Langsung ke konten utama

Mengenal Kitab Ulmumul Hadits Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern


Oleh: Habib Ziadi

PENDAHULUAN
Ilmu hadits menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki memiliki 3 kandungan defenisi:
Pertama :  penukilan riwayat yang disandarkan kepada Rasul saw dari pernyataan yang dikatakan oleh beliau, perbuatan yang dikerjakannya, atau persetujuannya, atau sifat-sifatnya. Yakni, semua tentang diri beliau dan sejarahnya baik sebelum atau sesudah kerasulan. Termasuk apa yang dinukil dari sahabat dan tabi’in. Ilmu hadits kategori ini disebut, “Ilmu Riwayah al-Hadits.”
Kedua: Metode atau jalan yang digunakan dalam sampainya hadits-hadits dari sisi keadaan para perawi, kekuatan hapalan dan keadilannya, atau dari sisi sanad, apakah ia muttasil atau munqati’. Kategori ini dikenal dengan istilah “ilmu Ushul al-Hadits”.
Ketiga, pembahasan pada pemahaman makna atau mafhum ma’na dari lafazh-lafazh hadits, maksudnya berdasarkan kaidah bahasa Arab dan ketentuan syariat dan disesuaikan dengan prilaku Nabi saw.[1]
Perkembangan ulumul hadits dari masa ke masa mengalami perubahan demi perubahan. Kalau boleh dikatakan berevolusi sesuai masa. Sebuah karya pada masa tertentu dikritisi, ditambahkan, dan dilengkapi pada masa berikutnya. Hal semacam ini sangat lumrah dalam bidang ulumul hadits, bahkan dalam segala disiplin ilmu manapun. Hasilnya, setiap karya dalam satu kurun/masa akan dilengkapi dan disempurnakan pada masa berikutnya.






