lainnya dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Bahwa di NTB, ummat Islam bukan hanya NW saja, namun hidup beragam ormas dan kelompok ummat yang lain. Dalam Islam, sekat-sekat organisasi jangan jadi penghalang berukhuwah. TGB mengharapkan warga NW jangan cepat terpengaruh isu-isu menyesatkan yang bisa mengganggu ketentraman. Warga NW harus mengedepankan akal sehat dan tidak boleh berlaku anarkis, apalagi menumpahkan darah sesama.
            Demikianlah filosofi hijrah Nabi saw. yang disampaikan oleh TGB. Semoga apa yang beliau sampaikan bisa menginspirasi kita semua untuk menjadi pribadi dan masyarakat NTB yang lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya.
     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/
Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…