Langsung ke konten utama

Ponpes NW Mispalah Praya Ajak Para Santri Berdonasi Untuk Muslim Rohingya



Merebaknya berita tragis seputar  etnis Muslim Rohingya di Myanmar sontak membuat kaum Muslimin prihatin. Berbagai bentuk aksi dukungan dilakukan untuk menunjukkan solidaritas. Berbagai ormas Islam, LSM, elemen mahasiswa, hingga pemerintah buka suara. Tidak ketinggalan juga lembaga pendidikan Islam terutama Pesantren.  Semua kompak member support  Muslim Rohingya dan  melayangkan protes kepada Pemerintah Myanmar.
Sebagai wujud solidaritas tersebut, Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya mengajak semua santri untuk menyumbang untuk saudara  Muslimnya di Rohingya. “Berdonasi atau bersedekah untuk orang yang dizhalimi adalah sedekah yang utama, nilainya sama dengan jihad,” tutur ustadz Yahya yang memberikan suguhan pagi itu. Donasi itu penting terutama di bulan Ramadhan, katanya karena amal kebaikan semuanya dilipatgandakan. “Donasinya dibawa besok minimal 5000 perorang, sanggup?” pancingnya. “Sangguuuup,” jawab para santri kompak.
Acara penggalangan dana ini mendapat respon dan antusias dari para santri. Menurut penuturan Ustadz Habib Ziadi selaku pengurus ponpes, acara sejenis dijadikan program rutin bila terjadi bencana atau tragedi kemanusiaan. “Kami juga mengajak jamaah tarawih Masjid Mispalah dan Ponpes Al-Hananiyah yang berdekatan dengan kami untuk turut berdonasi. Alhamdulillah ajakan kami mendapat apresiasi luar biasa,” ujarnya.  Dana yang terkumpul, imbuhnya akan disalurkan melalui lembaga kemanusiaan yang terpercaya.
Tidak itu saja, dalam mengisi bulan Ramadhan kali ini, Ponpes NW Mispalah mengadakan beragam kegiatan lainnya. Seperti biasa sebelum masuk kelas berdoa bersama dan menyimak tausiyah dari salah seorang santri dan seorang ustadz yang bertugas. Bahkan acara sejenis dilakukan kembali sebelum pulang. “Kami menyiapkan acara kuis bagi santri yang bisa menjawab pertanyaan ustadz selepas menyampaikan materi Ramadhan,” ungkap kepala Mts Mispalah, ustadz Syamsul Wathon. Selain itu di sore dan malam hari, ratusan santri yang mondok mengadakan ektarakulikuler kepondokan, berbuka bersama. terawih berjamaah di masjid, dan tadarus Al-Qur’an. Terkadang sambil menunggu waktu berbuka, mereka diputarkan film-film Islami yang mendidik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan dem…