PEMBAHASAN
MENGENAL KITAB-KITAB HADITS PADA MASA KLASIK, PERTENGAHAN, DAN MODERN

  1. Kitab-kitab Ulumul Hadits Pada Masa Klasik
Perkembangan pemikiran ulumul hadits pada masa klasik cukup signifikan. Diawali dengan model periwayatan verbal, yang terjadi sejak masa Rasulullah saw sampai pasca khulafa’ ar-rasyidin dan sampai penyusunan kitab-kitab yang mengkaji materi-materi tertentu dari ulumul hadits. Hal ini menandakan besarnya perhatian sekaligus adanya upaya mengembangkan wacana dalam membangun standar untuk materi uji shahih hadits yang berjalan secara sinergis akumulatif, sampai akhirnya muncul ide untuk menyatukan dalam pembahasan khusus ulumul hadits oleh seorang ulama non Arab asal Iran, yaitu Abu Muhammad ar-Ramahurmuzy.
Pembahasan materi ulumul hadits periode klasik dinilai oleh para pakar, seperti Ibnu Shalah, An-Nawawi, al-Iraqi, dan Ibnu Hajar, masih belum komprehenshif yang dalam istilah Ibnu Hajar adalah lam yustau’ab dan tidak sistematis. Bahkan, hanya satu karya, Ma’rifati, yang secara jelas membagi ulumul hadits menjadi 52 cabang, sedangkan Abu Muhammad ar-Ramahurmuzy dengan 70 pembahasan, al-Baghdadi dengan 145 pembahasan, atau al-Qadhi Iyadh dengan 27 pembahasan, membuat pembagian yang tidak mengarah pada pembagian cabang ulumul hadits, tetapi hanya pembahasan saja.[2]
       1.  Al-Muhaddits al-Fashil bayna Ar-Rawi wa al-Wa’i
Abu Muhammad ar-Ramahurmuzy (9265-360 H) dianggap sebagai peletak batu pertama dalam bidang ilmu dirayah, yang lebih dikenal dengan ulumul hadits. Ini adalah karyanya yang monumental. Kitab tersebut sebagai kitab pertama dalam bidang ulumul hadits, walaupun belum mencakup seluruh pembahasan ulumul hadits.[3]
Penyusunan kitab ini dilakukan jauh setelah kitab-kitab hadits tertadwin secara baik. Artinya, banyak kitab hadits yang tersusun dari hasil penyeleksian kuat penulisnya dan telah mendapatkan derajat penilaian terhadapnya. Dengan demikian, dapat disebut bahwa yang dikemukakan oleh Abu Muhammad ar-Ramahurmuzy dalam kitab ini adalah kumpulan informasi yang dapat dijadikan kaidah-kaidah standar pengevaluasian kualitas hadits yang telah terjadi pada masa sebelumnya.
Dalam al-Muhaddits, ia menghimpun sebanyak 904 riwayat yang diriwayatkan dari sekitar 200 gurunya, dengan sumber riwayat yang dominan, antara lain dari gurunya, Abdullah bin Ahmad bin Ma’dan al-ghaza’i, muhammad bin Abdullah al-Hadrami, dan dari ayahnya Abdullah bin Khallad ar-Ramahurmuzy. Sistem periwayatan yang dikemukakannya menggambarkan bahwa ia memiliki jalur sanad tersendiri dalam hadits dan riwayat lainnya, walaupun ia hidup setelah hadits dibukukan oleh ulama sebelumnya.[4]
  1. Ma’rifat Ulum al-Hadits dan al-Madkhal ila Kitab al-Iklil
Kedua kitab ini adalah adalah karya Imam Hakim An-Naysaburi yang lahir 13 Rabiul Awwal 321 H. Keduanya disusun sebelum menyusun al-Mustadrak. Kitab Ma’rifah adalah karya dalam bidang ulumul hadits yang lengkap dan pemula, sedangkan al-Madkhal hanya berisi penjelasan tentang tingkatan dan kedudukan hadits shahih, kedudukan dan tingkatan orang-orang yang tercela.
Al-Hakim wafat tahun 405 H dapat disebut sebagai tokoh yang memulai penyusunan kitab ulumul hadits secara sistematis dengan ungkapan yang lebih sederhana dibandingkan dengan karya sebelumnya. Karya Al-Hakim dipandang sebagai karya pertama yang menggunakan istilah ulumul hadits dan menjelaskan secara singkat cabang-cabangnya, sebagai perangkat utama bagi orang-orang yang ingin mencari atau belajar hadits.
Dalam susunan penyajian materi, al-Hakim tidak sitematis dan tidak konsisten dalam menjelaskan cabang-cabang ulumul hadits. Artinya, tidak ada kejelasan apakah ia akan menjelaskan terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan sanad kemudian matan, atau sebaliknya. Hal itu tampak dari urutan yang dijelaskannya, terjadi lompatan pembahasan. Sebagai contoh setelah menjelaskan al-jarh watta’dil  ia menjelaskan hadits shahih dan hadits saqim. Kemudian ia menjelaskan fiqh al-hadits, nasikh dan mansukh, al-fazh al-gharibah, kemudian kembali menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan sanad, yaitu hadist masyhur, gharib, dan al-afrad.
Perbedaan signifikan dari karya al-Hakim dengan karya sebelumnya adalah al-Hakim sudah memperkenalkan istilah-istilah yang lebih khusus, baik yang berkenaan dengan riwayat, periwayat, dan keadaan jalur periwayatan, walaupun belum keseluruhan sebagai contoh istilah yang sama sekali belum ada dalam literatur awal adalah tentang defenisi sahabat, tabi’in, riwayat mauquf, mu’dhal,mu’an’an, munqathi’, dan sebagainya. [5]

