Langsung ke konten utama

Mewaspadai Virus-Virus Gila


Didownload dari muslimdaily.net

Pagi itu penulis memanaskan motor untuk digunakan membeli bubur nasi kesukaan si kecil. Si kecil yang usianya sudah memasuki satu setengah tahun biasanya lahap sarapan pakai bubur. Alhamdulillah, bubur yang dicari masih ada. Biasanya kalau telat sedikit pasti kehabisan. Tapi artikel ini tidak membahas bubur kesukaan si kecil. Ada pemandangan lain di pagi itu yang mengganggu pikiran penulis.
Sepulangnya membeli bubur, penulis melihat lelaki berpakaian kumal, wajah dekil, dan rambut ikal memanjang tidak karuan. Tangannya menyeret karung berisi “harta karun” yang entah sejak kapan dikumpulkannya. Dari segi penampilan, sudah bisa dibaca bahwa laki-laki itu kena gangguan jiwa. Mana ada laki-laki waras berpenampilan kacau-balau begitu. “Seandainya pun dia pemulung, tidak mungkin akan sedekil itu di awal pagi begini,”gumam penulis dalam hati.
Dalam artikel ini penulis membahas tentang orang gila. Di sekitar kita pasti ada orang yang tidak seberuntung kita. Alhamdulillah, kita yang sehat dan normal begini masih bisa bercermin menilai penampilan kita sudah rapi atau belum. Masih bisa membedakan makanan yang enak dan tidak. Kita masih bisa menilai antara baik dan buruk. Kita pun masih berpikir apa perbuatan kita pantas atau tidak. Itulah  fungsi akal sebagai anugerah Allah yang sangat berharga. Barang berharga inilah yang tidak  dinikamati oleh orang gila itu.
Dalam situs Wikipedia, gila (Inggrisinsanity atau madness), adalah istilah umum tentang gangguan jiwa yang parah. Secara historis, konsep ini telah digunakan dalam berbagai cara. Di lingkungan dunia medis lebih sering digunakan istilah gangguan jiwa.
Kata kegilaan sering pula digunakan untuk menyatakan tidak waras, atau perilaku sangat aneh. Dalam pengertian tersebut berarti ketidaknormalan dalam cara berpikir dan berperilaku kurang wajar. Gila yaitu hilangnya suatau pikiran dikarenakan penyebabnya oleh setres atau ada masalah pribadi yang dialami oleh seseorang yang tidak waras tersebut hingga mengakibatkan pikiran yang tidak terkendali dan akhirnya menjadi berpikiran tidak waras dan berperilaku aneh.
Allah mentakdirkan diantara kita ada yang waras dan tidak atau ada yang normal dan abnormal, tentu bukan berarti Dia tidak adil. Allah hendak menitip pesan melalui orang yang tidak beruntung itu, bahwa selayaknya orang yang sehat walafiat itu bersyukur beribu syukur. Hendaklah akalnya dipergunakan sebaik-baiknya demi kemaslahatan dirinya atau orang di sekitarnya. Dipergunakan sebaik-baiknya berarti juga dipakai sesehat-sehatnya. Sebab, dinamakan akal sehat bila ia digunakan secara arif dan dalam kendali. Jangan sampai karena hal-hal sepele, lupa akal sehat kemudian berbuat hal yang tidak masuk akal. Diberitakan seorang istri akibat dilalap api cemburu tega membunuh suami, bahkan hingga memutilasinya. Seorang gadis akibat kecewa pada pacarnya yang urung menemaninya ke bioskop, rela menabrakkan dirinya ke kereta api.
Adanya orang gila juga menuntut perhatian dari orang lain. Makhluk Tuhan yang malang ini butuh tempat khusus guna menampung mereka. Ini adalah ladang amal bagi orang lain. Bayangkan bila orang-orang gila dibiarkan berkeliaran di pinggir jalan, tentu sangat merepotkan. Banyak yang akan melihat pemandangan-pemandangan tidak elok dari orang-orang tanpa terapi ini. Di sini dituntut pihak-pihak terkait untuk mengurus mereka. Apakah orang gila yang memiliki keluarga saja yang perlu dirawat? Sebab, banyak pula orang gila tanpa keluarga,atau mungkin dibuang oleh keluarganya lalu hidupnya menggelandang  terlunta-lunta.
Pengidap Gangguan Jiwa di Indonesia
Di Indonesia diyakini jumlah orang gila mencapai enam juta jiwa. Menurut riset tahun 2009 saja, jumlah populasi penduduk Indonesia yang terkena gangguan jiwa berat mencapai 1-3 persen di antara total penduduk. Jika penduduk Indonesia diasumsikan sekitar 200 juta, tiga persen dari jumlah itu adalah enam juta orang.
Angka ini bukan angka prediktif. Tapi, ini adalah angka prevalensi (angka kejadian) berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas), Dan jumlah ini hanya bagi mereka yang dinyatakan menderita gangguan jiwa berat (psikosis).
Para pakar memprediksi, meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa akibat dari seseorang tidak bisa menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan suatu perubahan atau gejolak hidup. Terutama dalam hidup yang serba cepat serta persaingan hebat seperti saat ini. Berdasar fakta itu, banyak psikiater memprediksi, angka gangguan jiwa akan terus naik jika tidak diantisipasi sejak awal. Bahkan, jumlahnya ditengarai akan melampaui penyakit infeksi. Misalnya, diabetes mellitus, ginjal, maupun jantung.
Fenomena terselubung gangguan jiwa bisa diketahui melalui hasil penelitian WHO yang dilakukan di empat kabupaten/kota. Di antaranya, di Jakarta dan Bogor. Di dua kota itu, sekitar 20-30 persen pasien yang berobat di puskesmas dan dokter umum menunjukkan gangguan jiwa. Sayang sekali mereka tidak menyadari dan menganggap fisiknya saja yang sakit.. Alhasil dokter pun tak menemukan penyakitnya.
Penyakit Gila Dimensi Lain
Orang menjadi gila dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Di samping bisa jadi karena keturunan atau lantaran depresi menghadapi realitas kehidupan. Namun, kita jangan lupa atau mungkin terlena, menganggap orang yang terkena gangguan syaraf saja yang gila, padahal bisa jadi kita juga terkena penyakit gila. Gila di sini dimensinya berbeda, tergantung orientasi masing-masing. Gila yang dibahas di atas adalah gila otaknya. Sedangkan kita atau orang-orang di sekeliling kita banyak terkena gangguan syahwat popularitas, jabatan, kedudukan, cinta (wanita), dan harta. Alhasil, karena virus-virus itu banyak pula yang jadi gila popularitas, gila jabatan, gila kursi, gilawanita, dan gila harta.
Penyakit gila jadi-jadian di atas bukan perkara sepele, karena orang-orang gila macam itu jumlahnya tidak sedikit. Jika angka penderita gangguan jiwa berat di negeri kita ditaksir mencapai enam juta orang, maka angka penderita penyakit gila popularitas, jabatan, wanita , kedudukan, dan harta tampaknya lebih banyak.
Hidup dengan orientasi yang salah dengan hanya menfokuskan mengejar pernak-pernik duniawi rentan terjangkit penyakit gila popularitas, jabatan, kedudukan, dan harta. Dan jika virus-virus gila ini mewaba,maka akan bertambah parah. Sudah banyak bukti kalau semua motivasi duniawi itu digila-gilai, oknumnya itu akhirnya  jadi gila juga. Orang yang gila popularitas, sangat tidak nyaman bila kepopulerannya kalah oleh orang lain. Hidupnya bergantung pada pujian dan penilaian manusia. Orang yang gila jabatan rela menghamburkan hartanya dan menjual nama bahkan harga dirinya. Namun, ketika target itu meleset, dia tidak hanya jatuh miskin, tapi juga jatuh gila. Manusia yang mendewa-dewakan cinta pada lawan jenis, sanggup menulis beribu-ribu syair, bersenandung memuja-muji kekasihnya karena sudah tergila-gila padanya. Tatkala kekasihnya itu pergi, pergi pula nyawanya. Orang yang tergila-gila dengan harta, jika hartanya hilang, hilang pula akal sehatnya.

