Langsung ke konten utama

URGENSI ILMU AGAMA


Kini kita tengah berada di akhir zaman, yang oleh Maulana TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid rahimahullah disebut dalam mukaddimah Hizib Nahdlatul Wathan sebagai sa’atul fitan wassyurur (masa penuh fitnah dan kejahatan). Beliau menambahkan, “Sekarang adalah masa yang penuh kegilaan dan kebohongan. masa yang destruktif dengan fenomena taklid pada tradisi Eropa dan kekafiran.” Alhasil di mana-mana berbagai macam dosa, maksiat, dan fitnah merajalela, sehingga bagi orang yang rapuh aqidahnya akan sangat mudah terbawa arus tersebut. Arus yang tak ayal lagi akan membawa siapa saja menuju jurang kehancuran.
pernyataan di atas adalah satu dari sekian banyak kekhawatiran para ulama melihat kondisi zaman saat ini. hampir-hampir tak ada sejengkal pun tanah di belahan bumi ini yang tidak terkena fitnah. Berbagai kekejian dan kejahatan yang dulunya kita dengar terjadi di negara tetangga, kini benar-benar terjadi di sekitar kita.
Seorang muslim akan mudah terpengaruh fitnah syahwat dan syubhat manakala ia enggan mempelajari dan mengamalkan agamanya. Padahal ilmu agama sangatlah penting bagi seorang muslim. Tidak mengherankan jika para ulama banyak menulis dalam pembahasan awal kitab mereka tentang urgensi ilmu.
Ya, hal itu yang kini banyak ditinggalkan kaum muslimin. Tidak sedikit dari kaum muslimin mencukupkan diri dengan apa yang telah dipelajari dari orang tuanya dahulu atau dari sekolahannya dahulu tanpa mau mempelajarinya lagi dengan menghadiri pengajian atau membaca buku islami. Tidak heran kalau ilmu agama kita jalan di tempat alias tidak bertambah.
Malas Belajar Agama Karena Takut Dosa
Kita kadang menyaksikan, ketika ada seseorang yang diajak untuk belajar agama dia berkata “Nggak, takut kalau tahu itu dosa”, “Nggak, nanti malah repot kalau tahu itu dosa” dan perkataan lain yang muncul dari lisan kaum muslimin yang enggan belajar agama.
Betapa bahaya perkataan-perkataan itu. Apakah kita fikir jika kita enggan mempelajari agama lalu kita tidak berdosa? salah besar jika kita berfikiran demikian.
Kita perlu membedakan perkataan “Tidak Tahu” dengan “Tidak Mau Tahu”, Apa bedanya ?
Pernyataan ”tidak tahu” bisa difahami bahwa seseorang memang benar-benar tidak tahu akan suatu hukum dan konsekuensinya. Entah karena dia belum membaca ke arah itu atau memang karena dia belum menerima informasi seputar hal yang dia awam akannnya. Ini jelas berbeda dengan ungkapan ”tidak mau tahu”. Istilah ini menunjukkan keengganan untuk mencari tahu atau menggali informasi, kendati peluang ke aah itu terbuka lebar. Jadi sedikit pun kesempatan di depan mata tak dimanfaatkannya.
Saudaraku,,,, baca dan renungkan hadits dibawah ini, hadits yang menunjukkan akibat orang yang enggan mempelajari agama karena takut mengetahui dosa, akibat orang yang enggan belajar agama padahal ada kesempatan untuk mempelajarinya.
Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menceritakan ketika seseorang meninggal, di dalam kubur mayat itu akan ditanya oleh malaikat, “Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?” Adapun orang mukmin akan menjawab, “Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.” Sedangkan orang Fajir (orang yang melalaikan agamanya) akan menjawab, “Ah ah Aku tidak tahu. Aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku ikut mengatakannya.” lalu dikatakan kepadanya. “engkau tidak tahu dan tidak mengikuti orang yang tahu (dalam riwayat yang lain “engkau tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu (petunjuk)”, lalu Ia dipukul dengan palu besi sehingga menjerit dengan jeritan, yang terdengar oleh segala sesuatu, kecuali manusia (dalam riwayat yang lain “kecuali jin dan manusia”). Seandainya manusia mendengarnya niscaya tersung-kur pingsan.” (Lihat “Fathul bari” III/232 dan “Sunan Abu Dawud” IV/238).
Sudahkan kita merenungi hadits diatas? itulah akibat orang yang enggan belajar agama, dia dihardik oleh malaikat ketika tidak bisa menjawab pertanyaan kubur, dia mungkin bisa mengelak di dunia, akan tetapi keadilan benar-benar akan tegak ketika kita berada di akhirat.
Kuatkan Akidah dengan Belajar
Setiap muslim wajib mempelajari ilmu agamanya, terlebih mempelajari tentang ilmu akidah. Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membekali para sahabatnya ilmu akidah selama 13 tahun, bahkan ketika beliau shalallahu ‘alaihi wassalam akan wafat, beliau masih sempat membe-kali para sahabatnya dengan akidah. Be-liau bersabda, : “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menuntut ilmu dalam hal ini adalah pendidikan merupakan bekal utama manusia mengarungi kehidupan di dunia. Pendidikan pada dasarnya adalah akidah. Apa yang dipelajari oleh seseorang itulah yang menjadi keyakinannya. Bila ia mempelajari hal yang keliru, besar kemungkinan ia akan jatuh pada kekeliruan. Begitu pula sebaliknya.
Dalam kitab Ta’limul muta’allim, Syaikh Az-Zarnuji memaparkan bahwa setiap muslim tidak diwajibkan menguasai seluruh cabang ilmu, namun diwajibkan atasnya menuntut ”ilmu hal”, yaitu ilmu tentang kondisi kekinian. Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud ilmu hal tersebut adalah ilmu usuluddin (dasar-dasar agama atau akidah) dan ilmu fiqh. Jadi, dengan memahami keduanya, seorang muslim sudah terlepas dari kewajiban yang harus dipenuhinya.
Ilmu usuluddin mengajarkan bagaimana seharusnya kita beriktikad kepada Alloh, memahami rukun iman yang enam, memahami batasan antara keimanan dan kekafiran. Usuluddin ini terkait dengan keimanan dan keyakinan kita sebagai seorang yang beriman. Adapun ilmu fiqh mengajarkan tata cara beribadah yang benar kepada Alloh, kewajiban zakat, haji, dan puasa. Fiqh juga mengajarkan seluk beluk hukum pernikahan dan keluarga, muamalah atau ekonomi, hudud atau sanksi bagi pelaku kejahatan, bahkan diajarkan pula kriteria memilih pemimpin dan syariat jihad.