  1. Kitab-kitab Ulumul Hadits Masa Pertengahan
Periode pertengahan dalam sejarah Islam dimulai sejak pasca keruntuhan Bani Abbasiyah, yaitu sekitar tahun 1254 M. Ciri yang paling populer pada periode ini adalah munculnya sistem pembelajaran lewat madrasah, berbeda dengan masa klasik yang cenderung berpusat pada individu. Oleh karena itu, tidak aneh bila kemunculan setiap karya, khususnya ulumul hadits didasarkan pada keperluan peembelajaran.
Hampir disepakati bahwa awal kesempurnaan penyusunan ulumul hadits ada pada periode ini yang ditunjukkan dengan karya Ibnu
Shalah sebagai muara pertama dalam penyusunan dan pemikiran-pemikirannya tentang ulumul hadits. Oleh sebab itu, Ibnu
Shalah dianggap sebagai orang yang berjasa dalam menyusun metodologi kriti hadits.
Selain Ibnu Shalah, tokoh lain pada periode pertengahan yang menjadi muara penyusunan dan pemikiran ulumul hadits adalah Ibnu Hajar al-Asqolani. Bahkan, dilihat dari segi penyusunannya, karya Ibnu Hajar dianggap sebagai karya yang paling sistematis dan komprehenshif.[6]
1.      Ma’rifah ulum al-Hadits
Lebih populer dengan nama Muqaddiamah Ibni Shalah, dianggap sebagai karya terbesar dalam bidang ulumul hadits sekaligus muara kematangan penyusunan literatur bidang ulumul hadits. Ibnu Shalah menyusun kitabnya atas dasar keperluan-keperluan mengajar di madrasah al-Ashrafiyyah di Damaskus dengan cara mendiktekan kepada penulisnya. Selai itu, kitab ini merupakan sumbangsih Ibnu Shalah terhadap para ahli fiqih dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mereka tentang ulumul hadits.
Sistematika penyusunan kitab ini sangat jelas yaitu langsung membahas persoalan utama yanga ada dalam diskursus al-hadist dan tumjuan dari pengetahuan ulumul hadits yaitu mendapatkan pengetahuan tentang kualitas hadits. Oleh sebab itu, dalam Mukaddimah, 3 bab awal langsung membahas pembagian al-hadits berdasarkan kualitasnya, shahih, hasan, dan dhaif. Sedangkan bab-bab selanjutnya bersifat mengikuti kaidah yang telah digariskan pada 3 persoalan pertama. Hanya saja, sitematika penyusunannya masih tidak konsisten.
Ibnu Shalah dalam kitab ini menawarkan 65 cabang ulumul hadits. Dari ke 65 pembahasan yang ia ungkapkan, bab 1 sampai 3 membahas kualitas al-hadits. Bab 4-8 menjelaskan hal-hgal yang berkaitan dengan penyandaran periwayatan. Bab 9-12 menjelaskan istilah al-hadits yang lemah karena gugur dari segi penyandarannya. Bab 13-14 menjelaskan istilah hadits yang lemah karena keadaan periwayatan dan periwayatnya sekaligus.
Bab 15 menjelaskan i’tibar, bab 16-22 mebahas istilah-istilah yang berkaitan dengan persoalan riwayat yang mengalami masalah pada sanad. Bab 23 sampai 28 menjelaskan kriteria dan kecakapan rawi dalam menerima dan menyampaikan riwayat. Pada bab-bab berikutnya ia membahas segala hal penting seputar ulumul hadits lainnya dengan lengkap.[7]
Mukaddimah Ibnu Shalah ini banyak disyarh oleh para ulama, diantaranya:
1.      Izzuddin Abu Umar Abdul Aziz bin Muhammad bin Jamaah (694-797H). Kitabnya al-Jawahir ash-Sihhah fi Syarhi ulum al-Hadits li Ibni Shalah;
2.      Burhanuddin Abu Ishaq Abu Muhammad ibrahim bin Musa bin Ayyub al-Abnasiy al-Qohiry (725-802 H) Kitabnya as-Syadza al-Fayyah min Ulum Ibni as-Shalah;
3.      Sirajuddin Abu Hafshah Al-Mishri Al-Bulqini (724-805 H) kitabnya Mahasin al-Ishtilah fi Tadmin Kitab Ibni Shalah.
Selain tokoh yang memberikan syarh, ada pula tokoh yang meberi ikhtisar terhadap kitab Ibnu Shalah, yaitu:
1.       Muhyiddin abu Zakariya yahya bin Syarf an-Nawawi (632-676H) kitabnya Irsyad at-thullab al-haqaiq ila Ma’rifat Sunan khair al-Khalaiq saw;
2.      Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi al-Qusyairi al-manfaluti (625-702H) yang dikenal dengan Ibnu Daqieq al-Id. Kitabnya al-Iiktirah fi Bayan al-Isthilah wama Udhifa ila Dzalika min al-Ahadits al-Ma’dudah min as-Shihhah.[8]
2.      Karya-karya Ibnu Hajar al-Asqolani
Karya-karyanya dalam ulumul hadits antara lain al-Ifshah ala Nukat Kitab Ibnu Shalah, Nukhbat al-Fiqh, dan Nuzhat an-Nazhar. Dari ketiga karya itu, 2 karya terakhir adalah referentasi dari pemikiran Ibnu Hajar  Al-Asqolani dalam bidang ini. Ia lahir di Kairo 12 sya’ban 773 H dan wafat 28 Zulhijjah 852 H. Boleh jadi, karya yang ditulis merupakan konsekuensi untuk membuat sesuatu yang baru setelah mengkritik karya-karya yang muncul sebelumnya. Menurutnya karya tersebut masih memiliki kekurangan dalam membuat cabang ulumul hadits atau kurang sempurna dalam penyusunannya, seperti ada yang belum komprehensif, ada yang tidak ringkas bahasanya, dan ada yang belum rapi sistematikanya. Selain itu, keperluan untuk menjadikan karyanya sebagai suatu bahan pembelajaran masih menjadi tujuan dari penyusunan bukunya.
Karya-karya yang muncul sebelum karya Ibnu Hajar hampir sepakat dalam menentukan canbang kajian ulumul hadits. Yaitu 65 cabang atau lebih. Adapun Ibnu hajar menawarkan kurang dari jumlah itu, yakni 57 cabang. Sitematika penyusunan sebelum karya Ibnu Hajar dianggap kurang rapi dan tidak ringkas. Sedangkan Ibnu Hajar memberikan sitematika yang cukup baik dan menggunakan bahasan yang ringkas, lugas, dan padat.
  1. Kitab-Kitab Ulumul hadits Pada Masa Modern
Periode modern dapat dinyatakan diawali oleh Ibnu Taimiyyah yang menyatakan “Terbukanya Pintu Ijtihad”, sebagai awal pembaharuan Islam. Setelah itu berlanjut pada generasi-generasi setelahnya.
Setelah mengalami stagnasi, yakni pada abad kesepuluh sampai awal abad ke empat belas Hijriyah, ulumul hadits mengalami kebangkitan kembaaliu dengaan munculnya karya-karya yang lebih menonjolkan sitematika penyusunan yang sesuai sitem,atika modern. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh konflik Barat dan Timur yang menyentuh tataran teologis.
Pada masa ini, muncul kajian ulumul hadits yang lebih sitematis, lebih ringkas, dan tertata. Terkadang, para penulisnya menitik beratkan pada satu pembahasan tertentu baik yang berkaitan dengan sejarak, kritik matan, nasikh mansukh, atau bantahan terhadap celaan orang yang mencela kedudukan sunnah.[9]
  1. Usul al-Hadits, Ulumuhu wa Mustalahuhu
Karya ini dipersembahkan oleh penulisnya seebagai pelengkap dari karya sebelumnya yaitu as-Sunnah Qobla at-Tadwin. Pengarangnya adalah Muhammad ‘Ajaj al-Khatib. Ia membahas eksistensi as-sunnah. Ia mencoba menjelaskan kaidah-kaidah utama yang berkaitan dengan cara menyikapi eksistensi hadits sehingga dapat memisahkan antara yang diterima dengan yang ditolaknya.
DR. ‘Ajjaj mencoba merumuskan sistematika penyusunan seluruh kaidah dalam Ulumul hadits ke dalam empat bab:
Bab pertama, ia menjelaskan pengantar tentang hal-hal yang berkaitan dengan sunnah yang dibagi dalam lima fasal;
Bab kedua, ia menjelaskan hal-haal yang berkaitan dengan k odifikasi hadits yang memuat tiga pasal;
Bab ketiga, ia menjelaskan ulumul hadits (at-tahammul wal ada, tarikhurruwat, al-jarh wa at-ta’dil, gharib al-hadits, dll);