Mengidap penyakit gila popularitas, jabatan, kedudukan, dan harta cenderung mudah terkena depresi. Menurut catatan WHO, depresi menempati empat besar penyakit dengan beban kesehatan tertinggi. Diprediksikan pada 2020, penyakit itu menempati dua terbesar dengan beban kesehatan tertinggi. Itu disebabkan mereka yang terkena penyakit tersebut kehilangan hari-hari bahagianya. Kualitas hidupnya menurun. Demikian juga produktivitas. Sebab, ia sibuk dengan mimpi gila-gilaan. Hidupnya pun tidak karuan.
Sayang sekali, fokus utama pemerintah saat ini masih berkutat terhadap penyakit infeksi. Belum terlalu fokus terhadap penyakit yang satu ini (gila karena berbagai virus). Padahal bahayanya sudah di depan mata. Lantaran fenomena global, gangguan jiwa juga banyak terjadi di belahan dunia manapun, terutama di negara maju yang sarat dengan tingkat persaingan yang tinggi.
        Sesungguhnya dengan mensyukuri akal kita sebaik-baiknya dan sesehat-sehatnya, demi kemaslahatan kita dunia akhiratlah yang bisa menyelamatkan kita dari penyakit gila. Haruskah karena syahwat duniawi kita menggadaikan akhirat kita? Sebab, orang gila karena faktor apapun, dia tidak lagi disebut mukallaf. Artinya, tidak dicatat baginya dosa dan pahala. Otomatis hilang pula kesempatan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Jangan sampai lantaran banyaknya orang gila, malaikat dipaksa “menganggur” mencatat amal manusia. Wallohu A’lam
Penulis :
 H. Habib Ziadi
Alumni Ma'had Aly Isy karima Jateng dan Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta
Pengasuh Ponpes darul Muhibbin NW Mispalah Praya  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…