Segera Belajar dan Beramal Sebelum Datang Fitnah
Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah berpesan kepada kita agar mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai macam fitnah yang akan muncul di akhir zaman ini, yakni dengan mempelajari agama dengan sungguh-sungguh, kemudian mengamalkannya. Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, : “Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir, di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no. 118, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Sungguh fitnah yang sangat mengerikan, pagi hari seseorang beriman dan sore harinya menjadi kafir dan sebaliknya. Siapa mereka ? yakni orang yang menjual agamanya demi dunia. Menghabiskan waktu untuk dunianya tanpa memberatkan/mengimbangi dengan akhiratnya. Tidak pernah menghadiri majelis taklim. Malas shalat berjamaah ke masjid. Enggan mendengarkan nasihat.
Di era serba modern ini, akses memperoleh ilmu semakin mudah saja, termasuk ilmu agama. Sistem klasik dan tradisional seperti ceramah live dan direct dihadapan jamaah masih eksis. Ditambah lagi dakwah kini telah merambah media televisi, radio, bahkan internet. Dakwah kian makin mudah dijangkau oleh siapa saja, di mana saja dan oleh segala usia, baik melalui dunia nyata dan dunia maya. Artinya, tidak ada alasan untuk tidak melek ilmu agama.
Jangan sampai kita berpikiran agama itu shalat saja, puasa ramadhan cukup, berhaji cukup, tanpa sedikit pun kita mau memperdalam ilmu agama. Sebab, semua ibadah bila didasari atas keawaman atau kebodohan, kemungkinan besar akan tertolak. Istilahnya ”al-ilmu qobla al-amal” yaitu berilmu dulu baru beramal.
Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semuanya, semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berusaha dan bersemangat untuk mempelajari dan mengamalkan agama Islam ini. Wallaahu a’lam bish Shawaab. (dari berbagai referensi)
H. Habib Ziadi; Alumni Ma'had Aly An-Nu'aimy Jakarta, kini Pengasuh Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya Lombok Tengah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Cinta Nabi saw

Permata Hati Engkaulah yang menjadi permata hati kami Engkaulah yang menjadi mutiara akal ini Engkaulah yang menerangi kegelapan jiwa ini Engkaulah yang menunjuki jalan keselamatan Ya…Nabiyallah Ya…Rasulallah Ya…Habiballah shalawat dan salam untukmu semoga kami dapat bertemu denganmu … Sumber : http://puisiislam.blogdetik.com/tag/nabi-muhammad-saw/ Rasulullah Saw Berabad-abad sudah berlalu namun namamu masih melekat di hatiku tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu tak pernah aku melihat langsung dakwahmu namun sinar cahaya itu mampu menebus jaman dan ruang menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia cahaya itu tak pernah redup sampai akhir zaman Rasulullah SAW , begitu agung namamu bergetar hati ini , menangis , rindu bertemu dengan mu rindu pada suri tauladan yang kau berikan rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu rindu pada kedamaian yang kau ciptakan Rasulullah SAW , rindu pada kepemimpinanmu Cinta dan kasih sayang mu tiada tara Rahmatan Lil Alamin , memang itulah

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern

Oleh: Habib Ziadi PENDAHULUAN Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi: Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.” Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”. Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw. [1] Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa

Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani

Biografi Singkat Kelahiran Beliau Al 'Allamah Al Muhaddits Al Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid 'Alawi ibn Sayyid 'Abbas ibn Sayyid 'Abdul 'Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy'ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki yang tempatnya sangat masyhur dekat Bab As-salam. Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Makkah terkemuka lainnya, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa'id Yamani, dan lain-lain.Sayyid Muhammad memperoleh gelar Ph.D-nya dalam Studi Hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami' al-Azhar di Mesir, pada saat baru berusia dua puluh lima tahun. Beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi Hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan ju