Bab keempat, ia menjelaskan tentang mushtalah al-hadits berkaitan tentang klasifikasi hadits menjadi shahihn hasan, dan dhaif serta macam-macamnya.
Kitab ini ditutup dengan pembahasan hadits maudhu’, adab dan majelis-majelis riwayat hadits, dan diakhiri dengan penjelasan gelar-gelar para ahli hadits dan karya-karya mereka yang berjumlah 180 kitab.[10]
  1. As-Sunnah An-Nabawiyah mal Mata’in al-Mubtadi’ah Fiha
Kitab ini ditulis oleh DR. Makki As-Syami. Dalam kitab yang aslinya adalah Risalah ad-Dukturah (desertasi) ini, penulis membahas berbagai hal penting seputar Sunnah (hadits) Nabi saw. dalam mukaddimah kitabnya ia menuturkan bahwa pada hari ini semakin lancang menyerah sunnah nabi saw. mereka mengupayakan berbagai metode bid’ah dalam melecehkan atau mencela (atto’nu) sunnah nabi saw. namun, Allah SWT telah menyiapkan para rijal yang siap membela panji-panji as-sunnah.
Dalam kitab ini juga sebelum mengupas bantahan terhadap isu-isu kaum yang mencela kedudukan sunnah/hadits, dikupas terlebih dahulu periodeisasi sunnah sejak masa Rasul saw, hingga saat ini. Pada pembahasan berikutnya, DR. Makki memulai membahas dari sebab musabbab muncul dan menyebarnya hadits palsu. Di antara penyimpangan lain terhadap sunnah seperti beramai-ramainya orientalis mempelajari Islam, sehingga sunnah tidak luput dari penelitian mereka. Sayangnya niat awal mempelajarinya bukan untuk memperkuat ­Hujjiatus Sunnah, malah melakukan at-to’nu atau penilaian negatif terhadapnya.
Perkara yang membuat miris adalah banyak kalangan dari kaum Muslimin pelaku bid’ah kembali mengungkit kehujjahan sunnah dalam Islam. Padahal perkara ini sudah jauh dijawab dengan baik oleh Imam As-Syafi’i. Mereka menolak sunnah dengan berbagai dalih yang semuanya dipatahkan oleh penulis.[11]
  1. As-sunnah wa Makanatuha fit-Tasyri’il Islamy
Kitab ini adalah hasil; jerih payah syaikh mujahid, DR. Mustafa As-Siba’i, ulama asal Siria. Ia disamping seorang da’i, ikut juga berperang membela Palestina atas intruksi Syaikh Hasan Al-Banna. kitab As-sunnah wa Makanatuha fit-Tasyri’ial Islamy adalah satu dari sekian kitab yang dikarang oleh as-Syaikh. Hampir semua bukunya mengedepankan pembelaan terhadap Islam dan memperkuat eksistensinya.
Dalam kitab ini, syaikh As-Siba’i meniatkan untuk menambah khazanah ilmiah di bidang hadits, terutama dalam aspek ad-difa’ anisunnah (pembelaan atas sunnah), di mana pada saat itu para orientalis melakukan serangan yang massif terhadap sunnah. Beliau ingin menitipkan saham dalam Islam, bukan hanya dengan berjihad melalui pena bahkan berjibaku mempertaruhkan nyawa.
Dalam kitab ini ia membeginya ke dalam tiga bab utama.
Bab pertama, ia menulis tentang makna as-sunnah, penukilannya, dan kodifikasinya. Dalam bab ini beliau membagi menjadi 4 pasal.
Pasal pertam: defenisi sunnah dana peran sahabat dalam sunnah;
Pasal kedua: munculnya pemalsuan hadits, kapan dan di mana tersebarnya;
Pasal ketiga: perjuangan para ulama untuk mensucikan sunnah dari virus daif dan palsu;
Pasal keempat: hasil jerih payah ulama terhadap sunnah.
Adapun dalam bab kedua ia membahas isu-isu yang menimpa sunnah Nabi berupa syubhat
Pasal pertama: sunnah nabi dalam kaca mata Syiah;
Pasal kedua: sunnah nabi dalam kaca mata Khawari;j
Pasal ketiga: sunnah nabi dalam kaca mata orang yang mengingkari kehujjahan sunnah di masa lalu;
Pasal keempat: sunnah nabi dalam kaca mata orang yang mengingkarinya di masa kini
Pasal keempat: sunnah nabi dalam kaca mata orang yang mengingkari khabar ahad;
Pasal kelima: sunnah nabi dalam kaca mata orientalis;
Pasal ke enam: sunnah nabi dalam kaca mata para penulis masa kini.
Dalam bab ketiga, DR. As-Siba’i menulis tentang kedudukan sunnah dalam syariat Islam. Ia membaginya dalam 3 pasal.
Pertama, kedudukan sunnah di sisi Al-Qur’an
Kedua, kandungan Al-Qur’an dalam sunnah
Ketiga, nasakh sunnah oleh Al-Qur’an atau sebaliknya.
Dalam khotimahnya, ia menutup dengan menulis sekilas tentang Imam mazhab yang empat, Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Da’ud, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah.[12]
  1. Al-Manhaj al-Hadits fi Ulumi al-Hadits
Kitab ini adalah referensi Kulliah Syariah Universitas Malaya malaysia. Kitab ini adalah buah pena Prof. DR. Syaraf Mahmud Qudhat. Membahas berbagai kajian dalam ulumil hadits dengan cukup komprehenshif tanpa bertele-tele. Dalam mukaddimah kitabnya, Prof. Syaraf menulis manhaj/metode penulisannya yaitu:
1.      Mengulang urutan judul peembahasan secara bersambung dan  sistematis agar mempermudah para pelajar;
2.      Meneliti kembali beberapa defenisi agar lebih singkat dan padat serta lebih mendalam;
3.      Kitab dihajatkan bisa dimanfaatkan oleh semua jenjang studi, terutama di tahun pertama kuliyah syariah  sehingga cukup dipelajari dalam satu semester. Dibuatlah kitab ini tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis;
4.      Mengemukakan materi ilmiah dengan cara yang mudah;
5.      Menggunakan wasilah pendukung (seperti kolom-kolom dan daftar-daftar dalam klasifikasi hadits);
6.      Menuliskan harakat pada semua kalimat tanpa terkecuali, agar mempermudah para pelajar, terutama bangsa ajam. [13]
  1. Al-Manhal al-Laatif fi Usuli al-Hadits as-Syarif
Penulis kitab berharga ini adalah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Menurut silsilah ia termasuk zurriyat (keturunan) Rasul saw dari jalur Imam Hasan ra. Kitab ini adalah syarh dari kutaib beliau dalam ulumul hadits yaitu, al-Qowa’idu al-Asasiah fi Ilmi Mustalahi al-Hadits. Penulisnya terkenal ahli dalam berbagai bidang keislaman. Ia terkenal sebagai muhaddits, mu’arrikh (ahli sejarah), faqih, dan muhaqqiq. Memiliki sanad-sanad hadits yang bersambung sampai datuknya, Rasul saw. Di usia yang ke 25, ia memperoleh gelar Doktor dari Universitas Al-Azhar Mesir. Di usia ke 27, digelari Profesor oleh Universitas Ummul Qurro’ Makkah.
Dalam kitab al-Manhal ini, pembahasan beliau tidak jauh berbeda dengan kitab ulumul hadits kontempeore lainnya. Berbeda dengan metode klasik tentunya, kitab ulumul hadits modern lebih rapi urutan pembahasannya dan lebih sistematik, sehingga memudahkan bagi pelajar yang menggeluti ilmu hadits.
Kajian seperti kehujjahan hadits atau sunnah nabi, kedudukannya dalam Islam, pembahasan ilmu hadits, sejarah dan perkembangannya, klasifikasi hadits shahih, hasan, serta macam-macam hadits dhaif, semua itu ditulis singkat, padat, dan runut. Di samping itu, ia mengupas tentang hadits palsu, bagaimana mendudukkan hadits yang zhahirnya kontradiksi satu sama lain, dan adab-adab para penuntut ilmu hadits.
Pada bab ketiga, ia membahas tentang sahabat, tabaqat-tabaqatnya, keadilannya, dan profil beberapa sahabat yang banyak meriwayatkan hadits. Dalam bab ini ia mengakhiri dengan membahas para Tabi’in.
Dalam bab keenam, ia menulis tentang para imam ahli hadits setelah masa tabi’in beserta karya-karya yang dihasilkan oleh mereka. Dan pada penutup kitab ini, ia mengulas singkat tentang motivasi para orientalis menggeluti kajian hadits nabi saw.[14]




PENUTUP

Ilmu hadist Nabi saw, adalah buah karya yang sangat berharga dari ilmuan Muslim dari dulu hingga kini. Ilmu ini sampai ke tangan kita dengan jalur yang sangat ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada ilmu yang bersanad dan valid serta tersusun rapi seperti ilmu ini dalam Islam. Sehingga dikatakan ilmu ini adalah satu di antara sekian banyak warisan ummat islam yang berharga. Begitu banyak kitab-kitab karya para ulama yang pada saat ini dapat kita rengkuh dan dalami betapa luasnya ilmu-ilmu Islam itu, terutama dalam kajian ulumul hadits.
Sesungguhnya setiap karya manusia memiliki kekurangan. Betapapun ia dipuji, diberikan rekomendasi untuk dibaca, bahkan dikatakan WAJIB DIMILIKI sekalipun, pasti ada celanya. Sehingga pas sekali dengan kata pepatah, “Tidak ada gading yang tak retak”.
Kitab-kitab ulumul hadits dari dulu hingga kini akan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Apa yang luput dalam pembahasan ulama klasik, telah ditambahkan oleh ulama zaman pertengahan. Adapun ulama kontemporer saat ini telah menjadikan kitab-kitab terdahulu menjadi lebih ringkas, sistematis,dan makin mudah dipahami.
Wallohu A’lamu bis Shawab





[1] Muhammad bin Alwi al-Maliki, al-Minhaj al-Lahif  fi Ushuli al-Hadits as-Syarif, (tanpa tempat dan penerbit: 1421 H) hal. 5.
[2] Muhammad Dede Rudliyana, Perkembangan Pemikiran Ulum Al-Hadits: dari Klasik sampai Modern, (Bandung:Pustaka Setia,2004), hal. 60.
[3] Muhammad Muhammad Abu Zahwa, al-Hadits wal Muhadditsun, (Beirut: Darul Kutubil Arabi,1404), hal.490.
[4]Ibid, hal. 37-38.
[5] Ibid, hal. 43-46
[6] Idem, hal.63.
[7] Ibid, hal.64
[8] Muhammad Muhammad Abu Zahwa, Op.Cit, hal.493.

[9] Dede Rudiyana,Op.cit, hal.101
[10] ‘Ajjaj Al-Khotib, Ushul al-Hadits ulumuhu wa Mustolahuhu, (Lebanon, Darul Fikr:2006) lihat daftar isi

[11] Makki Syami, as-Sunnah an-Nabawiyah wa Mata’inu al-Mubtadi’ah fiha, (Amman:Darul Imar,1999) hal.9
[12] Mustafa As-Siba’i,As-Sunnah wa makanatuha fi at-tasyri’il islami, (Kairo:Daru Salam,1429) lihat daftar isi

[13] Syaraf mahmud Qudhath, al-manhaj al-Hadits fi ulumil hadits (Kualalumpur:Dar at_tajdid, 2003) hal. 9.
[14] Muhammad bin Alwi al-maliki, al-minhaj al-tahif fi Ushuli al-Hadits as-Syarif, (tanpa tempat dan penerbit:1421 H)  lihat daftar isi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kedatangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke Lombok

KISAH AJAIB PEMAKAMAN TGH. AHMAD IZZUDDIN HABIB MISPALAH

PENUTUR : AL-USTADZ SYAMSUL WATHANI, QH (PENDIDIK DI PP DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA)

Menjelang beberapa bulan menjelang wafatnya, beliau sempat mengisi majelis taklim binaan beliau di masjid Nurul Iman Mispalah Praya. Itu sebagai pengajian perpisahan dengan jamaah beliau. Tema yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang keadaan kematian orang-orang sholeh. Kata beliau dalam pengajiannya, “Orang-orang yang sholeh jika meninggal dunia akan tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt di mana saja dia meninggal, entah di darat, di lautan, walaupun jasadnya tenggelam dalam laut, tetap akan dimuliakan oleh Alloh swt. Walaupun tidak dikuburkan sebagaimana layaknya orang mati di daratan, dia tetap dimuliakan oleh Alloh swt, berkat kesholehannya. Maka para jamaah, jika plungguh sami menghadiri pemakaman orang orang sholeh, mungkin kebetulan saat musim hujan atau memang tanah pekuburannya banyak mengandung air, terus plungguh sami melihat banyak air di dalam kuburan orang tersebut, maka kita tida…

BIOGRAFI SYEIKH RAHMATULLAH Al-HINDI (PENDIRI MADRASAH LEGENDARIS AS-SHAULATIYAH MAKKAH AL-MUKARRAMAH)

Oleh: Husein Zaenal Muttakin, Lc., M.Pd.I BAB I
A.     Pendahuluaan Kondisi keagamaan  India pada abad 19 M sangat buruk.Kemunkaran dan kemaksiatan menyebar luas.Banyak sekali  fatwa-fatwa  dari para ulama yang jauh dari kebenaran, bahkan sampai ada yang berfatwa gugurnya kewajiban ibadah haji.Para pelajar banyak dirancuni oleh pemikiran barat sehingga mereka menganggap para ulama sebagai kaum yang jumud dan ketinggalan jaman.[1] Gerakan kristenisasi di India sangat gencar.Pada tahun 1792 M untuk pertama kali didirikan Lembaga Misi Kristen Protestan,kemudian pada tahun 1795 didirikan Organisasi Misi Kristen London dan pada Tahun 1799 didirikan Organisasi Misi Kristen  Gereja Inggris.[2] Sebelum memasuki awal abad ke 19 M, rombongan para misionaris dengan resmi dan teratur di kirimkan ke India  oleh Pemerintah Inggris, bahkan perusahaan-perusahaan dagang Inggris yang di India, disamping mendanai misi itu mereka memberikan hak istimewa kepada para misionaris itu. Untuk upaya…